Membongkar Tuhan : Catatan seorang penyelidik

G Wira Negara
Chapter #19

Chapter 19: Membangun di garis api

​Ia tidak lagi membawa arloji mewah atau ponsel pintar yang selalu menuntut perhatiannya. Di tangannya hanya ada sebuah tongkat kayu sisa pemberian Kaling, tas punggung dan buku catatan hitam yang ujung-ujungnya mulai melengkung terkena kelembapan hutan. Aryan tahu, perjalanan kali ini bukan lagi sekadar pelindung batin, melainkan sebuah ujian lapangan atas filosofi "arsitektur tanpa dinding" yang baru saja ia pelajari.

​Aryan berdiri di puncak bukit terakhir sebelum dataran melandai menuju wilayah perbatasan yang sedang terjadi konflik. Di buku catatan hitamnya, ia menuliskan judul dengan tekanan pena yang dalam, seolah ingin memastikan realitas ini tidak menguap "Bab Membangun di Garis Api". Di bawahnya, ia menggoreskan pertanyaan yang membakar benaknya, "Dapatkah sebuah kebenaran yang tidak memiliki hak milik bertahan saat berhadapan dengan moncong senapan yang lapar akan tanah?"

​Sebagai seorang arsitek yang menghabiskan dua dekade merancang benteng-benteng beton atas nama privasi, pemandangan di depannya adalah sebuah ironi yang menyakitkan. Ia melihat desa-desa yang terbelah bukan oleh sungai atau bukit, melainkan oleh kawat berduri dan barikade karung pasir. Ini adalah wilayah di mana dua faksi ideologi—yang satu memuja otoritas mutlak dan yang lain memuja kebebasan tanpa batas—sedang saling mengunci leher dalam pertempuran yang tak kunjung usai.

​Aryan turun ke sebuah desa. Desa ini dulunya adalah pusat perdagangan yang damai, namun kini telah berubah menjadi labirin ketakutan. Ia berjalan melewati reruntuhan gedung-gedung yang dulu mungkin dirancang dengan harapan akan kemajuan, namun kini hanyalah tumpukan puing yang berbau mesiu dan debu.

​Ia bertemu dengan seorang komandan lapangan bernama Kapten Malik, seorang pria yang wajahnya tampak seperti peta yang penuh dengan luka sayatan. Malik memandang Aryan dengan curiga, namun saat melihat peralatan ukur manual yang dibawa Aryan, ia mendengus.

​"Arsitek? Kami tidak butuh keindahan di sini, Tuan. Kami butuh tembok yang bisa menahan hantaman mortir," ujar Malik sambil menunjuk sebuah pos penjagaan yang tampak sangat rapuh.

​Aryan menatap pos itu dengan matanya. "Anda membangun dinding setebal satu meter, Kapten. Tapi Anda membangunnya di atas pondasi kebencian. Seberapa kuat pun beton yang Anda tuangkan, bangunan ini akan runtuh karena ia dirancang untuk memisahkan, bukan untuk menopang kehidupan."

​Malik tertawa sinis. "Di dunia luar sana, orang bicara tentang hak milik dan kedaulatan. Jika saya tidak mematok tanah ini dengan senjata, musuh di seberang sana akan melakukannya. Tidak ada ruang bagi konsep 'Tanpa Kepemilikan' di tanah yang subur untuk makam."

​Aryan mencatat dialog itu sebagai "Paradoks Kedaulatan". Ia menyadari bahwa konflik ideologi ini sebenarnya hanyalah pertarungan antara dua jenis ego yang sama-sama ingin "memiliki". Satu pihak ingin memiliki rakyat melalui aturan, pihak lain ingin memiliki kebebasan melalui kekacauan. Tak satu pun dari mereka yang benar-benar peduli pada tanah itu sendiri.

Lihat selengkapnya