Setelah menyaksikan betapa berdarahnya ego manusia yang memperebutkan garis perbatasan, Aryan kini melangkah ke menuju ke laut. Ini adalah gerbang menuju fase "Samudera Nalar" yang sesungguhnya—bukan lagi samudera fisik, melainkan samudera spiritual di mana semua identitas dirinya akan mulai luruh total.
Aryan Bratadikara berdiri di titik di mana daratan menyerah pada keluasan samudra. Setelah melewati parit-parit pertahanan sebelumnya, ia kini berada di sebuah semenanjung terpencil yang dihantam oleh angin muson yang membawa aroma garam dan kematian yang pekat. Di hadapannya, samudra membentang tanpa batas, sebuah entitas yang tidak bisa dipatok oleh sertifikat tanah atau dipagari oleh kawat berduri.
Ia mengeluarkan buku catatan hitamnya yang kini sampulnya sudah retak-retak, seolah ikut menua bersama perjalanannya. Ia menuliskan judul bab dengan tarikan garis yang mulai kehilangan kekakuannya "Muara Tak Bernama." Di bawahnya, ia mencatat sebuah observasi yang menjadi jembatan menuju fase penghancuran diri "Di perbatasan perang, manusia membunuh demi garis. Di sini, samudra menghapus semua garis itu dalam satu deburan ombak. Aku adalah seorang arsitek yang sedang berdiri di depan sebuah desain yang tidak membutuhkan dinding."
Sebagai seorang pria yang terbiasa membangun struktur permanen, samudra adalah penghinaan bagi profesi Aryan. Air tidak bisa dibentuk, gelombang tidak bisa dikunci dalam cetak biru, dan kedalaman tidak bisa diukur dengan penggaris laser. Ia menyewa sebuah gubuk nelayan yang nyaris ambruk di tepi pantai—sebuah bangunan yang secara teknis seharusnya ia benci karena kegagalan strukturnya, namun di tempat inilah ia merasa paling "terlindungi" dari kesombongan inteleknya sendiri.
"Kenapa kau tinggal di gubuk yang akan segera dimakan air ini, Tuan?" tanya seorang nelayan tua yang sedang memperbaiki jaringnya di bawah cahaya bulan yang pucat.
Aryan menatap tiang gubuk yang mulai keropos dimakan tiram. "Karena aku ingin belajar bagaimana rasanya menjadi sesuatu yang akan segera hilang, Pak. Selama ini aku membangun gedung untuk abadi, tapi aku lupa bahwa aku sendiri adalah makhluk yang sementara."
Nelayan itu tertawa pelan, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan pasir di dasar laut. "Laut tidak suka dengan sesuatu yang terlalu kuat. Semakin kuat kau melawan arus, semakin cepat kau hancur. Menjadilah air, maka kau akan sampai ke tempat yang tidak pernah kau bayangkan."
Aryan mencatat percakapan itu sebagai "Arsitektur Ketiadaan". Ia menyadari bahwa pencariannya tentang "Arsitek Utama" selama beberapa bulan ini telah membawanya pada sebuah titik balik yang radikal. Jika sebelumnya mencari Tuhan sebagai pemberi hukum yang kaku, dan mencari-Nya sebagai hakim yang adil, kini ia melihat Tuhan sebagai Muara. Sebuah titik di mana semua identitas sosial, profesional, dan ideologinya harus dilepaskan.