Setelah meninggalkan kekosongan mutlak di padang pasir, Aryan Bratadikara tidak membawa pulang pencerahan yang megah, melainkan sebuah kerendahan hati yang perih. Kulitnya yang mengelupas dan bibirnya yang pecah-pecah adalah saksi bahwa ego sang arsitek telah hancur. Namun, ujian sesungguhnya bagi nalar barunya bukan lagi pada pasir yang diam, melainkan pada darah dan air mata manusia yang nyata.
Ia melakukan perjalanan ke perbatasan utara, menuju sebuah kamp pengungsian yang terjepit di antara dua negara yang sedang berseteru. Tempat itu adalah luka terbuka di atas kulit bumi. Jika gurun adalah laboratorium ketiadaan, maka kamp ini adalah laboratorium penderitaan.
Aryan berdiri di depan gerbang kawat berduri yang membatasi ribuan tenda kanvas kusam. Bau udara di sini adalah campuran antara debu kering, sanitasi yang buruk, dan keputusasaan yang menggantung pekat. Di sini, ribuan manusia kehilangan segala hal yang mendefinisikan keberadaan mereka tentang rumah, status, keluarga, dan masa depan. Bagi seorang arsitek yang menghabiskan hidupnya menciptakan ruang untuk kenyamanan, melihat manusia tinggal di dalam kantong-kantong plastik dan kain bekas adalah sebuah tamparan pada martabat intelektualnya.
Ia datang sebagai relawan logistik, namun mata penyelidiknya tetap bekerja. Di buku catatan hitamnya yang kini sudah hampir penuh, ia menuliskan satu pertanyaan yang menghantui pikirannya sejak di bus tadi pagi "Theodicy[6]. Jika Tuhan adalah Sang Arsitek yang Maha Adil, mengapa ada kesalahan desain yang sedemikian brutal dalam distribusi nasib manusia?"
Hari-hari pertamanya diisi dengan membagikan jatah roti dan air bersih. Ia melihat antrean panjang yang tidak pernah habis. Di dalam antrean itu, ia melihat wajah-wajah yang seharusnya ada di dalam buku teks teologi tentang "kesabaran". Namun, ia tidak menemukan kesabaran yang romantis; yang ia temukan adalah kelelahan yang mematikan saraf.
Aryan bertemu dengan seorang wanita paruh baya bernama Mariam. Wanita itu duduk di depan tendanya setiap sore, menatap ke arah pegunungan yang memisahkan mereka dari tanah kelahiran yang telah rata dengan tanah. Mariam kehilangan tiga anaknya dalam satu malam pengeboman. Ironisnya, pengeboman itu dilakukan oleh pihak yang juga meneriakkan nama Tuhan sebelum melepaskan pelatuknya.
"Apakah kau masih berdoa, Mariam?" tanya Aryan suatu kali saat ia memberikan jatah air tambahan.
Mariam menatap Aryan dengan mata yang jernih, namun kosong dari segala harapan duniawi. "Doaku sudah habis, Tuan. Sekarang aku hanya bernapas. Bukankah napas adalah doa yang paling jujur?"