Beberapa hari kemudian, Sherin sedang di kantor untuk urusan dengan Setara KOL Agency sebelum ia cuti melahirkan, last day Sherin di kantor sebelum cuti lahiran. Rezza yang hari itu, hari rabu sedang habis ada meeting di sebuah kantor klien di daerah Mampang Prapatan, tiba-tiba impulsif terpikir hendak mampir ke kantor Ranah Langgam Production. Di depan kantor klien sambil masuk ke mobil, Rezza coba call Om Rendra, ternyata Om Rendra juga sedang ada di kantor itu. Rezza pun janjian akan ke sana.
13.43 | Kantor EO Ranah Langgam Production, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
"Halo.. Selamat siang.." Rezza masuk ke dalam sebuah office space di lantai 3 salah satu gedung berisi lima lantai di Mampang. Rezza masuk ke area resepsionis yang dijaga oleh seorang wanita muda usia 23 tahunan.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?"
"Hmm.. Saya mau ketemu Pak Rendra, bisa?"
"Oh.. Dari mana pak?"
"Saya Rezza, keponakannnya Pak Rendra." Rezza menjawab dengan yakin. Resepsionis dan beberapa staf yang sedang lewat dekat situ langsung terkaget.
"Bapak? Pak Rezza? Yang punya kantor ini?" seorang laki-laki menghampiri Rezza dengan wajah shocked.
"Hah? Nggak-nggak, saya keponakannya Om, eh Pak Rendra." Rezza denial.
"Iya, yang punya mayoritas saham kantor ini kan?" pria itu kembali bertanya. Rezza paham, jadi semua karyawan sepertinya sudah di-briefing oleh Om Rendra.
"Oh, iya-iya betul." Rezza jawab dengan wajah tak enak hati.
"Hai Rezza.. Baru sampe?" Om Rendra masuk, ia baru saja kembali dari makan siang. Memang Om Rendra tadi beritahu Rezza sedang di luar sebentar untuk makan siang.
"Halo om.. Gimana kabar?" Rezza menyalimi lalu memeluk Om Rendra.
"Baik Rezza, kamu gimana sama Sherin? Sudah jauh lebih baik kan kondisi kesehatan kamu?"
"Eh iya om sudah aman kok, hehe"
"Oh iya ini kenalkan, senior creative di sini namanya Ibam, sama ini Dini resepsionis sekaligus admin kantor." Om Rendra kenalkan pria yang tadi menyapa Rezza dan resepsionis di ruang itu.
"Halo Pak Rezza, saya Ibam." Ibam menyalami Rezza dengan senyum hangat, Dini yang tadi di balik meja resepsionis kemudian mendekat ke sebelah Ibam.
"Halo juga Pak Rezza. Saya Dini, salam kenal ya pak." Dini juga menjabat tangan Rezza.
"Iya, salam kenal ya.. Ibam, Dini. Saya keponakan Pak Rendra." Rezza membalas ramah.
"Dan juga pemilik saham mayoritas kantor kita." Om Rendra menyambung kalimat Rezza, semua mengangguk setuju, termasuk Ibam dan Dini.
"Yaudah, yuk lihat-lihat ke dalam.." Om Rendra ajak Rezza.
"Iya boleh om, tapi aku gak lama ya di sini. Masih harus balik ke kantor.. dan jemput Sherin pulang juga hehe"
"Iya, paham kok om. Mampir dulu lah sejenak sini." Om Rendra rangkul tubuh Rezza masuk ke dalam.
Sebuah office space yang cukup besar, menampung sekitar 15 orang pegawai tetap. Selain itu, karena bisnis EO kebanyakan sibuknya di lapangan, total karyawan part-time dan freelance dari Ranah Langgam mencapai lebih dari 50 orang. Makanya kantor itu malah nampak sepi di hari kerja.
Rezza dan Om Rendra duduk di ruang tengah tanpa sekat. Itu adalah ruang atau lebih tepatnya disebut area meeting utama. Ada juga ruang meeting tertutup, tapi karena EO adalah bisnis yang melibatkan banyak sekali orang dan pihak-pihak terkait, maka sebuah area meeting besar sangat diperlukan. Sebuah meja panjang dan besar dengan beberapa kursi di sekelilingnya. Ada beberapa staf juga yang duduk di sisi-sisi lain meja tersebut. Rezza disuguhkan secangkir teh hangat.
"Nanti kalo kamu mau dibuatin ruangan, boleh Rezza. Kabarin om aja ya."
"Eh gausah om, aku malah jarang dateng jadi mubazir ruangannya." Rezza jawab.
"Nggak apa-apa.. Biar kamu rajin ke sini.. Gimana pun juga ini kantor punya sejarah panjang, termasuk terkait kamu dan orang tua kamu. Khususnya Almarhumah mama kamu."
"Iya om paham kok, tapi beneran deh gausah. Aku keknya bakal jarang ke sini. Kan aku fokusnya di K&B om. Kalo nanti suatu saat mungkin aku mau terlibat langsung, atau maybe di masa depan aku gak kerja di K&B lagi, boleh deh kita bikin ruangan buat aku."
"Okeh, om setuju. Just let me know ya Za.." Om Rendra senyum sumringah.
"Pasti dong om.." Rezza jawab sambil menyeruput teh hangat.
Setelahnya, semua karyawan diminta waktu sejenak oleh Om Rendra untuk bertemu langsung dan berkenalan dengan Rezza. Semua nampak antusias karena ini pertama kalinya mereka bertemu Rezza, anak dari pemegang mayoritas saham perusahaan itu. Rezza pun tak sanggup berkata banyak karena meski ia happy, ia merasa lumayan terasingkan karena tak ada satupun yang ia kenal dekat kecuali Om Rendra di sana. Tapi Rezza berjanji akan coba lebih sering mampir ke sana, berjanji mengajak Sherin dan juga anaknya jika sudah lahir nanti.
"Yaudah.. Makasih banyak ya semuanya, maaf saya jadi ganggu waktu kerja kalian."
"Gapapa Bang Rezza.. Kita juga gak sibuk-sibuk amat kok hari ini. Kita kan sibuknya di lokasi event hehe" seorang staf yang bernama Risa menyaut. Rezza pun hanya bisa tersenyum diiringi tertawa karir semuanya yang ada di sana.
"Haha iya-iya. Nanti saya mampir lagi ya. Saya permisi dulu harus balik ke kantor agensi saya, jemput istri saya juga yang lagi hamil besar. Minta doanya ya teman-teman, supaya istri saya diberi kelancaran persalinannya yang tinggal menunggu hari nih."
"Amiinn.. Semoga lancar ya Rezza.." Om Rendra menginisiatif, yang lain mengamini.
"Yaudah, makasih semuanya. Pamit dulu ya.." Rezza hendak pergi dari sana.
"Iyaa Bang Rezza.." Rezza pun diantar Om Rendra dan Ibam ke depan lift. Semua sepakat untuk memanggil Rezza dengan sebutan 'Bang Rezza' agar merasakan kekeluargaan yang sama seperti yang berhasil dia buat di K&B.
"Aku pamit dulu ya om, makasih banyak atas semuanya. Om luar biasa." Rezza salim lalu memeluk Om Rendra, Ibam menyaksikan dengan rasa haru di hatinya.
"Iya Rezza.. Salam ya buat Sherin. Kapan-kapan ajak dia sama anak kamu juga hehe"
"Pasti om. Doain ya lancar persalinan Sherin.. Yuk Ibam, saya duluan." Rezza lalu menyalami Ibam, pintu lift terbuka.
"Amiiinn.. Hati-hati di jalan ya." Om Rendra dan Ibam say bye ke Rezza.
"Makasihh, om, Ibam.. Wasalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.." Om Rendra dan Ibam menjawab, pintu lift tertutup. Rezza pun lega menjalani hari itu, dia tak lagi penasaran dengan kantor yang selama ini hanya ada di imajinasinya setelah pertemuan dengan Om Rendra di Cikini beberapa waktu silam. Rasanya tak sabar Rezza ingin bertemu Sherin dan melaporkan kunjungannya yang berkesan di Ranah Langgam Production itu ke istri tercintanya.
Seminggu berselang, Rezza menjadikan seorang bodyguard yang waktu itu menjaga Sherin sebagai driver pribadi dia. Satu bodyguard lagi menjaga Sherin di rumah. Kehamilan Sherin memasuki bulan terakhir. Sherin sudah jarang ke kantor, Tyas yang lebih sering datang ke rumah. Bahkan beberapa kali meeting besar diadakan di rumah gedebang karena tak jauh juga sebetulnya dari kantor Setara dan K&B.
Mereka semua tidak keberatan untuk meeting weekly atau monthly ke sana.
Satu hari, Sherin sedang ada tamu anak-anak Setara meeting di meja makan rumah gedebang. Sherin yang sedang hamil besar duduk di ujung kursi. Pukul 11.23 mereka masih meeting karena hari itu adalah awal bulan jadi sekaligus monthly meeting yang banyak sekali pembahasan.
Rezza tiba-tiba pulang dari kantornya.
"Assalamualaikum.." Rezza berjalan dari pintu depan.
"Waalaikumsalam.." semua menjawab.
"Kamu kok udah pulang?" Sherin nampak kaget.
"Hah? Emang gak boleh aku pulang?" Rezza bingung.
"Nggak mas, kamu kan ngantor. Kok jam segini pulang?" Sherin berdiri dari kursinya dengan susah payah lalu menyalimi Rezza.
"Gapapa aku mau kerja dari rumah aja. Sekalian lunch sama kamu."
"Ihhh bucin banget sih kamu!" Sherin ngejek gemes.
"Iya emang aku bucin! Udah ah aku duduk di sana biar gak ganggu." Rezza berjalan ke sofa depan TV.
"Okay papa.." Sherin jawab manja, yang lain senyum-senyum. Rezza pun awkward. Mereka semua melanjutkan aktivitas masing-masing.
Tak lama berselang, Sherin merasakan ada yang aneh dari perutnya.
"Mas.. Mass.." Sherin memegang perutnya lalu memanggil-manggil Rezza. Clarissa dan Tyas yang duduk di dekatnya panik.
"Kak? Kak Sherin kenapa?" Clarissa berdiri mendekat.
"Perut aku.. Awhhh.. Sakit.." Sherin mengeluhkan sakit di perutnya. Tyas berlari ke arah Rezza.
"Bang.. Itu Mbak Sherin perutnya sakit!" Rezza membuka Earpods yang dipakainya.
"Hah? Kenapa Sherin?" Rezza berdiri lalu berlari mendekat.
"Mass.."
"Iya sayang? Kenapa?" Rezza wajahnya panik sekali.
"Perut aku sakit banget.." Sherin wajahnya nampak kesakitan.
"Aduhh.. Yaudah kita ke rumah sakit ya.." Rezza hendak menggendong Sherin.
"Tyas tolong ke depan panggilin Robi bilang dia suruh anterin kita ke rumah sakit." Rezza menyuruh Tyas ke pos depan mencari Robi, driver Rezza.
"Iya bang, aku cari Mas Robi sekarang." Tyas berlari ke depan dengan alas kaki seadanya.
"Makasih Tyas. Sayang aku.. Aku gendong ya.." Rezza menggendong Sherin, Sherin tak bisa jawab apapun ia sangat merasa kesakitan. Rezza benar-benar sekuat tenaga menggendong Sherin karena panik. Padahal Rezza sudah siapkan kursi roda di kamar tamu tak jauh dari sana.
Rezza pun menggendong Sherin yang perutnya sangat besar itu ke arah pintu depan. Clarissa menemani dari samping sambil memastikan semua aman. Yang lain nampak ada yang shocked, ada yang bingung, ada yang repot berlari ke depan pintu untuk bukakan pintu depan rumah gedebang.
"Aku bukain pintu mobil bang." Clarissa membuka pintu baris kedua mobil XPeng X9 berwarna putih yang baru saja Rezza beli untuk stand by di rumah agar Sherin lebih nyaman ke mana-mana. Kunci mobil itu pun selalu stand by di dalam ketika terparkir di rumah karena Rezza sangat well planned jika ada situasi darurat, Sherin bisa langsung dibawa pakai mobil itu.