Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #62

Chapter 62

Setelah itu, Rezza dibawa keluar ke ruang perawatan VIP. Mereka semua berjalan bersama menuju ruang rawat di lantai 3 rumah sakit tersebut. Sherin tak mau jauh dari Rezza, Rezza pun sudah bisa tersenyum kembali. Mereka berdua saling tatap, saling berpegangan layaknya anak 'abege' baru pacaran. Semua orang lega sekaligus bahagia melihat ini.

"Mas.. Kamu apa yang dirasa sekarang?" Sherin duduk di samping bed Rezza. Om Arwin dan Tante Rani sedang duduk di sofa. Kak Vina mengurus administrasi ditemani Tyas dan Clarissa. Hendro dan Toni duduk di depan ruangan.

"Aku tadi ketemu mama, papa.." semua kaget.

"Hah? Ketemu Mama Kirana? Papa Bagas?" Sherin pun terkejut.

"Iya.. Aku tadi liat mereka. Aku kangen banget sama mereka." Rezza meneteskan air mata.

Sherin terpaku, Om Arwin dan Tante Rani pun merasakan. Rezza pasti sangat terpukul atas kejadian ini. Begitu juga Sherin, pikir mereka.


Sudah 24 jam Rezza dirawat di ruangan itu. Sherin tak sedetik pun meninggalkan ruang rawat VIP tersebut. Meski beberapa tamu datang dan pergi menjenguk Rezza, tak sekalipun Sherin mengeluh lelah di situasi ini. Yang terpenting bagi Sherin adalah Rezza. Rezza prioritasnya sekarang.

Rezza terbangun dari tidurnya, jam 21.25 Rezza membuka matanya perlahan.

"Sayang..." Rezza kesulitan melihat, ia merasa matanya perih sekali.

"Sher.." Rezza melirik dengan mata yang terbuka setengah.

"Sayang.." suara Rezza lirih dan menengok ke beberapa sudut ruangan. Ia sebelumnya diberikan obat penghilang rasa sakit karena mengeluhkan sakit yang teramat sangat di area lukanya. Beberapa jam lalu disuntikan obat tersebut, Rezza pun sampai tertidur pulas.

"Sherin.." Rezza coba bangkit untuk duduk, tapi badannya terasa sakit sekali dan ngilu.

"Awhh.. Pffttt.." Rezza melenguh tak sanggup, Sherin keluar dari kamar mandi.

"Mas.. Mas kamu kenapa?" setengah berlari Sherin mendekati.

"Aku cari kamu.. Kirain kamu pulang."

"Enggak mas.. Aku di kamar mandi habis bersih-bersih, ambil wudhu."

"Hmm yaudah, kamu mau sholat?"

"Iya mas, aku mau sholat Isya daritadi banyak tamu kan."

"Yaudah, aku juga mau sholat."

"Udah kamu tayamum aja ya mas. Susah kalo wudhu ke kamar mandi."

"Iya sayang.." Rezza pun merebahkan badannya lagi. Ia memperhatikan Sherin yang shalat terduduk di hadapannya dengan arah kiblat menyamping. Perut Sherin yang semakin besar dan tubuhnya yang pegal-pegal, membuat ia memilih shalat di atas kursi. Sherin nampak cantik dalam balutan mukena meski matanya sembab dan raut wajahnya kelelahan.

"Ya Allah terima kasih Engkau masih berikan kesempatan hamba melihat wajah istri hamba lagi. Hamba mohon berikan kekuatan untukku supaya sembuh dan bisa melayani istriku lagi. Amin.." Rezza berdoa dalam hatinya. Ia benar-benar merasa bersalah karena sudah seharian belum juga pulih.

"Ngapain sih liat-liat aku? Aku malu tau lagi sholat diliatin." Sherin tersenyum manja usai menengok salam terakhir dari shalatnya.

"Gapapa kan kamu istri aku. Aku gak harus jaga pandangan dari kamu." Rezza asbun.

"Mas.. Kamu istirahat ya.. Biar cepet sembuh." Sherin mendekat, memegang tangan kanan Rezza dengan lembut.

"Iya sayang.. Makasih ya udah jagain aku. Jagain anak kita."

"Gak perlu makasih mas, itu udah kewajiban aku sebagai istri dan sebagai calon ibu." Sherin senyum.

"Kamu cantik banget. I love you.." Rezza sempat-sempatnya menggombal.

"I love you too masku sayang.." Sherin kecup kening Rezza. Rezza seakan mendapatkan semangat lagi untuk melanjutkan hidup.

Beberapa saat kemudian, Sherin pun terlelap tertidur di sofa ruangan itu. Rezza yang terbangun merasa tak enak melihat istrinya yang sedang hamil harus tertidur dengan kondisi itu. Ia bertekad ingin segera sembuh.


07.32 | Keesokan pagi harinya, dokter visit ke ruangan itu.

"Dok, saya bisa pulang gak? Saya gak tega lihat istri saya tidur di sini. Dia lagi hamil."

"Pak Rezza. Luka tusuk bapak ini cukup parah, kalau pulang bisa jamin bapak gak beraktivitas?"

"Saya janji dok, sampai rumah saya akan istirahat. Saya gak mau istri saya tidur di sofa seperti itu." Rezza nampak sedih sekali.

"Yaudah, kalau gitu pulangnya mau diantar pakai ambulance? Supaya bapak tidak bergerak banyak."

"Gak boleh pake mobil pribadi aja ya dok?" Rezza tampak khawatir sekali.

"Iya boleh tapi kami khawatir lukanya jadi tidak sembuh kalau bapak posisinya duduk atau berdiri. Atau gak gini, nanti siang kita jadwalkan sama terapis untuk bapak posisi duduk dan berdiri ya. Kan dari kemarin Pak Rezza belum sampai bisa duduk lagi."

"Oh iya boleh dok kalau gitu saya mau. Makasih ya."

"Iya, yaudah bapak silahkan istirahat lagi. So far, pengamatan saya bapak sudah lebih baik dari kemarin. Harusnya rekomendasi saya bapak istirahat di sini dua sampai empat hari lagi biar kami pantau.

"Iya dok, tapi saya mau cepat pulang." Rezza nampak memohon.

"Oke kalau gitu, nanti siang tunggu terapis datang ya. Saya jadwalkan untuk ke sini nanti."

"Iya, makasih banyak dok.."

"Iya sama-sama, saya permisi." dokter tersebut keluar dari ruangan rawat Rezza.

"Sherin ke mana ya? Kok gak masuk-masuk dari tadi?" Rezza cemas sekali. Jari jemarinya tak bisa behenti bergerak. Tak berapa lama pintu dibuka.

"Mas.." Sherin masuk tampak wajahnya khawatir. Tak lama masuk dua orang pria berbadan tegap mengenakan kemeja hitam lengan pendek dan celana cokelat. Rezza tebak mereka adalah para anggota kepolisian.

"Selamat pagi Pak Rezza."

"Selamat pagi pak.." Rezza jawab khawatir.

"Saya boleh minta waktunya sebentar?"

"Oh iya silahkan pak.."

"Baik, ibu bisa tunggu di luar dulu? Saya mau bicara dengan suami ibu."

"Iya. Iya pak.. Mas aku tunggu di luar ya." Sherin nampak cemas sekali.

"Iya sayang." Rezza pun khawatir.

"Baik, saya izin bertanya terkait kejadian dua hari lalu ya pak. Saya Heru dan ini rekan saya Pambudi kami berdua dari Polres Jakarta Timur."

"Oh oke pak."

"Kami ingin memintai keterangan bapak terkait insiden penculikan istri bapak, Ibu Sherin Arrani Putria di daerah pintu Tol Cawang, Halim dua hari lalu pukul 17.35.

Apakah benar bapak yang menggagalkan penculikan itu?"

"Iya betul pak."

"Lalu apa betul bapak mengejar pelaku pada saat istri bapak diculik oleh ke-empat pelaku tersebut?"

"Iya betul, saya mengejar mereka dibantu oleh dua orang bodyguard dan dua orang detektif swasta. Selain itu juga saya dibantu oleh sahabat saya yang bernama Toni dan adiknya yang bernama Fahmi. Fahmi adalah anggota kepolisian juga tapi saya kurang tahu di mana ia bertugas dan unit apa."

"Baik, apa betul bapak tertusuk di bagian perut di atas pinggang sebelah kiri?"

"Betul pak."

"Apa bapak tahu pisau yang menusuk bapak milik siapa?"

"Jujur saya tidak tahu persisnya pak, tapi saya yakin itu pisau milik salah satu dari pelaku."

"Apa bapak melakukan pembelaan diri sehingga bapak juga melukai ke-empat pelaku?"

"Iya betul pak."

"Bapak tahu siapa saja para pelaku?"

"Saya hanya mengenali satu orang bernama Aldi."

"Apa bapak tahu yang bernama Aldi telah tewas di kejadian itu?"

Rezza kaget. Seingat dia Aldi masih hidup ketika Toni dan Fahmi datang. Rezza pun mencoba ingat-ingat apakah ada perlawanan dari dia ataupun Toni yang membuat Aldi meregang nyawa.

"Saya tidak ingat pak. Saya fokus ke istri saya dan saya juga kesakitan karena perut saya luka ditusuk pisau oleh salah satu pelaku." Rezza jawab sepemahamannya.

"Apa bapak tau jumlah pelaku yang tewas pada kejadian itu?"

"Saya tidak tahu pak. Saya hanya fokus membela diri dan menyelamatkan istri saya yang sedang hamil." Rezza jawab tegas.

"Baik, kasus ini sedang diselidiki oleh Polres Jakarta Timur dan juga berkordinasi dengan Polrestabes DKI Jakarta. Karena pelaku adalah orang yang kesehariannya bukan seorang terindikasi pelaku kejahatan, maka kami sangat ingin menyelidiki kasus ini lebih dalam. Bapak dimohon bersedia jika sewaktu-waktu kami lakukan pemanggilan dan jika sudah berjalan persidangan kami mohon kesediaannya bapak untuk hadir sebagai saksi."

"Okay pak, saya bersedia." Rezza jawab yakin.

"Terakhir saya mau tanya, apa bapak tahu motif pelaku melakukan penculikan terhadap istri bapak?"

"Saya tidak tahu jelasnya pak, saya menganggap dia terobsesi untuk merebut istri saya. Dia juga pernah bertemu tidak sengaja dengan saya beberapa waktu lalu dan melontarkan pernyataan jika dia hendak merebut istri saya."

"Okay, sebetulnya bapak memang benar. Kami melakukan penyelidikan hingga mendatangi rumah pelaku di daerah Ragunan Jakarta Selatan, ia tinggal bersama orang tuanya. Kami mendapati di kamarnya ada beberapa barang yang mencurigakan." Polisi itu menunjukkan beberapa foto dari amplop yang dibawa oleh anggota satu lagi bernama Pambudi. Rezza kaget melihat itu semua.

"Di kamar milik pelaku bernama Aldi Akbar, kami menemui sejumlah barang-barang yang memperkuat motif dia menculik istri Anda pak."

"Astaghfirullahaladzim!" Rezza kaget. Foto pertama menunjukkan di kamar Aldi dipenuhi dengan foto-foto Sherin yang ia kumpulkan dari berbagai sumber. Rezza meyakini itu karena foto-foto itu adalah foto yang Sherin dan Rezza upload di akun bersama. Ada pula beberapa foto lama Sherin yang Rezza yakini diambil dari halaman Facebook Sherin yang tak pernah lagi dibuka olehnya. Iya Sherin memang hanya terhubung di sosial media Facebook dengan Aldi. Selain itu tidak ada sosial media lain yang mereka ber-mutual-an.

"Kemudian ini pak." Pak Polisi bernama Heru itu mengganti kertas tercetak foto selanjutnya, Rezza kaget bukan main. Ada semacam sudut di kamar Aldi yang terdapat foto Sherin dengan figur satu badan, kemudian di dekatnya ada beberapa benda-benda menjijikan seperti kembang, semacam tungku berisi kembang-kembang dan kemenyan yang telah hangus terbakar, dan dupa tertancap di atasnya yang membuat orang langsung meyakini itu adalah semacam perbuatan tercela berupa aktivitas mistis nan gaib untuk mengganggu Sherin.

"Astaga, Astaghfirullah.. Lailaha ilallah.." Rezza benar-benar kaget melihat itu semua.

"Dan terakhir kami juga menemukan ini pak." Heru menunjukkan foto Sherin ditempelkan sebuah tulisan-tulisan tak jelas seperti mantra. Rezza menggeleng tak percaya. Rezza benar-benar meyakini hal itu semua adalah perbuatan syirik yang tercela bagi kepercayaannya.

"Kami juga menemukan foto. Mohon maaf pak, foto istri Anda yang kami duga diedit menggunakan AI, foto wanita telanjang yang wajahnya diganti dengan wajah istri Anda. Kami tidak perlihatkan tadi ke istri bapak karena kami tidak mau mengganggu pikiran dan kenyamanan Ibu Sherin. Dan kami juga hanya bercerita ke bapak. Yang ironisnya lagi foto tersebut diduga terpapar air mani milik pelaku bernama Aldi."

"Astaga.. Ya Tuhan.." Rezza benar-benar speechless. Dia tak menyangka Aldi segila itu.

"Jadi kami bisa menyimpulkan, memang secara hukum perbuatan syirik dan gaib seperti santet, sihir, dan sebagainya tidak bisa diperkarakan. Namun, ini menjadi bukti kuat bahwa pelaku memiliki motif yang sesuai dengan dugaan Pak Rezza tadi. Dia terobsesi dengan istri Anda."

"Lalu.. Terus gimana pak?" Rezza masih tak habis pikir.

"Hmm.. Kami akan masih terus menyelidiki kasus ini. Kami juga mendapati orang tua pelaku Aldi menyampaikan permohonan untuk bertemu dengan Anda dan istri Anda. Tadi kami sudah tanyakan juga dengan istri Anda, Ibu Sherin. Apakah bapak bersedia? Untuk melakukan pertemuan yang difasilitasi oleh kepolisian?"

"Tidak pak, saya tidak berkenan." Rezza jawab tegas. Ia benar-benar tak sudi berhubungan lagi dengan Aldi dan keluarganya.

"Baik kalau gitu kami permisi, saran kami bapak cari kuasa hukum jika nanti kasus ini berlanjut ke persidangan agar bapak dan istri bersiap. Kami sebagai kepolisian berusaha bersikap netral, kami harap Pak Rezza selalu kooperatif dan mau untuk bekerjasama dalam penyelidikan kasus ini hingga tuntas."

"Okay pak, saya akan tunjuk kuasa hukum setelah ini." Rezza menjawab yakin.

"Baik, kalau begitu kami permisi ya pak. Selamat pagi, maaf mengganggu waktu istirahat Pak Rezza." Polisi Heru itu pamit.

"Iya. Terima kasih banyak pak, selamat pagi.." Rezza jawab. Kedua anggota kepolisian itu mengangguk tegas, kemudian mereka keluar dari ruangan.

Sherin duduk di ruang tunggu depan kamar rawat itu dengan wajah cemas dan khawatir. Begitu polisi itu keluar, Sherin langsung masuk ke dalam.

"Mas.." Sherin setengah berlari ke arah Rezza.

"Sayang.." Rezza menatap wajah Sherin dengan wajah pilu.

Lihat selengkapnya