Bagaimana dengan kasus penculikan Sherin? Apakah Rezza terbebas dari tuntutan hukum apapun? Bagaimana dengan Fahmi, adik dari Toni? Lalu bagaimana kelanjutan kehidupan karakter-karakter penting di cerita ini seperti Ambar, Anya, Icha, dan juga Janice? Terakhir, apakah Hendro dan Clarissa jadi menikah?
Rezza dinyatakan terbebas dari segala tuntutan hukum. Selama persidangan, Rezza memutuskan tidak hadir dan diwakili kuasa hukumnya. Hakim menilai segala bukti sudah cukup menjelaskan bahwa kasus itu disimpulkan jika Rezza hanya melakukan pembelaan diri dan melindungi istrinya. Sejumlah bukti kuat adanya unsur perencanaan penculikan baik dari Aldi maupun teman-temannya yang terlibat, bukti berupa barang-barang pribadi di kamar Aldi di rumah orang tuanya, history chat, telepon, hingga penyewaan sebuah mobil van yang dipakai untuk melancarkan aksi tersebut. Hakim memutuskan Rezza tidak bersalah, semua pelaku dinyatakan tewas meski salah satu teman Aldi ada yang sempat masih bernyawa beberapa jam pasca kejadian itu. Tapi tak sampai 24 jam nyawanya melayang. Keempat orang yang sudah tewas itu terbukti valid ikut terlibat melakukan perencanaan dan penculikan kepada Sherin dari bukti dan temuan pihak penyidik dari kepolisian. Rezza pun dinyatakan tidak bersalah, tidak perlu wajib lapor, tidak ada sangkutan hukum apapun. Pihak orang tua Aldi dan beberapa keluarga dari pelaku lainnya juga memilih pasrah pada keputusan dan tidak berniat melakukan aksi lanjutan apapun. Setelah diusir dari rumah orang tua Sherin di Simprug juga orang tua Aldi tidak lagi mencoba mencari Sherin, ataupun Rezza. Mereka semua sadar kalau keempat pelaku memang bersalah.
Lalu Fahmi, beruntung Fahmi hanya menjadi saksi bersama Toni dalam kasus itu. Ia pun tidak diadili. Meski kita tahu Fahmi lah yang 'menghabisi' nyawa Aldi pada saat kejadian itu. Keadilan memang tidak terjadi di sini. Tapi Fahmi hanya melakukan apa yang ia pikir benar demi membela sahabat dari abangnya itu, sahabat dari Toni. Fahmi pun tidak buka mulut ataupun menyerahkan diri. Fahmi yang sudah terlatih menjadi seorang anggota institusi itu memilih untuk melanjutkan hidup tanpa merasa bersalah. Ia sudah meyakini hati dan pikirannya bahwa tindakannya adalah benar, meski bisa jadi salah di mata hukum. Beruntung juga tidak ada saksi mata, tidak ada kamera CCTV karena posisi kejadian tersebut benar-benar di sebuah ruas jalan beberapa ratus meter sebelum pintu Tol yang sepi dan tak ter-cover CCTV. Kasus ditutup.
Aldi, dia memang kondisi psikis dan kejiwaannya terganggu sejak kegagalan rumah tangganya. Ia mendapati anak yang dilahirkan dari mantan istrinya adalah bukan anaknya karena si mantan istri berselingkuh di belakangnya. Aldi benar-benar kecewa saat itu, psikisnya terganggu. Bahkan Aldi ternyata pernah harus rawat inap di sebuah rumah sakit jiwa di Jakarta Barat. Kedua orang tuanya sibuk bekerja, ayahnya seorang PNS yang sedang di transisi masa pensiun. Ibunya memiliki beberapa bisnis pribadi. Kesibukan kedua orang tuanya buat Aldi makin terpuruk karena kehilangan kasih sayang dan perhatian. Ditambah lagi ia terjerembab dengan lingkungan pertemanan yang toxic, ke-tiga pelaku lainnya adalah sahabat terdekat Aldi. Yang satu adalah teman sekantornya juga. Dua lagi adalah teman setongkrongannya. Aldi berteman dengan mereka bertiga karena mereka memang orang-orang bermasalah yang hidupnya sangat negative vibes. Yang gilanya adalah Sherin dan Rezza menjadi korban. Aldi, semakin terobsesi dengan Sherin sejak kejadian pertemuannya dengan Sherin di Citos waktu itu. Dia tak terima Sherin membentak Aldi saat itu, Aldi bercerita ke tiga kawan toxic-nya ini dan disarankan untuk pergunakan 'cara gaib.'
Ya seperti kita tahu, polisi menemukan bukti-bukti berupa benda-benda supranatural di kamar Aldi di rumah orang tuanya. Belum lagi sebongkah buhul yang ditemukan Pak Pardi di rumah gedebang. Itu semua bukti toxic-nya Aldi dengan teman sepertemanannya itu. Percaya tidak percaya, sikap Sherin yang pernah moody dan menolak disentuh Rezza beberapa waktu lalu saat awal hamil Ezra, mungkin bisa jadi efek dari perlakuan gaib Aldi itu. Tapi karena Sherin dan Rezza yang selalu bisa mengatasi itu, ditambah beberapa drama-drama lainnya seperti saat Rezza sampai dua kali masuk rumah sakit, justru Aldi makin menggila. Ia menghabiskan uang dan tabungannya untuk melancarkan obsesinya pada Sherin, dan itu semua didukung oleh teman-temannya yang sudah tewas itu. Kedua orang tua Aldi sama sekali tak tahu menahu mengenai hal itu. Yang mereka tahu cuma Aldi pernah bercerita kalau dia sedang jatuh hati pada kawan SMA-nya dulu, bernama Sherin.
Rezza seringkali teringat soal kejadian Aldi. Bukan waktu kejadian Sherin diculik, tapi soal hal-hal gaib yang dilakukan Aldi kepadanya, kepada Sherin. Rezza teringat di saat ia kecil dulu, keluarganya, kedua orang tuanya pernah mendapatkan perlakuan yang sama. Saat Rezza bersama orang tuanya tinggal di daerah Jakarta Pusat, ada beberapa pihak, tak hanya satu, mereka entah mengapa melakukan hal-hal gaib itu kepada keluarganya Rezza dan ditemukan lebih dari satu buhul saat itu di rumah kontrakan mereka. Rezza sakit hati rasanya setiap kali mengingat itu, mengingat bagaimana kedua orang tuanya yang hanya ingin menjalani hidup di Jakarta harus diperlakukan dengan sangat menjijikan oleh orang-orang yang percaya dengan hal-hal tersebut. Dulu, Rezza, Tante Kirana, dan Om Bagas tinggal di sebuah rumah kontrakan di daerah Cempaka Baru Jakarta Pusat karena rumah di Lebak Bulus yang dibeli oleh orang tua Rezza sejak ia SD dianggap terlalu jauh, orang tua Rezza juga memiliki pemikiran sekolah terbaik di Jabodetabek ya di pusatnya Jakarta, Jakarta Pusat. Hingga akhirnya setelah Rezza lulus SMA, mereka sekeluarga menyudahi tinggal di sana, apalagi sejak Rezza diterima di kampus nomor satu di Indonesia itu, mereka semakin mantap meninggalkan Jakarta Pusat. Rezza yang aslinya tidak mudah percaya dengan hal semacam itu, harus merasakan sendiri sejak ia kecil hingga remaja. Dan kini ketika dewasa, ia hanya berharap dan berdoa tak ada lagi orang-orang gila yang akan melakukan hal itu kepada dirinya lagi, maupun ke Sherin, dan orang-orang terdekatnya.
Saat ini Rezza dan Sherin rutin mengadakan pengajian dari berbagai kelompok kajian setiap satu bulan sekali. Rezza tersadar bahwa selama ini dia merasa jauh dari agama sejak kedua orang tuanya meninggal. Dulu kedua orang tua Rezza rutin mengajak Rezza juga mengikuti beberapa kajian dan pendalaman agama, salah satu tempat favorit kedua orang tua Rezza adalah di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat. Rezza sadar seharusnya ia meneruskan tradisi keagamaan dari orang tuanya itu. Tapi karena sekarang ia belum bisa kalau harus rutin ke masjid, Rezza putuskan untuk mengadakan pengajian itu di rumahnya sendiri. Beberapa keluarga dan kolega pun ikut serta bahkan Anya dan Icha juga seringkali datang jika diajak Rezza dan Sherin ikut pengajian di rumah gedebang. Mereka biasanya mengabarkan satu minggu sebelum acara. Itu semua menjadi rutinitas bulanan bagi orang-orang terdekat Rezza dan Sherin.
Anya semakin dekat dengan Paul, laki-laki terakhir yang menjalin hubungan dengannya. Anya pun semakin bisa berdamai dengan 'masa lalunya' bersama Rezza. Anya benar-benar sudah yakin bahwa ia memahami Rezza dan Sherin yang memang ditakdirkan untuk bersama, dan Anya adalah salah satu pemeran penting di dalam kisah itu. Hubungan Anya dan Rezza serta Sherin pun baik-baik saja. Sesekali ia menyempatkan diri mampir ke rumah gedebang untuk silaturahmi sekaligus berinteraksi dengan Ezra, si bayi kecil buah hati Sherin dan Rezza. Anya benar-benar merasa hubungannya dengan Rezza dan Sherin layaknya saudara tanpa terikat darah. Mereka terikat tak hanya di dunia kerja, tapi juga di hubungan casual sebagai teman yang saling menghargai dan saling mengasihi. Anya belum berencana melangkahkan hubungannya ke arah yang lebih serius, tapi setidaknya ia yakin Paul adalah laki-laki yang baik. Jauh lebih baik dari Patra. Kini Anya dan Paul sudah terikat dalam hubungan 'pacaran.'
Icha dan Ardi semakin serius. Bahkan Ardi meminta untuk bertemu dengan keluarga Icha. Satu waktu Icha mengajak Ardi ke kampung halamannya ketika ada libur long weekend. Orang tua Icha di Purbalingga, Jawa Tengah, sudah memberikan 'lampu hijau' untuk hubungan itu. Ardi memang benar-benar laki-laki yang baik. Pertemuan mereka pun dianggap berkat andil Sherin dan Rezza yang memperkenalkan mereka satu sama lain beberapa waktu lalu saat pemotretan untuk endorsement Sherin dan Rezza oleh Execloth, local brand milik Ardi. Mereka pun sangat menghormati Rezza dan Sherin karena itu. Ardi sudah ada niatan untuk mengajak Icha melangkah ke jenjang yang lebih serius. Pertemuan kedua dengan orang tua Icha, Ardi melamar Icha langsung ke orang tuanya. Ardi meminta izin kepada orang tua Icha untuk menikahinya. Ayah Icha pun menyambut baik. Mereka kini semakin sibuk merencanakan pernikahan yang rencananya akan dilangsungkan tahun depan. Kabar ini menjadi sebuah kabar membahagiakan untuk semua orang yang kenal dengan Icha. Si gadis cantik dan periang itu, yang akhirnya menemukan tambatan hatinya.