Aryan Bratadikara berdiri di tepi dermaga kayu yang sudah mulai lapuk, menatap sebuah perahu kecil yang akan membawanya jauh ke pedalaman, membelah urat nadi hijau yang disebut manusia sebagai hutan hujan tropis. Baginya, meninggalkan tembok penjara adalah momen pelepasan terakhir dari sisa-sisa peradaban beton. Jika sebelumnya ia mencari Tuhan di dalam struktur buatan tangan manusia—mulai dari katedral, laboratorium, hingga sel isolasi—kini ia sadar bahwa semua itu hanyalah interpretasi yang bias.
Ia ingin melihat "Cetak Biru" yang asli. Ia ingin melihat bagaimana Sang Arsitek bekerja tanpa campur tangan mandor yang korup atau penafsir yang gila hormat.
Suara mesin perahu yang terbatuk-batuk mulai membelah kesunyian sungai yang berwarna cokelat pekat seperti kopi susu. Aryan duduk di haluan, buku catatan hitamnya terbungkus plastik kedap air. Di halaman pertama bab ini, ia menuliskan satu kalimat pendek "Panggilan dari Alam Liar." Di bawahnya, ia menambahkan catatan teknis "Struktur tanpa arsitek manusia adalah struktur yang paling jujur. Di sini, kegagalan berarti kematian, bukan sekadar revisi anggaran."
Semakin jauh perahu itu melaju, semakin rapat pepohonan raksasa mengunci pandangan. Sinyal ponselnya telah lama mati, sebuah kematian digital yang justru membuat Aryan merasa lahir kembali. Sebagai arsitek, ia terbiasa merancang ruang untuk melindungi manusia dari alam. Namun di sini, alam adalah ruang itu sendiri, dan manusia hanyalah penyusup kecil yang harus menyesuaikan diri atau hancur.
Ia mulai mengamati vegetasi di sekelilingnya dengan mata seorang insinyur. Ia melihat bagaimana akar-akar pohon beringin raksasa mencengkeram tanah dengan distribusi beban yang sangat presisi, jauh lebih efisien daripada fondasi bore pile mana pun yang pernah ia rancang. Ia melihat bagaimana kanopi hutan mengatur transmisi cahaya matahari agar setiap lapisan kehidupan di bawahnya mendapatkan porsi energi yang pas.
"Ini bukan kekacauan," gumam Aryan sambil menyentuh batang pohon yang lembap. "Ini adalah sistematisasi tingkat tinggi yang berjalan di atas ketidakteraturan yang tampak. Sebuah simfoni yang disusun oleh nalar yang jauh melampaui kalkulator manusia."
Pemandu perahunya adalah seorang pria suku lokal bernama Kaling. Pria itu tidak banyak bicara, namun setiap gerakannya menunjukkan sinkronisasi yang sempurna dengan arus sungai dan arah angin. Kaling tidak belajar fisika di universitas, tapi ia tahu persis kapan pusaran air akan menarik perahu mereka jatuh dan kapan arus akan membantu mereka melaju.
"Tuhan ada di mana, Kaling?" tanya Aryan suatu malam saat mereka berkemah di pinggir sungai, di bawah lindungan atap rumbia darurat.