Pagi itu, suasana kota terasa mencekik dengan rutinitas yang presisi namun gersang. Aryan berdiri di depan jendela kantornya untuk terakhir kali, menatap kerumunan orang yang berbondong-bondong menuju tempat ibadah di seberang jalan. Hari itu adalah hari besar, di mana ritual dijalankan secara masif, serentak, dan penuh dengan koreografi yang tampak sempurna dari ketinggian lantai dua puluh. Namun, bagi mata seorang arsitek yang terbiasa melihat melampaui fasad, pemandangan itu justru terasa mengerikan.
Ia melihat ribuan orang sujud dan berdiri dalam ritme yang sama, menciptakan harmoni visual yang luar biasa. Namun, saat ia turun ke jalan dan berbaur dengan massa setelah ritual usai, harmoni itu pecah berkeping-keping. Ia melihat seorang pria yang baru saja selesai berdoa dengan dahi yang masih membekas tanda sujud, dengan kasarnya mendorong seorang pengemis tua yang menghalangi jalan mobil mewahnya. Ia mendengar caci maki keluar dari mulut-mulut yang beberapa menit lalu melantunkan puji-pujian suci.
Aryan mencatat fenomena ini sebagai "Ritual Tanpa Ruh". Baginya, "ini adalah sebuah kegagalan sistemik dalam arsitektur jiwa manusia. Jika sebuah struktur dirancang untuk menahan beban, namun roboh saat ditiup angin sepoi-sepoi, maka ada yang salah dengan material penyusunnya. Begitu pula dengan orang-orang ini; mereka begitu taat menjalankan hukum agama, menghafal setiap pasal dan ayat, namun kehilangan empati dasar yang seharusnya menjadi fondasi dari kemanusiaan itu sendiri."
"Mereka membangun menara ego di atas fondasi kesalehan yang rapuh," tulis Aryan di buku catatannya sambil duduk di sebuah taman yang menghadap ke jalan keluar tempat ibadah tersebut. Ia teringat pada percakapannya dengan Baskara di kedai kopi tempo hari. Baskara mungkin benar tentang satu hal agama seringkali hanya menjadi topeng. Namun, Aryan melangkah lebih jauh. Ia melihat bahwa orang-orang ini bukan sekadar berpura-pura; mereka benar-benar percaya bahwa mereka telah menjadi orang suci hanya karena telah menunaikan kewajiban mekanis tersebut.
Kehilangan empati dasar ini adalah apa yang disebut Aryan sebagai "Penyakit Presisi yang Salah Sasaran". Mereka sangat presisi dalam menentukan panjang janggut, cara berpakaian, atau durasi doa, namun sama sekali tidak akurat dalam mengukur rasa sakit orang lain. Struktur moral mereka miring, lebih condong pada penampilan luar daripada stabilitas internal.
Aryan kemudian bertemu dengan seorang rekan lama, seorang pengusaha sukses yang dikenal sangat taat. Di sela-sela makan siang, pria itu dengan bangga bercerita tentang bagaimana ia berhasil memenangkan tender proyek besar dengan cara menyuap pejabat, namun ia segera menyambung ceritanya dengan rencana peresmian masjid baru yang ia bangun di kampung halamannya.