Setelah meninggalkan keheningan puitis dan tarian mistis di kota tua Persia, Aryan Bratadikara terbang menuju sebuah metropolis yang dikenal sebagai pusat hukum dan diplomasi dunia. Ia membawa satu tesis baru di dalam sakunya Jika semesta diatur oleh hukum yang presisi, mengapa hukum buatan manusia—yang katanya seringkali mengambil inspirasi dari langit—terasa begitu rapuh, bengkok, dan mudah dimanipulasi?
Ia tidak lagi mengenakan pakaian petualang yang lusuh. Di kota ini, Aryan kembali mengenakan setelan jas miliknya, bukan untuk bekerja sebagai arsitek, melainkan untuk menyamar sebagai seorang peneliti kebijakan publik. Ia ingin masuk ke dalam ruang-ruang di mana keadilan diproduksi dan dijual.
Aryan berdiri di depan sebuah gedung pengadilan tinggi yang megah. Arsitekturnya bergaya neoklasik, dengan pilar-pilar Dorian[7] yang besar dan kokoh, seolah-olah mencoba meneriakkan pesan bahwa keadilan di sini tidak akan bisa digoyahkan. Namun, mata Aryan yang terlatih segera melihat apa yang tidak dilihat orang awam. Ia melihat bagaimana fasad bangunan yang megah itu hanyalah kulit luar yang menutupi koridor-koridor gelap di dalamnya—tempat di mana angka-angka di atas kertas hukum bisa diubah sesuai dengan tebalnya dompet sang terdakwa.
Ia melangkah masuk, merasakan kedinginan lantai marmer yang kontras dengan panasnya perdebatan di dalam ruang sidang. Di buku catatan hitamnya yang kini kian menebal, ia menuliskan judul Bab "Labirin Keadilan." Di bawahnya, sebuah catatan kecil yang tajam "Hukum tanpa keadilan adalah seperti gedung tanpa pondasi; ia tampak berdiri, namun sebenarnya ia sedang menunggu waktu untuk runtuh dan menimpa siapa saja di bawahnya."
Selama beberapa minggu, Aryan menghadiri berbagai persidangan. Ia melihat seorang pria miskin dijatuhi hukuman berat hanya karena mencuri sepotong roti demi anaknya, sementara di ruang sebelah, seorang korporat yang menggelapkan dana miliaran rupiah berjalan keluar dengan senyuman lebar setelah hakim memberikan vonis "tidak terbukti secara sah".
Aryan merasa mual. Logika presisinya berontak. Jika alam semesta ini memiliki hukum gravitasi yang berlaku sama bagi raja maupun pengemis, mengapa hukum manusia justru memiliki elastisitas yang memuakkan?
"Tuan Bratadikara," suara seorang pria paruh baya memecah lamunannya di kantin gedung pengadilan. Pria itu adalah seorang pengacara senior bernama Marcus, yang telah lama menjadi "arsitek" di balik banyak kemenangan hukum yang kontroversial. "Anda tampak seperti orang yang sedang mencari sesuatu yang tidak ada di gedung ini."
Aryan menatap Marcus datar. "Saya mencari keadilan, Tuan Marcus. Tapi yang saya temukan di sini hanyalah permainan kata-kata dan manipulasi prosedur."
Marcus tertawa, sebuah tawa kering yang terdengar seperti gesekan kertas dokumen. "Keadilan adalah konsep abstrak untuk orang-orang romantis, Aryan. Di sini, yang ada hanyalah 'kepastian hukum'. Dan kepastian itu dibangun di atas bukti, saksi, dan tentu saja, pengaruh. Hukum itu seperti semen; ia bisa dibentuk menjadi apa saja selama ia masih basah, dan akan mengeras menjadi kenyataan yang harus diterima semua orang setelah vonis dijatuhkan."