Membongkar Tuhan : Catatan seorang penyelidik

G Wira Negara
Chapter #6

Chapter 6: Keputusan berangkat

Pagi itu, bandara terasa seperti sebuah ruang antara—sebuah limbo[2] di mana ribuan jiwa berada dalam kondisi transisi, tidak lagi berada di titik asal namun belum sampai ke tujuan. Aryan berdiri di depan papan keberangkatan yang terus berganti angka dengan bunyi klak-klak-klak yang ritmis, sebuah suara yang bagi telinganya terdengar seperti detak jam mekanis raksasa yang sedang menghitung mundur sisa-sisa kehidupan lamanya. Ia membawa satu tas punggung besar yang berisi beberapa potong pakaian, kamera tua, dan buku catatan yang kini telah menjadi kompas pribadinya.

​Keputusannya untuk meninggalkan pekerjaan sebagai arsitek senior di firma ternama adalah sebuah tindakan yang dianggap gila oleh rekan-rekan sejawatnya. Namun bagi Aryan, menetap di sebuah sistem yang ia yakini sedang runtuh secara moral adalah kegilaan yang jauh lebih besar. Ia tidak bisa lagi menggambar garis-garis presisi di atas kertas sementara hidupnya sendiri terasa miring dan penuh dengan kompromi yang memuakkan.

​"Tujuan akhir Anda?" tanya petugas imigrasi dengan nada datar tanpa melihat wajahnya.

​"Mencari kebenaran yang tidak kontradiktif," jawab Aryan pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri.

​Petugas itu hanya menempelkan stempel pada paspornya dengan bunyi jedug yang final, mengabaikan jawaban filosofis itu sebagai sekadar ocehan turis yang bosan dengan hidupnya. Bagi sistem, Aryan hanyalah satu angka statistik yang berpindah yurisdiksi. Namun bagi Aryan, setiap langkah menjauh dari gerbang keberangkatan adalah sebuah pembebasan dari rantai dogma yang selama ini mengikatnya.

​Di dalam pesawat, ia duduk di kursi dekat jendela, menatap sayap baja yang membelah awan. Ia merenungkan bab-bab sebelumnya yang ia lalui di kota asalnya. Ia teringat Ustadz Hamzah yang membangun mimbar di atas tumpukan uang suap, pasar-pasar ziarah yang menjual Tuhan dalam kemasan botol plastik, dan gang sempit di mana manusia berubah menjadi binatang hanya karena perbedaan cara menyembah. Semua itu adalah distorsi. Semua itu adalah kegagalan desain manusia yang mencoba mendefinisikan Tuhan untuk kepentingan perut dan egonya sendiri.

​Aryan mengeluarkan buku catatannya dan menuliskan judul bab baru "Keputusan Berangkat."

Lihat selengkapnya