Langit di kota satelit ini tampak pucat, seolah-olah warna biru telah diperas habis oleh ketegangan yang menggantung di udara. Aryan berdiri di sudut sebuah gang sempit yang diapit oleh dinding-dinding beton kusam penuh coretan kemarahan. Ia datang ke sini karena mendengar desas-desus tentang sebuah "pembersihan"—istilah eufemisme yang sering digunakan untuk menutupi kebrutalan. Sebagai seorang arsitek, Aryan memahami bahwa sebuah struktur akan runtuh jika beban yang diberikan melebihi kapasitas tumpuannya. Namun, apa yang ia saksikan hari ini bukanlah tentang beban beton, melainkan tentang beban kebencian yang meledak di bawah payung kesucian.
Di ujung jalan, sekelompok pria dengan pakaian serba putih—warna yang seharusnya melambangkan kemurnian—sedang mengepung sebuah bangunan kecil yang tampak rapuh. Bangunan itu bukan sebuah monumen megah, hanya sebuah tempat berkumpul bagi mereka yang memiliki keyakinan sedikit berbeda dari mayoritas. Aryan memperhatikan dari kejauhan, matanya yang tajam merekam setiap detail gerakan layaknya ia sedang memindai kesalahan pada denah konstruksi.
Ia melihat wajah-wajah itu. Tidak ada kedamaian di sana. Yang ada hanyalah rahang yang mengeras, mata yang memerah karena amarah yang dipupuk, dan tangan-tangan yang menggenggam kayu serta batu. "Atas nama Tuhan!" teriak salah satu dari mereka, suaranya parau dan penuh dengan getaran yang mengerikan. Bagi Aryan, teriakan itu terdengar seperti sebuah ironi yang memekakkan telinga. Bagaimana mungkin nama Sang Pencipta, yang sering diklaim sebagai Maha Pengasih, digunakan sebagai aba-aba untuk menghancurkan kehidupan sesama manusia?
Batu pertama melayang, memecahkan kaca jendela dengan bunyi denting yang tajam. Bunyi itu seolah menjadi pelatuk bagi anarki yang lebih besar. Aryan menyaksikan dengan perasaan mual yang merayap di tenggorokannya bagaimana sekelompok orang itu merangsek masuk, menyeret penghuninya keluar, dan melakukan kekerasan fisik tanpa sedikit pun keraguan. Ia mencatat dalam benaknya dengan pahit: "Mereka bicara bahasa langit, tapi bertaring serigala."
Logika Aryan mulai bekerja, mencoba mencari celah rasional dalam kegilaan ini. Secara matematis, kekerasan ini tidak menambah nilai apa pun pada keimanan mereka. Ia justru melihat sebuah paradoks yang fatal untuk mempertahankan apa yang mereka sebut sebagai "kesucian", mereka harus menanggalkan kemanusiaan mereka sendiri. Mereka menjadi binatang di bawah jubah-jubah yang melambai tertiup angin.