Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #60

Chapter 60

Seminggu kemudian, hari sabtu sore dan malam, di rumah gedebang. Sherin dan Rezza open house untuk tetangga sekitar. Rezza yang di-invite dalam grup satu RT perumahan tersebut mengundang semua warga untuk hadir dan berkenalan dengan Rezza serta Sherin.

Mereka kaget beberapa tetangga ada orang terkenal mulai dari artis, influencer, dan anak pejabat yang juga dikenal orang banyak. Rezza dan Sherin bahagia sekali hari itu, semua orang datang memberi banyak hal positif mulai dari bawakan makanan, kue, snack, sampai membawakan hadiah untuk Rezza dan Sherin. Ternyata di lingkungan itu positive vibes sekali. Semua orang akui sudah jadi tradisi apabila ada warga baru yang datang, mereka akan sangat welcome. Rezza dan Sherin pun merasa terhormat sekali bertemu mereka semua.


Hari sabtu belum untuk keluarga datang, akan dibuat keesokan harinya, hari minggu. Tapi orang tua Sherin, Om Arwin dan Tante Rani tak sabar untuk ke sana. Mereka datang diantar driver Om Arwin yaitu Pak Agus untuk mampir sekaligus berkenalan dengan tetangga-tetangga. Kebetulan sekali beberapa tetangga yang merupakan anak pejabat ternyata ada yang kenal dengan Om Arwin juga.

"Siang pak.." Pak Pardi menyapa di depan gerbang pukul 13.21.

"Siang.. Kami orang tuanya Sherin." Om Arwin menyapa Pak Pardi membuka kaca.

"Oh Pak Arwin dan Bu Rani ya? Salam kenal saya Pardi, yang jaga rumah ini."

"Oh iya salam kenal Pak Pardi.." Om Arwin jawab, Tante Rani senyum.

"Silahkan masuk pak, bu.. Nanti mobil parkir di basement boleh, parkir di halaman depan juga boleh. Bebas.."

"Oh oke, kami masuk dulu ya pak.." Om Arwin jawab.

"Silahkan pak, buk.." Pak Pardi senyum ramah. Mobil Vellfire hitam itu menanjak ke depan pintu rumah Rezza dan Sherin, Pak Agus berhentikan tepat di depan pintu.

"Masya Allah pahh.. Gede banget rumahnya." Tante Rani tercengang.

"Iya mah.. Ini lebih gede dari rumah kita." Om Arwin setuju. Pak Agus pun terbengong, seharusnya dia pencet tombol buka pintu sliding door baris kedua.

"Agus, kita turun dulu ya. Parkir di depan situ atau di basement boleh." Om Arwin berkata.

"Eh iya pak, maaf saya lupa bukain." Pak Agus tersadar dari lamunannya.

"Haha iya gapapa.." Om Arwin turun dari mobil, Tante Rani menyusul.


Kak Vina, Bang Syahrul, Alsya, dan Arshad juga mampir karena penasaran dengan rumah baru Rezza dan Sherin. Mereka datang dari siang sebelum Om Arwin dan Tante Rani tiba.

"Assalamualaikumm.." Kak Vina dan Bang Syahrul masuk dari pintu depan.

"Waalaikumsalam kakk.." Rezza berdiri dari sofa. Ruangan itu diperluas dengan meminggirkan semua perabotan termasuk sofa dan meja. Semua sofa dan meja dipepetkan ke tembok agar di tengahnya bisa digelar karpet untuk duduk orang banyak.

"Ya Allah gede banget Za rumahnya.." Kak Vina mendekat ke Rezza sambil kepalanya menengok ke semua sudut rumah. Alsya lari ke arah Rezza.

"Ommmm.." Alsya minta dipeluk.

"Haii Alsya ponakan om paling cantiikk.." Rezza menggendong Alsya sambil dipeluk.

"Ini rumah o om?"

"Eh iya Alsya, ini rumah Oma Kirana. Diwariskan ke Om Rezza. Bagus ya? Ada kolam renang tuh di belakang.." Rezza memutar badannya. Sherin keluar dari kamar..

"Haii kakk.. Bang.." Sherin menyapa Kak Vina dan Bang Syahrul yang berjalan pelan sambil matanya melihat ke sekeliling.

"Hai Sherin.. Gimana rasanya tinggal di rumah segede gini?" Kak Vina mendekat lalu Sherin cipika cipiki. Rezza sibuk sekali menggendong Alsya di tangan kiri, merangkul pinggang Sherin di tangan kanan.

"Capek kakk.. Kita sampe pake dua ART biar gak kasian Mbak Ani beberes."

"Hehhh gak boleh mengeluh sayangg.. Kita harus bersyukur.." Rezza mengingatkan sambil mengelus pundak Sherin.

"Hehe iya mas.. Hai Alsya. Mau tante gendong gak?" Sherin ngide.

"Eh gausah, kamu udah segede gitu perutnya gendong Alsya gak lucu ya." Rezza parno.

"Apa sih dek? Jangan lebay deh.. Dulu kakak hamil gede sambil gendong Alsya gapapa."

"Ya kan dulu Alsya masih cimit kakk.. Sekarang Alsya segede gini, aku aja gemeter ini gendong satu tangan." Rezza mengeluh. Semua tertawa.

"Yaudah sini cium tante dulu Alsya.." Sherin mencium Alsya yang digendong Rezza.

"Aku mau berenang tante.." Alsya repot.

"Ih nanti dulu kakakk.. Masih panas lho.." Kak Vina mengingatkan.

"Eh bisa di-retract sih kak ada kaya kanopinya gitu. Alsya mau langsung berenang? Gapapa sebelum rame orang nanti.." Rezza ngide.

"Yaudah, papanya mau nemenin gak tuh? Masa Rezza nemenin nyemplung. Nanti ada tamu." Kak Vina merasa bersalah.

"Yaudah abang ambil baju bersih dulu yaa. Kakak Alsya tunggu dulu jangan nyebur dulu ya.."

"Okay papa.."

"Arshad juga mau?" Rezza ngide.

"Om udah siapin ban untuk kamu lho itu.. Balon pelampung biar kamu gak tenggelem.." Rezza tunjuk beberapa ban pelampung warna-warni di pinggir kolam renang.

"Mau om.." Arshad jawab malu-malu sambil digendong Kak Vina.

"Yaudah nanti sama papa ya sekalian. Om mau ada tamu gabisa nemenin.."

"Iya om.."

"Eh ini ada kue-kue ya buat dihidang." Kak Vina bawa bungkusan.

"Ya ampun kak, repot-repot segala.." Sherin merasa tak enak.

"Udah gapapa. Ini juga kesukaannya Rezza. Lupis dari Benhil. Pasti dia doyan." Kak Vina meledek.

"Emang iya mas? Aku kok gatau kamu suka lupis?" Sherin heran.

"Kan kamu taunya aku sukanya kamu." Rezza gombal.

"Ihhh gomball.. Malu diliat Alsya ih." Sherin ngambek manja. Rezza dan Kak Vina senyum-senyum.


Beberapa menit kemudian Rezza, Kak Vina, dan Sherin duduk di sofa sambil memandang anak-anak gemas itu main di kolam renang.

"Za, Sher.."

"Iya kak?"

"Kalian happy banget pasti ya?"

"Hmm blessing in disguise sih kak. Aku seneng tapi di sisi lain sedih. Sedih karena mama papa gak pernah menikmati ini. Padahal ini semua juga berkat mama. Berkat papa." Rezza mellow.

"Iya.. Yang penting kamu dek.. Sher.. Kalian tiap kali abis sholat jangan pernah lupa doakan orang tua kalian, orang tua kita. Itu setidaknya yang bisa kita lakukan sekarang."

"Iya kak.. Makasih ya udah ngingetin." Sherin terharu sambil menyandar di bahu Rezza.

"Assalamualaikum.." Om Arwin dan Tante Rani tiba.

"Waalaikumsalam papa.. Mama.." Sherin berdiri, Rezza memegangi.

"Haii anak-anak mama.. Vina apa kabar?" Tante Rani cipika cipiki Kak Vina yang paling dekat posisinya.

"Baik tante Alhamdulillah, tante sama om gimana kabarnya?"

"Tante happy sekali hari ini. Pasti anak tante yang satu ini lagi happy kan.." Tante Rani memeluk Sherin.

"Iya mahh.. makasih ya udah mampir hari ini, padahal besok ke sini lagi. Mama papa gamau nginep aja?" Sherin tanya.

"Nggak lah, kan nanti malam ada acara sama tetangga kan. Gaenak kami."

"Ya gapapa mah.. Kan pasti kita kenalin juga.." Rezza menyetujui.

"Gapapa Rezza. Kita juga sampe sore aja paling, mau liat-liat aja, kalo besok kan rame." Om Arwin jelaskan.

"Iya sih. Yaudah duduk-duduk pah silahkan mah.." Rezza persilahkan.

"Ini papa mama bawain kue buat nambah-nambahin nanti malam kumpul tetangga."

"Yaampun mama, Kak Vina bawa camilan, mama bawa kue, lama-lama yang gembul bukan aku doang ini. Mas Rezza juga jadi gembul lagi kaya dulu." Sherin meledek. Semua tertawa.

"Oh itu anak-anak lagi berenang Vina? Astaga seru sekali.." Om Arwin melihat ke arah kolam.

"Halo om, tante.." Bang Syahrul menyapa.

"Iya Syahrul.. Gak panas siang-siang?" Om Arwin tanya.

"Aman pah.. Ada kanopinya tuh bisa di-retract." Sherin jelaskan, Om Arwin lihat ke atas kolam renang itu.

"Wah mewah sekali ya..

Hmm Rezza.."

"Iya pah?"

"Maaf ya papa dulu pernah meng-underestimate kamu." Om Arwin mendadak merasa bersalah.

"Pah.. Gausah dibahas ya.. Aku sudah memaafkan kok dari sejak dulu. Yang penting kita semua di sini dengan situasi yang nyaman, damai, tidak ada kekurangan kecuali orang tua aku yang sudah mendahului kita. Yaudah kita cuma bisa bersyukur kan.." Rezza bijak. Sherin tersentuh sekali melihat Rezza segitu hormatnya pada orang tuanya.

"Makasih ya mas.. Kamu laki-laki yang baik sekali.." Sherin memuji.

"Iya kan kamu juga baik, makanya jodohnya aku.." Rezza gombal.

"Ihhh males deh kalo mulai gombal.." Sherin protes, semuanya tertawa.


"Pak Buk.. Kak Vina.. Ini minuman sama kue lupisnya ya.." Mbak Ani datang membawakan satu nampan. Mbak Yuli di belakangnya menunggu.

"Eh Ani.. Makasih ya, oh ya sama ini kue minta tolong dihidang ya buat tamu nanti."

"Eh iya buk siap.."

"Oh iya mah ini Mbak Yuli yang dari penyalur mama juga. Belum ketemu kan mamah?" Sherin tanya.

"Oh iya Yuli ya? Saya Rani, mamanya Sherin. Ini papanya Sherin."

"Eh iya bu salam kenal. Aku Yuli.." Mbak Yuli tersenyum sambil menaruh beberapa piring kecil untuk menyantap kue lupis yang nikmat itu.

"Silahkan om tante, ini tadi aku beli buat Rezza. Dulu Rezza dari kecil suka sekali kue lupis ini. Suka dibeliin sama Tante Kirana kalau lagi ke Benhil.." Kak Vina jelaskan.

"Oh ini yang di Benhil ya? Mama juga suka ini, tapi jarang beli langsung sih kadang nitip."

"Ohh sama berarti mahh.. Tuh sayang, mama kamu aja kesukaannya sama sama aku.." Rezza gombal lagi. Sherin geleng-geleng tersenyum. Siang itu pun rasanya hangat dan penuh kasih antara dua keluarga yang bersatu dalam pernikahan Rezza dan Sherin.


Alsya dan Arshad happy sekali bisa bermain di kolam renang. Bang Syahrul kerepotan sendiri harus menemani masuk ke kolam renang yang dalamnya sekitar 1,5 meter itu. Menjaga anak-anaknya tak sampai tenggelam.

Tante Rani, Kak Vina, dan Om Arwin berkeliling melihat-lihat rumah itu lebih dekat sambil berdzikir membantu membawa energi positif ke rumah yang akan menjadi rumah masa depan Sherin, Rezza dan anak-anak mereka.

Rezza dan Sherin merasakan momen itu bahagia sekaligus mengharukan.


Malamnya di waktu ba'da Isya, hadir seorang tokoh yang religius di lingkungan tersebut. Sherin dan Rezza meminta beliau memberikan Tausiyah singkat sekaligus memimpin doa bersama.

Tetangga yang sudah hadir siangnya pun ada yang datang lagi malam harinya saking excited-nya mereka menyambut Sherin dan Rezza menjadi tetangga baru.

Di sana juga ketambahan satu orang ART. Namanya Mbak Yuli yang tadi dikenalkan ke Tante Rani. Mbak Yuli masih dari satu penyalur dengan Mbak Ani. Mbak Yuli membantu Mbak Ani karena rumah ini empat bahkan hampir lima kali lebih besar dari rumah Kemang Timur sehingga Sherin dan Rezza merasa perlu tambahan tenaga. Pak Pardi tugasnya menjaga gerbang sekaligus sebagai tukang. Bebersih kebun, perbaikan taman, ledeng, air, bersih-bersih kolam renang dan halaman itu tanggung jawab Pak Pardi. Di dekat gerbang pagar juga ada semacam pos keamanan yang menjadi pos untuk Pak Pardi setiap siang hingga malam. Pak Pardi juga diminta untuk tinggal di rumah itu saja, kebetulan ada satu kamar kosong di basement yang bisa ditempati. Sherin dan Rezza hanya ingin agar Pak Pardi tidak keluar biaya untuk bayar kos tiap bulan. Pak Pardi pun setuju, selain itu Pak Pardi sudah dikenal dekat oleh beberapa warga sana.


Tak terasa sudah pukul 19.28

Beberapa tetangga hadir untuk ikut doa bersama di rumah itu. Mereka sebagian shalat Isya bersama, sebagian datang agak telat karena sudah shalat Isya di rumah. Sebagian lagi ada yang tidak shalat karena halangan ataupun karena bukan muslim. Sherin dan Rezza sudah berganti baju setelah jam 5 sore tadi orang tua Sherin serta Kak Vina dan Bang Syahrul pamit pulang.

Tausiyah pun dimulai oleh seorang bapak usia 50 tahunan tapi badan dan wajahnya nampak awet muda. Ia bernama Pak Muchlis yang merupakan salah satu warga terlama di sana. Sejak ia berusia belasan tahun, beliau tinggal di sana ikut orang tuanya yang merantau ke Jakarta. Saat ini Pak Muchlis yang pernah beberapa kali berhaji menjadi tokoh masyarakat setempat sekaligus ketua RT di sana.

"Jadi untuk Pak Rezza dan Ibu Sherin, kami ucapkan sekali lagi selamat datang di lingkungan ini. Saya mewakili rekan-rekan dari RT 07, RW 05 Kelurahan Bangka, Kemang Selatan, berterima kasih atas undangannya untuk menggelar acara syukuran malam hari ini. Mohon maaf kalau tidak bisa semua untuk hadir. Pasti kami juga punya kesibukan masing-masing. Demikian lah Tausiyah singkat yang saya bisa berikan. Tidak ada maksud menggurui, tidak ada maksud menyakiti hati perasaan siapapun yang mendengarkan obrolan singkat dari saya. Untuk itu, kami sudahi sesi Tausiyah malam ini. Jika ada yang kurang berkenan, mohon maaf sekiranya menyakiti perasaan bapak atau ibu, saya mohon dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya. Mari kita membaca Al-Fatihah sebelum menutup pertemuan kita malam hari ini. Dan silahkan bagi yang beragama lain, disesuaikan dengan cara kepercayaan masing-masing. Berdoa, dimulai.."

Mereka berdoa bergumam masing-masing. Sherin dan Rezza saling berseberangan duduknya karena bapak-bapak dan ibu-ibu dipisah selama sesi Tausiyah tersebut. Sesekali Rezza melirik ke arah Sherin memastikan istrinya nyaman duduk di lantai, di atas karpet mewah itu. Berdoa pun selesai.

"Demikian Tausiyah dari saya.. Saya tutup ya.. Selamat malam.. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.."

"Waalaikumsalam.." semua lainnya menjawab.

"Baik, terima kasih banyak Bapak Muchlis atas kesediaannya memimpin doa serta beri Tausiyah singkat. Saya mewakili istri dan calon anak kami di kandungan, mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk Bapak Muchlis, lalu bapak-bapak ibu-ibu dari RT 07, RW 05, atas kesediannya untuk hadir di sini. Saya juga mohon bantu doanya agar istri saya dilancarkan kehamilannya yang saat ini menginjak usia tujuh bulan.."

"AAMIIINN.." semua orang berseru semangat.

"Baik kalau begitu saya izin tutup, silahkan bapak dan ibu menikmati hidangan seadanya yang kami sediakan. Kami juga siapkan beberapa stand camilan di samping bisa sambil duduk-duduk santai ya bu, pak semuanya.. Mau berenang juga silahkan. Tadi saya janjian sama Pak Robert dan Mas Akhsan mau main badminton di depan. Yang mau join silahkan ya, pendaftaran masih dibuka.." Rezza asbun melucu random.

Semua tertawa..

"Silahkan menikmati waktu bersama di rumah kami yang sederhana ini ya pak buk.. Mohon maaf kalau ada kekurangan atau yang kurang berkenan, saya beserta istri mohon dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT dan Andra and the Backbone.." Rezza asbun lagi. Bapak-bapak tertawa terbahak-bahak. Sherin pun mulai malu melihat suaminya kini yang begitu fasih mengeluarkan jokes bapack-bapack..

"Baik kalau gitu saya tutup, wabilllahi taufik wal hidayah.. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.." Rezza menutup pidato singkatnya yang absurd itu.

"Waalaikumsalam.." semua menyaut. Rezza membantu Sherin untuk berdiri dari duduknya di lantai. Semua orang melihat dan tersenyum senang melihat pasangan yang sudah tak muda itu tapi sangat sweet dan romantis. Beberapa tetangga juga mendekat ke mereka, mengajak chit-chat santai hingga obrolan agak serius terkait kesibukan, kondisi kandungan Sherin, sampai pertanyaan yang Rezza pun bingung menjawabnya seperti apa kenal dengan pemilik sebelumnya. Ternyata pemilik rumah itu sebelumnya juga salah satu tokoh lama di lingkungan itu, saat ini beliau sudah kembali ke kampung halamannya di Manado, Sulawesi Utara.

Sekitar 1 jam berlalu, Rezza kelelahan sehabis bermain bulu tangkis di halaman depan rumahnya. Sherin sudah mulai merasa mengantuk sedari tadi ngobrol bersama tetangga-tetangganya, terkhusus ibu-ibu. Sebagian sudah pulang dari tadi, sebagian lagi masih di sana tapi bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.

Begitu Rezza masuk ke dalam rumah, mereka semua pamit satu persatu.

"Mas Rezza, Mbak Sherin.. Sudah mau jam 9 malam kami sudah ya, mau pulang dulu.." salah satu ibu-ibu yang paling vocal sedari tadi membuka suara.

"Iya mbak, mas.. Biar kalian bisa istirahat. Kan besok pagi ada acara lagi ya sama keluarga."

"Eh iya bu.. Pak.. Makasih yaa.. Kita aman kok memang sudah prepare untuk minggu ini hehe." Rezza jelaskan, Sherin mengangguk setuju padahal ngantuknya makin tak tertahankan.

"Iyaa nanti kapan-kapan kami mampir lagi deh ya.." seorang ibu-ibu mendahului untuk bersalaman dengan Sherin dan Rezza.

"Makasih ya bu.. Pak.. Sudah mau datang.." Rezza dan Sherin berterima kasih kepada semuanya satu persatu.

Rumah gedebang pun mulai sepi, sisa pegawai katering total ada empat orang laki-laki dan satu orang perempuan yang sedang beberes piring kotor dan wadah penghangat yang sudah kosong sisa sedikit sekali. Beberapa barang ditinggal karena besok pagi mereka datang lagi.

Mbak Ani dan Mbak Yuli juga sambil beberes membenahi piring dan gelas kotor kepunyaan mereka. Dilanjutkan dengan mem-vacuum karpet serta sofa agar besok pagi sudah siap menerima tamu yang lebih banyak dan lebih seru lagi acaranya. Pak Pardi pun memastikan semua orang warga sekitar yang diundang sudah pulang, menutup pagar lalu masuk ke dalam menanyakan apa yang bisa dibantu.

"Sudah Mas Rezza, Mbak Sherin kalo mau istirahat ndak apa-apa.. Kami bentar lagi juga beres kok. Mobil katering pulang, Pak Pardi kunci gerbang, udah deh tinggal tidur." Mbak Ani memastikan.

"Beneran mbak? Aku gak tega lho kerasanya masih berantakan ini rumah." Sherin sambil membantu beberapa piring berisi sisa-sisa kue yang dipisahkan ke dalam wadah plastik untuk Mbak Ani, Mbak Yuli, dan Pak Pardi. Rezza juga sibuk mondar-mandir memastikan bagian luar sudah bersih karena Rezza tak mau besok pagi halaman depan ada sisa-sisa sampah acara malam itu.

"Sayanggg.. Udah kamu tidur gihh nanti kecapekan. Besok kita masih ada acara lho jam 7 adek-adek panti asuhan datang.." Rezza memanggil Sherin yang sibuk di kitchen table.

"Iyaa masku.. Ini dikit lagi udah kok.." Sherin menjawab manja. Beberapa sisa kue sudah selesai dimasukkan ke wadah plastik untuk dibagikan ke Mbak Ani, Mbak Yuli, Pak Pardi serta pegawai katering di luar yang bersiap untuk pulang.

"Ayok sini. Nakal kalo gak dipaksa masih ngeyel deh kamu.." Rezza menggandeng tangan Sherin.

"Mbak Ani, Mbak Yuli itu nanti titip piring kotornya yaa maap.." Sherin mengoceh dikit. Rezza tak perduli ia ajak masuk Sherin ke kamar.

"Iyaa mbak tenang aja." Mbak Ani menyaut, Mbak Yuli senyum-senyum melihat kejadian gemas itu. Rezza masuk ke kamar dengan menggandeng Sherin erat. Rezza tutup pintu lalu dikuncinya.

"Bandel ya kamu, masih ngeyel dibilangin.. Sini aku gendong.." Rezza menggendong Sherin yang sudah semakin membesar perutnya.

"Maaasss ihh ngapain sihh gendong-gendong segalaaa..." Sherin berontak manja. Rezza membawanya ke kamar mandi. Tadi Rezza sudah menyalakan air panas di bathtub untuk Sherin mandi di sana. Diceburkannya Sherin ke bathtub yang terisi setengah itu.

"Ih masa aku diceburin begini sih emang aku anak bayi!" Sherin protes.

"Iya kan kamu mengandung bayi.. Udah mandi dulu sayang.. Ini sabunnya.." Rezza berikan sabun cair di botol dari sebuah wadah di westafel.

"Yaudah kamu sini mandi juga.." Sherin menarik tangan Rezza. Mereka pun menutup hari itu dengan mandi bersama.


04.43 | Rezza membangunkan Sherin untuk shalat Subuh bersama.

"Morning.. Sayang.." Rezza mengelus lembut tangan Sherin.

"HHmmm.." Sherin berusaha sadar dari tidurnya, Sherin tidur menyamping membelakangi Rezza.

"Bangun yuk. Subuhan bareng aku.." Rezza dengan lembut sekali membisik.

"Mass.." Sherin meringis sambil terpejam.

"Iya sayang? Kenapa?" Rezza agak panik.

"Badan aku pegel-pegel rasanya.."

"Ya ampun.. Yaudah sini aku bantu ya.." Rezza inisiatif berdiri lalu perlahan membangunkan Sherin dari posisi rebah.

"Awww.. Pinggang aku ngilu.." Sherin nampak meringis kesakitan saat mau duduk.

"Aduh maaf-maaf sayang. Yaudah aku ambil kursi roda di samping ya. Pake kursi aja gapapa."

"Iya mas.." Sherin mengernyitkan wajahnya merasa badannya sakit sekali.

"Ini sayang.. Sini pelan-pelan." Rezza duduk di sebelah Sherin. Tubuhnya menopang badan Sherin perlahan. Sangat pelan dan lembut Rezza perlakukan Sherin seperti itu. Sherin perlahan membuka matanya, sambil meringis ia menatap wajah Rezza yang nampak cemas namun tetap act of service. Batin Sherin tersentuh melihat suaminya begitu telaten memperlakukannya.

Lihat selengkapnya