Membongkar Tuhan : Catatan seorang penyelidik

G Wira Negara
Chapter #18

Chapter 18: Huma tanpa tepi

Aryan Bratadikara terbangun dengan tubuh yang terasa seringan kapas, bukan karena pencerahan spiritual yang datang tiba-tiba, melainkan karena cadangan lemak tubuhnya telah habis dikunyah oleh perjalanan di bab sebelumnya. Bersama Kaling, ia menembus barisan pohon paku raksasa yang tampak seperti pilar-pilar dari zaman karbon, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah lembah tersembunyi yang tidak tercatat dalam peta navigasi satelit mana pun yang pernah Aryan pelajari di kantor arsiteknya.

​Di sana, tidak ada pagar. Tidak ada gerbang dengan kode keamanan digital. Tidak ada batas tanah yang dipatok dengan beton nisan. Hanya ada deretan rumah panggung yang dibangun menyatu dengan pohon-pohon hidup, seolah-olah bangunan itu adalah buah yang tumbuh secara alami dari batang raksasa.

​Aryan berdiri terpaku di tepi pemukiman itu, memegang buku catatan hitamnya yang kini sampulnya sudah mengelupas terkena getah pohon. Sebagai seorang profesional yang menghabiskan dua dekade hidupnya merancang properti mewah di mana "hak milik" adalah hukum tertinggi, pemandangan di depannya adalah sebuah anomali yang sangat mengganggu nalar teknisnya. Ia menuliskan judul bab dengan jemari yang masih sedikit kaku "Bab Arsitektur Tanpa Kepemilikan." Di bawahnya, ia menambahkan sebuah pertanyaan filosofis "Dapatkah sebuah struktur tetap berdiri kokoh jika tidak ada seorang pun yang merasa memilikinya?"

​Komunitas ini disebut masyarakat "Huma Tanpa Tepi". Mereka hidup dalam sistem yang akan membuat para pengacara mengalami serangan jantung dimana mereka tidak mengenal konsep kepemilikan pribadi atas tanah atau bangunan. Jika sebuah keluarga membutuhkan tempat tinggal, seluruh komunitas akan bergotong-royong membangunkan sebuah ruang, namun ruang itu tetap milik hutan. Saat keluarga itu berpindah atau mati, bangunan itu akan dikembalikan kepada alam atau diberikan kepada siapa saja yang membutuhkan.

​"Tuan arsitek pasti sedang bingung," suara Kaling memecah lamunannya. "Di sini, kami tidak membangun untuk mengurung tanah. Kami membangun untuk menumpang hidup."

​Aryan mencoba mencari celah dalam sistem ini. "Tetapi Kaling, tanpa kepemilikan, bagaimana kalian menjaga kualitas bangunan? Bagaimana kalian memastikan tidak ada yang merusak apa yang sudah dibangun?"

​Kaling hanya menunjuk ke arah seorang anak kecil yang sedang memetik buah di dekat atap salah satu rumah. "Jika kau tidak memiliki sesuatu, kau tidak akan takut kehilangannya. Dan jika kau tidak takut kehilangan, kau akan menjaganya dengan rasa syukur, bukan dengan rasa cemas. Kami merusak apa yang kami miliki karena kami merasa berkuasa atasnya. Tapi kami menghormati apa yang bukan milik kami."

​Aryan mencatat percakapan itu sebagai "Paradoks Properti". Ia teringat pada apartemen mewahnya di California, dengan sistem keamanan berlapis dan asuransi yang mahal. Di sana, ia merasa memiliki segalanya, namun ia selalu merasa cemas. Di sini, orang-orang tidak memiliki apa-apa, namun mereka tidur dengan pintu terbuka lebar, meskipun sebenarnya memang tidak ada pintu dalam pengertian konvensional.

Lihat selengkapnya