Perahu kecil yang membawa Aryan Bratadikara dan Kaling akhirnya tertahan oleh jajaran batang pohon tumbang yang melintang di hulu sungai yang kian menyempit. Di titik ini, air tidak lagi mengalir tenang; ia berubah menjadi jeram-jeram kecil yang mengancam akan menghancurkan lunas kayu perahu mereka. Aryan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, menembus kerapatan vegetasi yang seolah sengaja dirancang untuk menolak kehadiran manusia.
Kini, ia tidak lagi berada di posisi pengamat yang nyaman. Ia masuk ke dalam sebuah fase di mana nalar arsitekturalnya dipaksa berhadapan dengan kebutuhan biologis yang paling primitif yaitu "Rasa Lapar."
Aryan Bratadikara menyesuaikan tali tas punggungnya yang kini terasa tiga kali lebih berat daripada saat ia berangkat dari dermaga. Di dalam kepalanya, ia masih mencoba mempertahankan martabat seorang intelektual, namun lambungnya mulai menyuarakan narasi yang berbeda. Persediaan makanan kering yang ia bawa telah rusak karena kelembapan hutan yang ekstrem, dan untuk pertama kalinya dalam empat puluh enam tahun hidupnya, Aryan merasakan apa itu kelaparan yang bukan sekadar "terlambat makan siang".
Ia duduk bersandar pada akar pohon yang menonjol, mengeluarkan buku catatan hitamnya yang sedikit lembap. Dengan tangan yang mulai sedikit gemetar, ia menulis "Bab Logika di Balik Kelaparan." Di bawahnya, ia menambahkan kalimat yang terasa seperti sebuah pengakuan dosa "dimana Tuhan terasa sangat abstrak ketika perutmu kenyang, namun Dia menjadi sangat mekanis ketika kau mulai kekurangan kalori."
Selama tiga hari berikutnya, Aryan mempelajari sebuah hukum arsitektur yang tidak pernah diajarkan di universitas yaitu Arsitektur Metabolisme. Ia melihat bagaimana tubuhnya mulai "membongkar" dirinya sendiri untuk bertahan hidup. Lemak diubah menjadi energi, konsentrasi mulai memudar, dan ego yang tadinya setinggi gedung pencakar langit kini runtuh demi sepotong umbi hutan atau segenggam buah beri yang belum tentu aman dimakan.
Kaling, pemandunya, memperhatikan Aryan dengan tatapan yang tenang—jenis ketenangan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah berdamai dengan kekurangan. Kaling mengumpulkan beberapa ulat kayu dan akar-akaran, lalu menyodorkannya pada Aryan.
"Makanlah, Tuan Aryan," ujar Kaling datar. "Di hutan ini, pengetahuanmu tidak bisa mengenyangkanmu. Hanya apa yang diberikan bumi yang bisa membuatmu tetap berdiri."
Aryan menatap ulat kayu yang menggeliat itu dengan rasa mual yang hebat. Nalar "peradaban"-nya menolak mentah-mentah. Baginya, ini adalah degradasi martabat. Namun, saat rasa perih di lambungnya mulai menjalar ke ulu hati, dinding-dinding gengsi itu retak. Ia memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya, merasakan tekstur yang asing dan rasa yang getir.