Membongkar Tuhan : Catatan seorang penyelidik

G Wira Negara
Chapter #2

Chapter 2: Pasar Surga

​Debu jalanan di kawasan pusat ziarah ini terasa berbeda—ia lengket, berbau keringat, dan membawa aroma kemenyan yang bercampur dengan asap knalpot bus-bus tua. Aryan berdiri di tepian trotoar yang sesak, memperhatikan bagaimana ribuan orang mengalir seperti air bah menuju sebuah kompleks makam keramat yang kubahnya berkilat ditimpa matahari siang. Sebagai pria yang terbiasa dengan keheningan ruang studio arsitekturnya, kebisingan di sini terasa seperti serangan fisik. Namun, ia tidak datang untuk berdoa. Ia datang sebagai seorang penyelidik yang membawa nalar di saku kemejanya.

​Pemandangan di hadapannya adalah sebuah keanehan besar. Di gerbang utama, ia melihat barisan pengemis dengan tatapan kosong, sementara hanya beberapa meter di samping mereka, kios-kios berjajar rapi menjual "potongan surga" dalam bentuk fisik. Ada gantungan kunci berlogo suci, botol-botol air yang diklaim telah dibacakan doa ribuan kali, hingga kain-kain pembungkus yang harganya melonjak sepuluh kali lipat hanya karena label keberkahan. Aryan mencatat dalam benaknya Tuhan, di tempat ini, telah berhasil dikemas, diberi label harga, dan dipasarkan dengan strategi yang jauh lebih agresif daripada produk teknologi terbaru di pusat kota.

​Ia berjalan mendekati salah satu kios besar yang dikerumuni ibu-ibu. Sang penjual, seorang pria paruh baya dengan kopiah miring dan suara yang serak karena terlalu banyak berteriak, sedang mempromosikan sebuah minyak wangi kecil. "Ini minyak langsung dari tanah para wali," teriaknya. "Bisa melancarkan rezeki, bisa menjauhkan sial."

​Aryan mendekat, matanya menyipit memperhatikan botol kaca murahan itu. "Berapa harganya, Pak?"

​"Untuk kamu, Mas, seratus ribu saja. Ini berkah, jangan dilihat harganya," jawab si penjual dengan senyum yang tidak mencapai matanya.

​Aryan tersenyum tipis, sebuah senyum yang getir. "Perhitungan harganya dari mana, Pak? Biaya produksi, distribusi, atau nilai magisnya?"

​Si penjual mendengus, merasa terganggu oleh pertanyaan yang tidak lazim di tempat itu. "Ini soal iman, Mas. Kalau hitung-hitungan, jangan di sini. Di sini tempatnya mencari karomah."

​Aryan berlalu tanpa membeli. Ia masuk lebih dalam ke area selasar makam. Di sana, ia melihat antrean manusia yang rela berdesakan, saling sikut, bahkan ada yang jatuh pingsan hanya untuk menyentuh nisan atau sekadar mencium bau wangi yang keluar dari dalam ruangan tertutup itu. Ia melihat wajah-wajah yang penuh keputusasaan—orang-orang yang mungkin sedang dikejar hutang, yang sedang sakit parah, atau yang sekadar mencari pelarian dari kerasnya hidup. Mereka memberikan uang terakhir mereka ke dalam kotak-kotak sumbangan yang tersebar di setiap sudut, berharap ada mukjizat yang bisa dibeli dengan lembaran rupiah tersebut.

Lihat selengkapnya