Membongkar Tuhan : Catatan seorang penyelidik

G Wira Negara
Chapter #13

Chapter 13: Tarian di atas luka

Setelah meninggalkan debu dan tangis di kamp pengungsian, Aryan Bratadikara membawa sebuah luka baru di dalam batinnya—sebuah luka yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan logika struktur atau kalkulasi beban. Ia merasa bahwa selama ini ia telah membedah dunia seperti seorang dokter forensik yang hanya memeriksa mayat; ia tahu anatominya, tapi ia tidak pernah mengerti energinya.

​Langkah kakinya kini membawanya ke sebuah kota tua di wilayah Persia, sebuah tempat di mana dinding-dinding batunya tampak menyimpan gema dari puisi-puisi kuno yang tidak lekang oleh waktu. Ia datang untuk mencari apa yang disebut orang sebagai "Mistisisme"—sebuah konsep yang selama ini ia anggap sebagai pelarian bagi orang-orang yang gagal berpikir logis. Namun, setelah melihat penderitaan Mariam di bab sebelumnya, Aryan menyadari bahwa logika kering pun gagal memberikan jawaban atas rasa sakit.

​​Malam di kota tua ini terasa dingin, namun ada semacam kehangatan yang merayap dari arah sebuah bangunan berkubah biru pudar yang terletak di ujung jalan berliku. Aryan masuk ke dalam sebuah ruang lingkaran besar yang hanya diterangi oleh lampu-lampu minyak yang berkedip pelan. Di sana, di tengah ruangan yang berlantai kayu jati halus, sekelompok pria berjubah putih panjang dan bertopi tinggi mulai bergerak.

​Mereka tidak sedang menari untuk hiburan. Mereka sedang melakukan Sema—tarian darwis yang berputar.

​Aryan duduk di pojok ruangan, menyandarkan punggungnya pada pilar batu yang dingin. Ia mengeluarkan buku catatan hitamnya, namun tangannya ragu untuk mulai menulis. Matanya terpaku pada gerakan para darwis itu. Satu tangan mereka menengadah ke atas, ke langit, sementara tangan yang lain menunjuk ke bawah, ke bumi. Mereka berputar dengan kecepatan yang konstan, menciptakan pusaran kain putih yang tampak seperti galaksi yang sedang mendingin.

​"Kenapa mereka harus berputar?" gumam Aryan pelan.

​Seorang pria tua dengan janggut putih yang tampak seperti perak, duduk tak jauh darinya, menyahut tanpa menoleh. "Karena segalanya berputar, Anak Muda. Elektron berputar mengelilingi inti atom, bumi berputar mengelilingi matahari, dan hati manusia harus berputar mengelilingi pusat kebenaran. Jika kau berhenti berputar, kau mati."

​Aryan Bratadikara, sang arsitek yang kaku, mencoba mencerna kalimat itu dengan nalar teknisnya. "Tetapi bukankah berputar tanpa henti hanya akan membuatmu pusing dan kehilangan arah?"

​Pria tua itu, yang kemudian dikenal Aryan sebagai Syekh Jalal, tersenyum tipis. "Pusing hanya terjadi jika kau masih memiliki 'aku' di dalam dirimu. Jika kau melepaskan beban identitasmu—gelarmu, namamu, luka-lukamu—maka putaran itu justru akan menjadi titik diam yang paling tenang di alam semesta. Di pusat badai, selalu ada kedamaian."

​Aryan mencatat percakapan itu dengan perasaan skeptis namun tertarik. Ia menulis Bab "Tarian di Atas Luka". Aku melihat manusia yang mencoba menyelaraskan tubuh mereka dengan frekuensi kosmos. Mereka menyebutnya cinta. Aku menyebutnya sinkronisasi getaran.

Lihat selengkapnya