Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #64

Chapter 64

Beberapa minggu berlalu. Satu waktu di hari weekdays, Sherin dan Rezza memutuskan hendak menginap di sebuah villa mewah di daerah Puncak, Bogor, Jawa Barat mengajak serta Tante Rani dan Mala. Rezza menyetir sendiri mobil XPeng X9 putihnya itu lalu diikuti mobil Toyota Land Cruiser FJ warna bronze yang disetiri oleh Robi dan Imran yang juga driver sekaligus bodyguard mereka. Mereka mengawal sekaligus bersiap jika Rezza kelelahan minta gantian disetiri. Di rumah saat ini ada total empat mobil yang mereka punya. XPeng X9, Mini Countryman, Toyota bZ4X Touring, serta Toyota Land Cruiser FJ yang dibeli Rezza setelah Suzuki Jimny-nya rusak akibat kejadian penculikan Sherin waktu itu. Rezza tak ragu membeli mobil dari uangnya karena bagi Rezza saat ini yang terpenting dan prioritasnya adalah keluarganya, uang tak akan berarti bagi Rezza jika tidak dipergunakan untuk hal yang membantu dan bermanfaat bagi dirinya dan keluarga kecilnya, Sherin pun setuju. Selain itu juga karena Rezza seorang pecinta otomotif.

Rezza yang ternyata suka off-road akhirnya membeli dan merasa harus punya setidaknya satu mobil off-road di rumahnya, sehingga ketika Jimny-nya rusak waktu itu, Rezza pun membeli mobil off-road lainnya, yaitu sebuah Land Cruiser FJ yang baru saja dirilis di negara ini.

"Mas.. Kita mau mampir dulu gak?" Sherin tanya, mereka sudah tiba di sekitar exit Tol Ciawi dari Jakarta pukul 09.21 pagi.

"Hah? Mampir ke mana sayang?"

"Ke restoran atau tempat apa gitu?" Sherin tanya sambil duduk di sebelah Rezza. Di kursi baris kedua ada Tante Rani dengan Mala.

"Hmm villa kita kan boleh check in dari pagi sayang, langsung ke sana aja yaa? Nanti kalo mau beli makan atau apa pake ojol juga bisa. Atau suruh Robi or Imran gitu untuk beli-beli.

"Hmm aku mau mampir Taman Safari mass.." Sherin manja, Rezza bingung.

"Hah? Ngapain? Sayang anak kita aja belum ngerti.." Rezza protes dikit.

"Ya kan aku yang mau.. Masa kamu gak bolehin?" Sherin ngambek manja.

"Hmmm.. Yaudah-yaudah, mama gapapa kita mampir Taman Safari?"

"Gapapa Rezza.. Mama sih gapapa." Tante Rani senyum-senyum.

"Yaudah aku kasih tau Robi dan Imran dulu." Rezza mengambil walkie talkie di laci door trim mobilnya.

"Hehe makasii sayangg.." Sherin memeluk lengan Rezza meski jauh karena mobil itu terlalu lebar interiornya. Rezza pun cuma bisa menjawab dengan senyum.


Kedua mobil itu melajukan arahnya ke Taman Safari Indonesia di Cisarua, Puncak, Bogor. Rezza pun sebenarnya merasakan sudah lama sekali ia tidak ke sana. Mungkin terakhir Rezza ke tempat itu sekitar SMP atau SMA bersama orang tuanya. Kak Vina beberapa kali mengajak Rezza untuk ikut ke Taman Safari bersama Alsya ataupun Arshad, tapi Rezza tak pernah bisa menyempatkan.

"Ya ampun aku udah lama banget gak ke sini." Rezza terkesima dengan gerbang masuk yang disambut gapura besar berbentuk gading gajah itu.

"Aku juga udah lama banget mas gak ke sini. Dulu ke sini kapan ya mah terakhir?" Sherin tanya.

"Kalo sama kamu ya SD atau SMP kayanya sayang. Kalo sama anak-anaknya Mas Armand atau Mas Rendi ya mama belum lama ini ikut sih."

"Oh gituu.. Hmm kita akan sering ke sini mas. Apalagi kalo anak kita nambah hehe" Sherin tersenyum gemas ke Rezza. Rezza pun cuma tersenyum sambil menggeleng.


Mereka semua menikmati suasana melintasi jalur kebun binatang drive thru. Rezza dan Sherin putuskan tidak akan membuka kaca dan memberi makan demi menjaga kehigienisan dan kebersihan kabin. Mereka pun menutup jendela selama melewati itu. Tante Rani dan Mala sibuk memvideokan dan foto-foto menggunakan ponsel mereka. Sunshade sunroof pun dibuka lebar tanpa membuka kacanya agar bisa menikmati pemandangan di atasnya. Sepanjang itu Sherin susah payah menggendong bayi Ezra yang belum bisa duduk sama sekali. Sherin hanya sesekali menyodorkan tubuh Ezra yang mungil itu ke arah jendela.

"Tuh nakk. Gemes banget ada kancil, ada bison, ada sapi.. Nanti kalo kamu udah besar, kita ke sini lagi ya sayangg.." Sherin nampak bersemangat menjelaskan ke Ezra yang nampaknya tak peduli dengan sekitar.

"Sayanggg.. Anak kita sebulan aja belum lho, udah ditunjukin binatang begitu." Rezza protes.

"Gapapa mas.. Biar di dalam core memori-nya dia inget pernah ke sini sama papa mamanya, sama oma juga.. Ya sayang?? Mmmuahh.." Sherin mencium gemas pipi kiri Ezra.

"Ihh aku juga mau ciumm.." Rezza tak mau kalah.

"Nanti mass kalo udah berhenti." Sherin protes karena Rezza sedang menyetir perlahan. Rezza hanya bisa manyun manja. Tante Rani speechless melihat kegemesan keluarga kecil anaknya itu.


Tak terasa kurang lebih sudah 40 menit mereka melalui kebun binatang drive thru di Taman Safari itu. Mereka pun memutuskan untuk turun sambil jalan-jalan sejenak me-release otot dan persendian yang sudah dua jam lebih di perjalanan.

"Papa.. Kita liat itu yukk ada atraksi burung.." Sherin menggendong Ezra sambil dijaga Rezza. Tante Rani mengikuti di belakang didampingi Mala dan di belakang lagi ada Robi dan Imran.

"Mama ikut ya.." Rezza menoleh ke belakang.

"Iya mama ikut. Nanti kalian jangan dekat-dekat ya takut hewan-hewannya bawa virus gitu-gitu." Tante Rani beri nasehat.

"Iya omaa.. Aku gak deket-deket kokk.." Sherin menjawab. Rezza merangkul lembut Sherin yang semangat sekali. Jujur Sherin memang merindukan pergi keluar rumah. Ia hampir sebulan lamanya tidak pernah pergi-pergi jauh dari rumah. Momen ini betul-betul disyukurinya karena Rezza yang inisiatif mengajak menginap di Puncak di hari weekdays untuk menikmati waktu mumpung Rezza dapat off-day.

Rezza pun sesekali menggendong Ezra ketika Sherin merasa pegal atau ingin minum sejenak.

"Mala, Robi, Imran, kalian kalo haus, mau beli apa bilang aja ya.. Gausah sungkan." Sherin mengingatkan.

"Iya Kak Sherin. Aman kok.." Robi menjawab. Mala dan Imran mengangguk ramah. Mereka berenam plus satu bayi Ezra duduk di dua barisan di atraksi burung Elang pemangsa yang akan terbang menuju petugas yang mengenakan pelindung khusus di tangannya. Sherin dan Rezza berangkulan menikmati waktu dan kesegaran udara di sana yang masih cukup asri karena dikelilingi pepohonan. Beruntung cuaca sedang sejuk tidak terlalu panas tapi juga awan mendung meliputi langit tanpa rintik hujan.


12.08 | Atraksi itu selesai. Sherin bertanya ke Rezza.

"Kita mau langsung jalan ke villa mas?"

"Udah? Gamau ke mana lagi gitu?"

"Nggak mas, kasian mama nanti capek jalan jauh."

"Yaudah aku ke musholla bentar ya. Kamu mau tunggu di sana atau di mobil?" Rezza menunjuk sebuah bangunan berisi beberapa tenant untuk jualan makanan dan minuman.

"Iya aku di sana aja sama mama dan Mala ya."

"Okay, yuk aku antar.." Rezza mengajak Sherin ke arah bangunan itu yang posisinya tepat di tengah-tengah area Taman Safari. Mereka juga parkir mobil tak jauh dari sana.

"Robi, saya sama Imran ke musholla dulu ya. Titip Sherin, mama, dan Ezra."

"Oke siap bang."

"Mah bentar ya, aku ke musholla dulu.." Rezza pamit ke Tante Rani.

"Iya Rezza. Mama mau liat-liat yang jualan. Nanti mama sholat di villa aja."

"Okay mah.." Rezza pergi ke arah musholla. Sherin memandangi Rezza yang berjalan menjauh lalu melempar pandangan ke Ezra yang sedang tidur di pelukannya.

"Uduh-uduh sayangku boboo.. Selamat bobo Ezra sayang mama.." Sherin menimang-nimang lembut tubuh mungil Ezra yang dibalut kain selimut tak terlalu tebal. Beberapa kali Mala menawarkan untuk gantian menggendong tapi Sherin menolak halus.


Beberapa saat berlalu, seseorang memperhatikan Sherin dari jauh. Ia kemudian mencoba mendekat setelah memastikan Sherin yang terakhir kali ia temui belum berhijab.

"Sherin?" seorang pria mendekat. Sherin yang saat itu sedang mengenakan kaftan berwarna biru tua dan hijab berwarna biru muda itu kaget melihat seorang yang terakhir kali ditemuinya bikin perkara di Kota Bandung. Robi menyaksikan dari meja sebelah.

"Andra?" Sherin kaget. Ia melihat sosok Andra di sana mengenakan baju seragam yang sama seperti para pekerja di Taman Safari itu.

"Sher. Kamu sama siapa?" Andra melirik sekitarnya, ia melihat Sherin menggendong bayi dan di sebelahnya wanita yang adalah Mala.

"Bukan urusan kamu." Sherin jawab ketus. Robi mendekat.

"Sher aku mau minta maaf soal waktu itu." Andra dengan tegas mengucapkan maaf. Sherin membuang muka tak sudi menengok ke Andra.

"Mas, lebih baik gausah dekat-dekat dengan istri bos saya." Robi menegur. Andra heran.

"Maaf, saya kenal Sherin. Saya cuma mau bicara sebentar." Andra sebetulnya berusaha bicara sopan. Ia terlihat jauh lebih tenang dari terakhir kali Sherin temui.

"Iya tapi pesan dari bos saya, jika ada orang yang Kak Sherin gak suka temui, saya harus beri peringatan." Robi menjawab.

"Sherin.. Aku beneran mau minta maaf soal waktu itu. Aku juga gak nyangka ketemu kamu di sini." Andra memaksa bicara ke Sherin. Robi pun menghalangi tubuh Andra dengan sigap.

"Lebih baik kamu pergi daripada nanti Mas Rezza liat." Sherin jawab.

"Yaudah Rezza mana? Aku mau bicara." Andra nampak sungguh-sungguh. Sherin pun merasa tak enak setelah melirik sejenak.

"Lagi ke musholla, bentar lagi juga balik." Sherin jawab ketus.

"Yaudah aku susulin ke musholla ya. Aku mau minta maaf sama Rezza." Andra pergi dari sana. Sherin memperhatikan.

"Aduh kenapa harus ketemu dia sih?" Sherin menggerutu.


Rezza sedang memakai sepatunya di depan musholla, ia baru saja menyelesaikan shalat Dzuhur bersama Imran.

"Rezza.." Rezza menoleh, awalnya ia senyum begitu melihat Andra Rezza nampak emosi.

"Ngapain lo di sini!" Rezza nampak tak suka.

"Gue tadi lihat Sherin di sana." Andra menunjuk ke arah Sherin.

"Gue sekarang kerja di sini sebagai petugas pengawas keamanan. Gue cuma mau minta maaf soal kejadian waktu itu." Andra memohon ke Rezza. Rezza menatap wajah Andra penuh curiga. Ia benar-benar kapok ramah kepada laki-laki yang pernah menaruh hati pada Sherin, teringat kelakuan bejat Aldi.

"Gue maafin lo, kalo lo gak ganggu Sherin lagi." Rezza jawab tegas.

"Iya Rezza. Gue murni hanya mau minta maaf. Gue sadar, habis kejadian waktu itu. Gue sadar dan gue udah hampir setahun sober. Sejak itu gue memutuskan jadi cowok yang lebih baik. Gue mau minta maaf sekaligus terima kasih sama lo Rezza." Andra ulurkan tangannya hendak menjabat. Imran stand by di sebelah Rezza.

Lihat selengkapnya