Aryan Bratadikara meninggalkan hiruk-pikuk pengadilan dengan rasa muak yang sudah mengkristal menjadi sebuah ketenangan yang dingin. Ia menyadari bahwa tembok-tembok marmer dan pilar-pilar Dorian itu bukanlah pelindung kebenaran, melainkan benteng yang melindungi kemunafikan. Perjalanannya kini membawanya ke sebuah wilayah pinggiran yang keras, tempat sebuah bangunan beton kusam berdiri di balik kawat berduri dan penjagaan ketat. Sebuah penjara pusat yang menampung ribuan jiwa yang dianggap sebagai "sampah" oleh sistem hukum yang baru saja ia tinggalkan.
Ia masuk bukan sebagai narapidana, melainkan sebagai seorang konsultan desain bangunan yang diminta untuk mengevaluasi struktur bangunan tua tersebut. Namun, di balik tas kulit dan penggaris sikunya, Aryan membawa mata seorang penyelidik yang ingin melihat bagaimana "Kebenaran" bertahan di tempat di mana kebebasan telah mati.
Udara di dalam penjara itu terasa berat, seolah oksigen harus berebut ruang dengan bau keringat, karat, dan rasa sesal yang sudah basi. Aryan melangkah menyusuri selasar panjang dengan lampu neon yang berkedip-kedip, menciptakan ritme visual yang tidak nyaman bagi syaraf arsiteknya. Di buku catatan hitamnya yang kian lusuh, ia menuliskan judul bab baru dengan tinta yang ditekan kuat "Kebenaran di Balik Dinding."
Di tempat ini, Aryan menemukan sebuah arsitektur yang jujur dalam keburukannya. Tidak ada fasad indah yang menipu seperti di gedung pengadilan. Penjara adalah kejujuran yang telanjang; sebuah ruang yang dirancang untuk satu tujuan tunggal—pembatasan. Namun, ironinya, di tempat yang paling terbatas inilah, Aryan mulai melihat retakan-retakan pada "kebenaran" yang selama ini diagungkan oleh dunia luar.
Ia menghabiskan waktu berjam-jam mengukur retakan pada dinding beton sambil mendengarkan gumaman dari balik jeruji besi. Ia bertemu dengan berbagai macam manusia. Ada yang memang layak berada di sana, namun tak sedikit yang merupakan korban dari "Labirin Keadilan" yang ia temui di bab sebelumnya.
"Anda sedang mengukur dinding, Tuan?" suara serak muncul dari sebuah sel isolasi yang gelap.
Aryan menoleh. Di sana duduk seorang pria tua dengan rambut putih yang berantakan, namanya Elias. Elias adalah mantan profesor filsafat yang dipenjara karena dituduh melakukan penghasutan politik—sebuah tuduhan yang sebenarnya adalah cara halus penguasa untuk membungkam akal sehat.
"Saya sedang melihat apakah bangunan ini masih stabil, Pak," jawab Aryan datar.