Beberapa hari berlalu, rumah gedebang sudah dipasang kamera CCTV yang hanya bisa diakses oleh Rezza dan Sherin melalui ponsel, dan device sejenis PC all in one di kamar utama. CCTV hanya di daerah depan, menyorot ke jalan. Halaman depan, halaman samping kanan, teras kiri dekat pintu masuk utama, ruang tengah, serta basement. Tidak ada CCTV di kamar.
"Sayang.." Rezza menyapa Sherin saat sarapan pagi di hari rabu. Mereka sarapan bersama di ruang makan.
"Iya kenapa mas?"
"Aku mau laporan sama kamu. Aku hire bodyguard, mereka ada dua orang. Ke mana-mana mereka pake motor. Jadi kalo di jalan ada motor yang ngikutin kamu, itu mereka ya. Nanti aku kenalin." Sherin kaget, tapi dia malah bercanda karena Rezza tidak cerita soal Aldi yang datang ke rumah itu tempo hari.
"Hah? Bodyguard? Mas, aku ini cuma direktur perusahaan agensi KOL. Siapa yang mau macem-macem sama aku? Kamu bucin banget sih." Sherin meledek. Rezza berusaha senyum.
"Sayang.. Bentar lagi kamu lahiran. Aku gamau sampe kenapa-kenapa. Kamu tau kan pemotor-pemotor banyak yang aneh-aneh. Kalo kamu lagi nyetir terus disenggol pemotor, mereka ngamuk. Bahaya tau. Aku cuma gamu kamu dan anak kita kenapa-kenapa.."
"Hmmm. Yaudah, aku sih terserah kamu mas. Aku tau kamu bucin banget sama aku.." Sherin masih meledek.
"Iya aku emang bucin. Puas??" Rezza marah gemas. Di hati Sherin mulai agak curiga. Kenapa Rezza sampai segininya? Tapi Sherin juga sedang tidak mau membahas hal macam-macam.
Tanpa diketahui Rezza dan Sherin, dua orang detektif swasta yang tak mau ditemui tatap muka melaporkan melalui chat Telegram ke Rezza. Mereka sudah mengikuti Aldi, dia tinggal di daerah Ragunan, Jakarta Selatan di sebuah rumah di dalam perumahan komplek salah satu kementerian. Dia memang memiliki ayah yang bekerja sebagai PNS di sebuah instansi pemerintahan.
'Pak, saya mau laporan. Target diketahui tinggal di sini.'
Chat dari detektif itu memfoto sebuah rumah, lalu dijelaskan melalui nama jalan hingga nomor rumah. Mereka lalu mengikuti Aldi yang menggunakan motor.
Rezza hanya me-react chat itu tanpa membalas.
Usia kandungan Sherin memasuki bulan ke delapan. Rezza sebisa mungkin selalu berangkat dan pulang bersama. Setiap kali Sherin dan Rezza di luar rumah, ada dua orang bodyguard yang mengikuti dengan jaga jarak. Mereka tidak boleh sampai terlihat oleh orang lain.
Satu ketika, bodyguard itu berpapasan dengan detektif yang mengikuti Aldi seharian. Kebetulan mereka memang saling kenal karena dari satu kenalan yang sama, yaitu Toni. Ini membuat kekhawatiran mereka berempat bahwa Aldi sedang berupaya coba mendekati Sherin.
Rezza sedang meeting dengan klien di kantor. Ia tak bisa sama sekali menemani Sherin pergi-pergi. Beruntung Tyas siap menjaga Sherin ke mana pun, selain itu tugasnya, Tyas juga sudah di-briefing diam-diam oleh Rezza kalau ada orang yang obsesi pada Sherin. Tyas harus lebih waspada. Meski Tyas merasakan ada kekhawatiran setelah di-briefing oleh Rezza itu, tapi ia memastikan ke Rezza kalau Tyas akan siap untuk lebih waspada.
Sherin dan Tyas meeting di kantor salah satu KOL bersama Clarissa dan Sari yang pisah mobil. Waktu menunjukkan 15.54 di daerah Matraman Jakarta Timur.
Dua bodyguard yang berboncengan memantau dari jauh, Sherin turun dari mobil diikuti Tyas yang menyetir mobil ke sana. Mereka masuk ke sebuah ruko di daerah Matraman itu.
"Selamat sore, kami mau bertemu dengan Kak Fitria, sudah janjian." Clarissa bicara dengan resepsionis. Sebetulnya Sherin tak harus ikut. Tapi karena dia di kantor jadi sendiri, lalu Rezza juga sedang ada meeting dengan klien, Sherin tak bisa apa-apa. Dia memilih ikut daripada bosan. Rezza pun kecolongan karena dia sedang sibuk sekali akhir-akhir ini. Rezza beberapa kali terpikir untuk meng-hire Janice kembali membantu K&B yang semakin hari semakin bertambah kliennya. Ia hendak bicarakan ini ke Hendro beberapa hari ke depan rencananya.
"Halo Setara team.. Aku Fitria.." seorang wanita cantik berhijab menyambut Cla, Sherin, Tyas, dan Sari. Tiba-tiba di luar hujan deras. Detektif melihat Aldi tiba tak jauh dari sana pakai ojek online. Ternyata Aldi bertemu dengan beberapa orang yang menggunakan sebuah mobil berjenis Daihatsu Luxio berwarna hitam. Mobil itu terparkir di sebuah ruko kosong tak jauh dari kantor KOL yang didatangi Sherin dan kawan-kawan. Salah satu detektif berusaha turun untuk mencari tahu apa yang direncanakan Aldi dan juga menempelkan sebuah alat pelacak di mobil tersebut.
Hujan semakin menggila, di dalam ruang meeting Sherin pun merasakan petir dan suara hujan bersaut-sautan. Ada kekhawatiran di dalam hatinya teringat kecelakaannya lebih dari sepuluh tahun lalu, Sherin lumayan trauma dengan hujan deras. Di tempat berbeda, Rezza yang sedang di Kemang melihat di jendela hujan mulai turun rintik-rintik. Rezza merasakan feeling yang tak enak mendadak. Rezza call salah satu detektif, ia sedang duduk di bangku pengemudi sebuah mobil Toyota Agya warna silver itu.
'Halo bos.'
'Ada perkembangan apa? Saya baru lihat chat.'
'Saya melihat Aldi bertemu dengan dua orang di dekat lokasi Bu Sherin meeting. Kami masih mencari tahu mereka mau apa.'
'Astaga.. Yaudah kabari saya terus ya. Ini kalian di mana? Bisa shareloc? Saya coba menyusul.'
'Baik pak, ini di daerah Matraman. Saya shareloc titik mobil kami ya.'
'Oke makasih.' Rezza tutup call itu, ia lanjut call bodyguard.
'Iya pak?'
'Sherin aman kan?'
'Aman pak, Bu Sherin sedang di dalam kantor di daerah Matraman.'
'Ya ampun..' Rezza terasa semakin khawatir, ia paham betul bodyguard dan detektif sedang berdekatan, artinya benar-benar ada Aldi di dekat Sherin di sana.
'Saya minta tolong awasi ya.. Orang itu tidak jauh dari sana.'
'Baik pak, kami akan pantau lebih ketat.'
'Yaudah kalau gitu, ada apa-apa kabari saya segera.'
'Baik pak..'
'Iya, makasih.' Rezza tutup call itu lalu bergegas keluar dari kantor usai meeting-nya selesai.
Entah kenapa perasaan Rezza benar-benar tak enak. Rezza melihat shareloc dari detektif tadi, ia segera ke basement, masuk ke dalam mobil. Kebetulan Rezza belum lama ini membeli sebuah mobil 4x4 berjenis Suzuki Jimny 3 pintu berwarna putih dan bergegas menaikinya. Rezza mengarahkan mobil itu ke Matraman, Jakarta Timur.
Ketika cuaca makin deras, Aldi dan tiga orang dengan mobil van itu duduk di dalamnya. Diam-diam si detektif menempelkan pelacak GPS di bagian kolong belakang mobil dekat knalpot. Ia kesulitan mencari tahu apa rencana Aldi.
"Nanti begitu Sherin keluar dari kantor itu, kita gerak. Berhenti tepat di depan mobilnya." Aldi beri arahan.
"Oke siap bro.." yang lain menjawab.
Tak sampai setengah jam kemudian, Sherin dan Tyas keluar dari kantor itu, kantor berbentuk ruko tanpa pengamanan parkir. Sherin yang sedang hamil besar berjalan menuju pintu kiri depan mobil bZ4X Touring yang akan disetiri oleh Tyas, tiba-tiba mobil van berisi Aldi dan kawan-kawannya itu berhenti cepat tepat di depan mobil Sherin. Tak sempat kaget, Sherin tak berkutik ketika dua orang menggunakan tutup kepala turun dari pintu geser lalu menggeret kuat Sherin yang merasakan rintik-rintik air hujan tertiup angin meski di bawah kanopi. Sherin berteriak.
"APA SIH? INI APA??" Sherin berusaha meronta tapi tenaganya kalah dengan dua pria itu.
Tyas panik lalu berlari mencoba menarik tubuh Sherin, tapi ia pun kalah kuat ditambah dorongan dari salah satu pria itu. Tubuh Tyas terjatuh, kakinya terkilir.
"TOLOOONGG!" Tyas berteriak, wajahnya melotot ke arah Sherin yang dipaksa masuk ke mobil van itu. Sherin benar-benar tak mengerti ada apa ini.
"TYAS! YA ALLAH... TOLONGG.." Sherin berteriak sekuat tenaga tapi hujan yang deras meredam itu semua, Clarissa yang baru saja keluar dari pintu dengan Sari kaget lalu berlari ke arah Tyas.
"Ada apa ini?" ia tak ngeh ada mobil van dan Sherin dipaksa masuk di dalamnya.
"MBAK SHERIN!" Tyas menunjuk mobil itu, Clarissa dan Sari coba lari mengejar tapi kalah cepat. Pintu geser ditutup sambil mobil itu tancap gas. Dua detektif coba mengejar dengan mobilnya, bodyguard yang menggunakan motor tak sadar Sherin diculik karena mereka berteduh agak tertutupi dari pantauan kantor klien Sherin itu.
"WOY. Kalian di mana? Ini Buk Sherin diculik!!" salah satu detektif itu call bodyguard.
"HAH? DICULIK?" mereka pun panik lalu tanpa pikir panjang langsung naik ke motor, mereka sempat lihat mobil Agya silver milik detektif itu. Mereka tancap gas mengikuti.
'Pak.. Buk Sherin.' detektif itu call Rezza, yang sudah berada tak jauh dari posisi mereka.
'SHERIN? SHERIN KENAPA?' terdengar kepanikan dari Rezza.
'Bu Sherin diculik pak, ini kita sedang kejar mobil itu. Pakai mobil Luxio hitam plat nomor F 6432 TWL. Saya sudah pasang pelacak di mobil itu, ini saya share link pelacakannya ke bapak.'
'Astaghfirullah..' Rezza lemas, selemas-lemasnya mendengar itu. Ia sempat terhenti sejenak di sebuah jalan. Tangan Rezza gemetar hebat, nafasnya tersengal-sengal, ia membuka chat Telegram dari detektif itu berisi link web sebuah portal GPS tracker dan langsung menunjukkan live location GPS itu dan posisi Rezza. Rezza pun dengan panik menaruh ponselnya di phone holder, lalu tancap gas dengan air mata menetes di pipinya.
"Ya Allah kenapa ini harus terjadi?" Rezza cemas, kekhawatirannya lebih dari anxiety-nya kali ini. Panic attack coba diabaikannya, ketakutan akan keselamatan Sherin serta bayi di kandungannya lebih dari apapun. Rezza sambil call Toni.
"Ton.. Sherin diculik Ton.. Gue minta tolong ya.."
"ASTAGA ZA? Aldi?"
"Iya Ton. Tolong call detektif itu ya, kita lagi kerjar mereka. Tolong ke kantor polisi sekarang. Buat laporan kita lagi kejar mobil yang dipakai penculik. Nanti minta share GPS tracker-nya sama detektif itu."
"Iya. Iya Za. Oke gue langsung bilang ke adek gue ya. Lo hati-hati Za."
"Iya, makasih Ton.." Rezza menutup call itu.. Matanya melotot tapi tetap sulit fokus karena khawatir sekali. Pada titik ini anxiety Rezza sebetulnya kembali menguasai otaknya, tapi rasa cinta dan takut akan keselamatan Sherin yang buat ia bertahan untuk tersadar. Jantung Rezza seketika berdetak cepat tak beraturan, nafasnya tidak tertata. Ia sampai menurunkan suhu kabin ke paling dingin karena kepalanya terasa sangat panas, keringat dingin bermunculan di keningnya.
"Astaghfirullah.." Rezza membatin.
Di dalam van itu, Sherin masih mencoba meronta tapi tangannya dipegangi oleh dua pria yang duduk di kanan dan kirinya.
"TOLONGG!" Sherin berteriak. kakinya coba menendang dua kursi yang ada di depannya. Seorang pria mengenakan kacamata gelap dan masker hitam di kursi kiri depan menengok ke Sherin. Ia memutar badannya lalu membuka kacamata serta maskernya.
"Halo Sher.."
"ALDI? LO NGAPAIN SIH?" Sherin melotot dengan wajah paling marah yang pernah ia buat.
"Maaf aku harus lakuin ini. Aku benar-benar gak tau lagi harus gimana."
"LO GILA YA! NGAPAIN SIH NYULIK GUE?" Sherin tetap marah-marah, nampak Sherin sangat ingin bertahan demi melindungi anak di kandungannya.
"Aku cuma mau kamu paham Sher.. Aku jatuh cinta sama kamu, aku gak rela kamu sama cowok busuk itu. Rezza."
"ELO YANG BUSUK TAU GAK! GUE UDAH NIKAH, GUE LAGI HAMIL. ELO GILA!" Sherin terus menendang-nendang kursi Aldi.
"Guys, tolong ikat tangan Sherin dan lakban mulutnya." Aldi sok tenang menyuruh dua orang temannya itu.
"Ok bro.. Laksanakan." jawab salah satunya.
"ENGGAK! LO JANGAN MACEM-MACEM YA!" Sherin berontak lagi, salah satunya melepas tangan kiri Sherin lalu mengambil tali dari kolong kursi. Saat ia hendak mengikat tangan Sherin yang dipegangi oleh pria satunya, mobil itu disundul dari belakang. 'BRAKKK!'
"BRENGSEK! Ada yang ngikutin kita bro!" si driver melihat ke spion kanan. Sebuah mobil Agya silver menyundul berkali-kali sambil menyalakan hazard dan lampu tembak. Sesekali mobil itu mengklakson. "DIIIINN.. DIIIINN.."
"Lo kasih hard braking, semoga kena radiatornya." Aldi ngide.
"Oke gue kebut, abis itu gue rem mendadak. Kalian semua pegangan ya!"
"Oke bro." semua menjawab.
"ASTAGA! UDAH GILA LO SEMUA!" Sherin benar-benar tak mengerti.
"Oke siap-siap.. Satu, dua, tiga.." si driver melihat ke arah belakang ketika jalanan kosong dan mengebut. Mobil itupun rem mendadak, Sherin terasa hampir terlempar ke depan tapi tangannya dipegangi dua pria di sampingnya. "BRAAAKKKK!"
"Cessss.." mobil Agya silver itupun menyerah. Asap keluar dari kap mesin depan tanda radiator mengalami kerusakan fatal.
"BRENGSEK!" ujar satu detektif yang menyetir mobil itu. Satu lagi turun dari mobil memfoto mobil itu di bawah hujan deras. Tak lama motor bodyguard melewati mereka dan mengklakson beri tanda.
"Semoga mereka bisa mengejar.." ujar detektif yang turun itu.
Rezza memacu mobilnya, perlahan mobil Jimny putih itu mendekat tapi belum terlihat jelas mobil yang dimaksud membawa Sherin itu.
"Ya Allah lindungilah Sherin.. Lindungilah anak hamba ya Allah.. Hamba mohon kali ini saja.."
Rezza benar-benar lemas kondisinya, kaki kanannya menginjak pedal dalam-dalam tapi jari jemarinya terasa lemah menggenggam setir. Tak lama ia lihat motor dan mobil yang kejar-kejaran.
"Itu dia.." Rezza tiba-tiba kembali semangat. Ia buka ponselnya sejenak lalu kirim live location ke chat Toni.
Rezza menginjak pedal gasnya lebih dalam.
Ketika ia mendekat, motor itu coba pecahkan kaca belakang menggunakan sebilah besi yang mereka bawa. Kaca samping kanan belakang pun berhasil pecah.
"Sialan! Siapa sih mereka?" Aldi ngamuk-ngamuk.
"Boleh gue hajar bro?" driver itu bertanya.
"Hajar lah.." jawab Aldi songong.
"Okeh!" driver itu ngide untuk manuver mendadak untuk menyenggol motor, beruntung satu bodyguard yang memegang kendali itu memang punya skill luar biasa dalam bermotor. Mereka berkali-kali terhindar dari senggolan. Rezza memperhatikan dari jauh. Sayangnya di satu titik, driver mobil van itu berhasil mengecoh bodyguard ketika ia seakan hendak mengambil ke kiri namun ternyata mendadak berpindah jalur ke kanan. Mereka pun terpisah di sebuah persimpangan jalan. Rezza sekitar 50 meter di belakang mereka.
"Astaga.. Kegocek lagi.." Rezza melirik motor bodyguard itu yang berhenti sejenak untuk berbalik arah. Rezza tancap gas lalu mendekat sambil mengklakson-klakson. Sherin menengok dan sempat tersenyum melihat mobil itu.
"MAS REZZZAAA!" Sherin berteriak sekuat tenaga.
"MAAASS TOLONG AKU!" Sherin menangis dalam teriaknya sambil kembali mencoba meronta, tenaganya mulai terasa habis sedari tadi berteriak.
"Mau cari mati nih orang." salah satu dari mereka bicara.
"Kasih hajar aja bro." Aldi bicara ke driver di sampingnya.
"Oke bro."
Sherin tak terima.
"LO JANGAN MACEM-MACEM YA SAMA SUAMI GUE!" Sherin berteriak menendang kursi itu.
"Udah diam aja Sher. Paling juga laki kamu itu nasibnya kaya mobil tadi. Udah tenang aja nanti aku nikahin kamu kok." Aldi dengan pedenya bicara hal menjijikan seperti itu.
Sherin benar-benar muak, ia meludah sekuat-kuatnya ke arah Aldi.
"NAJIS LO TAU GAK!" Sherin marah, Aldi justru tertawa. Dia benar-benar seperti psikopat di film-film thriller.
Rezza sadar betul tak bisa apa-apa dengan mobil itu. Jika dia lakukan manuver bahaya, bisa-bisa keselamata Sherin dan kandungannya terancam. Akhirnya Rezzza coba beberapa kali memepet dengan pelan mobil itu. Berharap ban mobil van itu kempes atau pecah dan bisa berhenti dengan selamat.
Percobaan pertama, mobil Rezza memepet sampai spionnya patah. Kedua spion mobil itu patah bersenggolan.
"Hahaha begok! Dikira gue bakal nyerah dipepet gitu doang." driver van itu asbun.
"Ya Allah tolong hentikan mobil itu.." Rezza berharap penuh dengan doanya.
Percobaan ketiga masih gagal. Sesekali driver mobil van itu memepet keras ke mobil Rezza sampai kedua mobil terguncang di kecepatan 70 km/jam di kondisi hujan sore-sore.
"Astaghfirullah... Tolong hamba sekali ini saja.." Rezza kembali memepetkan mobilnya.
"DHUARRR" ban kiri belakang mobil van itu pecah, nyaris kehilangan kendali. Ternyata tadi mobil itu menginjak sambungan jalan yang tajam saat dipepet pelan oleh Rezza.
"BRENGSEKKK! Bannya pecah lagi.." si driver itu marah-marah memukul setirnya.
"Yaudah berhenti aja, kita hajar tuh orang." Aldi ngide.
Mobil itu pun berhenti. Rezza ikut berhenti sekitar sepuluh meter di depannya. Dari spion tengah Rezza melihat Aldi dan driver-nya turun. Cuaca mulai gerimis mereda, tapi jalanan aspal sangat basah akibat hujan deras sebelumnya. Rezza mencari beberapa barang. Ia menemukan kunci shock untuk membuka baut ban di bawah kursi belakang. Rezza keluar dari mobil menenteng kunci shock itu.
Mereka berhadap-hadapan. Si driver dengan penutup kepala seperti maling itu menyerang Rezza duluan, Rezza dengan badan lemas menangkis serangannya lalu memukul laki-laki itu dengan kunci shock-nya.
"ARGHHH" pria itu terjatuh sambil kelojotan karena pundaknya terkena pukulan kunci shock dari Rezza. Dari pintu geser samping, dua pria itu turun memegangi tangan Sherin.
"MASSS!" Sherin memanggil Rezza berteriak, Rezza menoleh.
"SAYANG! KAMU GAPAPA?"
"AKU GAPAPA MAS.. TOLONG AKU MAS!" wajah Sherin nampak berantakan bercucuran air mata.
"KAMU TENANG AJA. ADA AKU DI SINI!" Rezza mencoba menenangkan meski hatinya sedang kalut tak karuan.
Aldi menarik tangan Sherin, dua pria itu bergantian posisi dengan Aldi. Mereka menghadapi Rezza.