Aryan melangkah masuk ke dalam sebuah kota yang seolah-olah dibangun hanya untuk memuliakan langit. Di sini, kubah-kubah berlapis emas murni menjulang tinggi, memantulkan cahaya matahari dengan intensitas yang hampir membutakan mata. Ia kini berada di jantung sebuah institusi agama yang telah berdiri selama berabad-abad, sebuah tempat di mana hukum Tuhan tidak hanya dibisikkan di dalam hati, tetapi dipahat di atas batu dan ditegakkan dengan pedang otoritas. Sebagai seorang arsitek, ia terpesona oleh proporsi bangunan yang ada di hadapannya; lengkungan yang sempurna, geometri yang rumit, dan simetri yang seolah-olah mencoba meniru keteraturan galaksi. Namun, ia datang bukan untuk mengagumi estetika. Ia datang untuk membedah teks.
Di bawah bayang-bayang pilar marmer yang dingin, Aryan menghabiskan waktu berhari-hari di perpustakaan tua yang pengap oleh bau kertas kuno dan tinta kering. Ia mulai mempelajari teks-teks suci dan kitab hukum dengan pendekatan seorang insinyur yang sedang memeriksa cetak biru sebuah bendungan raksasa. Ia mencari celah, ia mencari kekuatan struktural, dan yang paling penting, ia mencari konsistensi.
"Jika ini adalah kata-kata dari Sang Arsitek Agung," pikirnya sambil membalik halaman perkamen yang rapuh, "maka seharusnya tidak ada satu pun instruksi yang saling bertabrakan."
Awalnya, Aryan menemukan keindahan yang luar biasa. Ia menemukan ayat-ayat yang bicara tentang keadilan sosial, perlindungan bagi yang lemah, dan keteraturan alam semesta yang menakjubkan. Ada semacam ketenangan dalam logika bahwa hidup ini memiliki aturan main yang jelas. Namun, ketenangan itu segera terganggu ketika ia mulai berdialog dengan para penafsir teks di sana. Ia mendapati bahwa keindahan teks tersebut seringkali tercekik oleh interpretasi manusia yang kaku dan hitam-putih.
Ia duduk di sebuah madrasah kecil, berhadapan dengan seorang pria tua yang wajahnya dipenuhi garis-garis waktu, namun matanya memancarkan ketegasan yang tidak mengenal kompromi. Mereka berdiskusi tentang sebuah pasal hukum yang menurut Aryan terasa sangat diskriminatif terhadap kelompok tertentu.
"Ini adalah hukum Tuhan, anak muda," ujar pria tua itu dengan nada yang tidak menerima bantahan. "Tugas kita bukan untuk mempertanyakannya dengan akal kita yang terbatas, tapi untuk patuh secara mutlak."