Membongkar Tuhan : Catatan seorang penyelidik

G Wira Negara
Chapter #11

Chapter 11: Teror kehampaan

​Aryan Bratadikara melangkah turun dari bus tua yang mengepulkan asap hitam di tepian gurun yang seolah tak berujung. Di sini, peradaban hanyalah garis tipis di kaca spion yang perlahan menghilang. Tidak ada lagi kubah emas, tidak ada laboratorium kaca, dan tidak ada biara yang terlindung tebing. Yang ada hanyalah horizontalitas yang mutlak—pertemuan antara bumi yang cokelat terbakar dan langit yang biru pucat tanpa awan.

​Ia datang ke tempat ini dengan satu tujuan yang sangat teknis Uji Tekan terhadap Eksistensi. Sebagai arsitek, ia tahu bahwa untuk menguji kekuatan sebuah material, Anda harus menempatkannya dalam kondisi ekstrem. Dan gurun adalah ruang hampa yang akan memeras keluar semua ilusi yang masih menempel di kepalanya.

"Di sini, tidak ada tempat untuk bersembunyi dari diri sendiri," tulis Aryan di halaman pertama bab berikutnya. Angin gurun yang kering membuat kertas catatannya terasa kaku, seolah-olah alam sedang mencoba mengubah bukunya menjadi sekeping kayu.

​Ia menyewa seorang pemandu lokal yang hanya mau mengantarnya sampai ke sebuah oasis kecil yang hampir mati, lalu meninggalkannya di sana dengan persediaan air untuk satu minggu. Pemandu itu menatap Aryan dengan tatapan yang sulit diartikan—mungkin menganggap pria kota ini sedang mencari cara yang sangat rumit untuk mengakhiri hidup. Namun bagi Aryan, ini adalah laboratorium barunya. Sebuah laboratorium tanpa dinding.

​Pada dua hari pertama, kesunyian itu terasa seperti beban fisik. Di kota, kesunyian adalah ketiadaan suara. Di gurun, kesunyian adalah entitas yang hidup. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri begitu keras, seolah-olah dadanya adalah ruang gema sebuah katedral. Ia mulai merasakan apa yang ia sebut sebagai "Teror Kehampaan". Tanpa struktur sosial, tanpa pekerjaan, dan tanpa simbol agama di sekitarnya, Aryan Bratadikara mulai kehilangan definisinya tentang siapa dirinya.

​Jika aku bukan seorang arsitek terpandang, jika aku bukan seorang penyelidik, lalu siapa aku di tengah pasir yang tidak peduli pada namaku ini?

Lihat selengkapnya