Membongkar Tuhan : Catatan seorang penyelidik

G Wira Negara
Chapter #4

Chapter 4: mencari Arsitek di balik awan?

Hujan turun tipis-tipis di luar, mengubah kaca jendela kedai kopi tua itu menjadi kanvas buram yang membiaskan lampu-lampu jalanan. Aryan duduk di sebuah sudut yang agak tersembunyi, di mana aroma biji kopi yang baru dipanggang berusaha keras mengalahkan bau tanah basah yang menyusup masuk lewat celah pintu. Di hadapannya, sebuah cangkir porselen berisi cairan hitam pekat mulai mendingin, diabaikan oleh pemiliknya yang sedang asyik menatap sebuah sketsa struktur bangunan yang tak kunjung selesai.

​Malam itu, ia sengaja datang ke tempat ini bukan untuk urusan pekerjaan, melainkan untuk sebuah janji temu yang telah ia rancang sendiri. Ia merasa perlu berbenturan dengan dinding pikiran yang berbeda. Setelah menyaksikan mimbar yang retak, pasar yang mengeksploitasi iman, dan kekerasan yang dibungkus jubah, Aryan merasa nalar spiritualnya sedang berada di titik nadir.

​Pintu kedai berdenting, dan seorang pria dengan jaket kulit lusuh masuk. Namanya Baskara. Ia adalah seorang mantan jurnalis yang kini lebih banyak menghabiskan waktunya sebagai penulis kolom opini yang tajam dan tak jarang provokatif. Baskara dikenal sebagai seorang ateis militan, seseorang yang memandang konsep Tuhan sebagai dongeng pengantar tidur bagi mereka yang takut pada kegelapan kematian.

​Baskara menarik kursi di depan Aryan tanpa permisi, lalu tersenyum sinis. "Masih mencari Arsitek di balik awan, Yan?" tanyanya sambil menyalakan rokok, mengabaikan tanda dilarang merokok yang tertempel di dinding kayu.

​Aryan menutup buku catatannya pelan. "Aku sedang mencari logika, Bas. Sesuatu yang tampaknya hilang dari orang-orang yang mengaku memiliki kunci surga."

​Baskara tertawa kecil, suara tawanya kering seperti kertas tua. "Logika? Kau mencari logika di dalam agama itu seperti mencari sudut di dalam lingkaran. Sia-sia. Kau sudah lihat sendiri, kan? Mereka bicara tentang kasih tapi memegang parang. Mereka bicara tentang kejujuran tapi mencuri uang umat. Semuanya itu hanya mekanisme kontrol sosial yang sudah usang."

​Aryan menyesap kopinya yang pahit. "Aku setuju dengan pengamatanmu tentang perilaku mereka, Bas. Tapi bagiku, kesalahan para penganut tidak secara otomatis menghapus keberadaan Sang Pencipta. Jika seorang tukang bangunan melakukan kesalahan saat menyemen dinding, itu bukan berarti arsiteknya tidak ada atau gambar rancangannya salah. Bisa jadi, mereka saja yang tidak bisa membaca gambar dengan benar."

​Baskara mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berkilat di bawah lampu temaram. "Itu pembelaan klasik. Masalahnya, Yan, tidak pernah ada gambar rancangan itu. Yang ada hanyalah alam semesta yang berjalan secara acak, sebuah kebetulan kosmik yang luar biasa besar. Tuhan hanyalah variabel yang kita ciptakan untuk mengisi lubang-lubang ketidaktahuan kita. God of the gaps[1]."

Lihat selengkapnya