Aryan melangkah keluar dari stasiun kereta bawah tanah di sebuah kota yang arsitekturnya tidak lagi memuja langit dengan menara doa, melainkan dengan gedung-gedung laboratorium yang dingin dan kaku. Di sini, cahaya matahari tidak dipantulkan oleh kubah emas, melainkan diserap oleh panel-panel surya dan dinding kaca laboratorium tingkat tinggi. Ini adalah kota di mana sains adalah bahasa ibu, dan ketidakpastian adalah musuh yang harus ditaklukkan dengan angka di belakang koma.
Ia telah menanggalkan jubah kemarahan sosiologisnya di kota asal, dan telah membilas jiwanya dalam keheningan biara di pegunungan. Kini, Aryan berdiri di depan sebuah pusat penelitian genetika dan fisika partikel yang paling prestisius. Ia membawa satu pertanyaan besar yang tersisa di buku catatan hitamnya Jika Sang Arsitek memang ada, apakah Dia meninggalkan tanda-Nya di dalam blueprint atomik[4] kita?
Di dalam gedung yang aromanya didominasi oleh cairan pembersih dan sirkulasi udara mekanis, Aryan bertemu dengan Dr. Elena, seorang ahli biologi molekuler yang menghabiskan tiga dekade hidupnya membedah urutan DNA manusia. Elena adalah tipe ilmuwan yang tidak punya waktu untuk basa-basi metafisika. Baginya, kehidupan adalah hasil dari reaksi kimia yang sangat kompleks, tak lebih dan tak kurang.
"Anda seorang arsitek, Aryan," ujar Elena sambil menyesuaikan fokus mikroskop elektronnya. "Anda pasti tahu bahwa keindahan sebuah bangunan berasal dari material yang menyusunnya. Di sini, kami tidak melihat 'jiwa'. Kami melihat kode."
Aryan mendekat, menatap layar monitor yang menampilkan struktur heliks ganda DNA yang tampak seperti tangga spiral yang tak berujung. Sebagai seorang perancang bangunan, ia segera mengenali pola tersebut. Itu adalah desain yang sangat efisien, sangat stabil, dan luar biasa padat dalam menyimpan informasi.
"Dokter," suara Aryan terdengar rendah, menggema di ruang lab yang sunyi. "Saya terbiasa melihat kode bangunan. Jika saya melihat sebuah denah yang memiliki ribuan instruksi rumit yang saling terkait tanpa ada satu pun kesalahan logika, saya akan langsung menyimpulkan bahwa ada seorang arsitek yang sangat jenius di balik itu. DNA manusia memiliki tiga miliar pasangan basa. Probabilitas bahwa urutan sespesifik ini terbentuk secara acak... bukankah itu secara matematis hampir mustahil?"
Elena tersenyum, jenis senyum yang sering diberikan orang dewasa kepada anak kecil yang masih percaya pada dongeng. "Itu disebut seleksi alam, Aryan. Waktu yang sangat lama dan percobaan yang tak terhitung jumlahnya. Tidak butuh desainer jika Anda punya waktu miliaran tahun."
Aryan mencatat jawaban itu, tapi pikirannya tidak puas. Ia merasa ada yang hilang dalam penjelasan Elena. Ia mulai menghabiskan malam-malamnya di perpustakaan digital pusat penelitian tersebut, membaca tentang Fine-Tuning alam semesta[5]. Ia menemukan fakta bahwa jika gaya gravitasi atau gaya nuklir kuat berbeda satu per sejuta triliun saja, bintang-bintang tidak akan pernah terbentuk, dan kita tidak akan pernah ada.