
Aryan selalu percaya bahwa dunia ini dibangun di atas fondasi logika yang absolut. Baginya, satu derajat kemiringan pada struktur bangunan bukanlah sebuah "cobaan" atau "takdir", melainkan murni pengkhianatan terhadap kalkulasi. Sebagai seorang arsitek yang menghabiskan separuh usianya di depan meja gambar, ia memandang alam semesta dengan cara yang sama: jika ada sebuah sistem, maka sistem itu haruslah presisi. Jika ada sebuah aturan, maka aturan itu tidak boleh mengandung kontradiksi. Namun, sore itu di bawah langit Jakarta yang mendung dan berat oleh polusi, keyakinan Aryan terhadap struktur moral manusia mulai mengalami retakan yang cukup dalam.
Ia berdiri di barisan belakang sebuah aula megah yang dindingnya dilapisi marmer Italia kelas satu—jenis marmer yang ia tahu persis berapa harga per meternya, karena ia sendiri yang merancang renovasi sayap kiri bangunan ini dua tahun lalu. Di depan sana, di atas sebuah podium kayu jati yang diukir dengan ketelitian seorang maestro, berdiri seorang pria bernama Ustadz Hamzah. Pria itu adalah pusat gravitasi bagi ribuan orang yang hadir. Suaranya berat, berwibawa, dan memiliki getaran yang mampu membuat bulu kuduk pendengarnya berdiri saat ia bicara tentang kesederhanaan dan pengorbanan demi jalan langit.
Aryan memperhatikan dengan saksama. Bukan pada isi ceramahnya, melainkan pada ketidaksesuaian yang mulai terdeteksi oleh matanya yang tajam. Ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan sang tokoh agama saat ia mengangkat tangan untuk berdoa—sebuah jam tangan kronograf edisi terbatas yang harganya setara dengan biaya hidup sepuluh keluarga selama setahun di pinggiran kota.
Logika Aryan mulai berdenyut. Premis A Mengajarkan kesederhanaan.