Malam di kota asalnya kini terasa berbeda bagi Aryan Bratadikara. Jika dulu ia melihat kegelapan sebagai ancaman bagi produktivitas, kini ia memandang malam sebagai ruang hening yang memungkinkan suara-suara fitrah terdengar lebih jelas. Di dalam ruang kerjanya yang kini minimalis—setelah ia menyingkirkan berbagai piagam penghargaan dan dekorasi artifisial yang hanya memenuhi ruang—Aryan duduk terdiam. Cahaya lampu meja yang kekuningan memantul pada permukaan kertas kalkir yang masih kosong.
Ia tidak lagi merasa terburu-buru untuk menggambar. Ia telah melewati fase di mana setiap tarikan garis adalah ambisi untuk menaklukkan ruang. Di buku catatan hitamnya yang kian menebal, ia menuliskan judul dengan mantap "bab cara mencari adalah dengan menjadi." Di bawahnya, ia menggoreskan satu paragraf yang merangkum kegagalan pencariannya selama beberapa bulan lalu, Aku menghabiskan usiaku mencari Tuhan seperti seorang detektif yang mencari pelaku kejahatan di luar sana. Aku memeriksa teks, aku mengaudit institusi, aku membedah alam. Namun, aku lupa bahwa instrumen yang aku gunakan untuk mencari—yaitu diriku sendiri—masih dalam keadaan rusak dan tidak selaras.
Aryan menarik napas panjang, merasakan udara masuk ke paru-parunya. Sebagai seorang arsitek, ia tahu bahwa sebuah instrumen ukur yang miring tidak akan pernah bisa menghasilkan bangunan yang tegak. Pencarian spiritualnya selama ini adalah pencarian yang cacat karena ia membawa ego "sang penyelidik" yang merasa lebih suci daripada objek yang diselidikinya.
Pagi itu, seorang kenalan lama dari komunitas filsafat—pria bernama Ilyas yang pernah ia remehkan di masa lalu karena dianggap terlalu abstrak—datang mengunjunginya. Ilyas membawa sebuah buku tua yang sampulnya sudah mengelupas.
"Aku dengar kau sudah kembali dari perjalanan mu, Aryan," kata Ilyas sambil memandang ruang kerja Aryan yang kini tampak seperti biara modern. "Apa yang kau temukan di sana? Apakah kau menemukan koordinat tempat Sang Arsitek Utama bersemayam?"
Aryan tersenyum, bukan senyum sinisnya yang lama, melainkan senyum yang lahir dari pemahaman. "Aku menemukan bahwa tidak ada koordinat untuk-Nya, Ilyas. Karena Dia bukan objek dalam ruang. Selama ini aku mencari Tuhan seperti aku mencari sebuah lokasi di GPS. Aku ingin menemukan-Nya agar aku bisa 'mengunjungi'-Nya saat aku butuh, lalu kembali ke duniaku sendiri saat aku bosan."
Ilyas mengangguk pelan. "Lalu, bagaimana kau mencari-Nya sekarang?"
Aryan mengambil penggaris baja miliknya, menatap ujungnya yang sangat presisi. "Cara mencari-Nya bukan dengan pergi ke mana-mana, tapi dengan 'menjadi'. Selama ini aku mencari kejujuran, maka aku harus menjadi jujur. Aku mencari keadilan, maka aku harus menjadi adil. Aku mencari Sang Arsitek Utama, maka aku harus menjadikan setiap tindakanku sebagai sebuah karya arsitektur yang selaras dengan hukum-Nya. Tuhan tidak ditemukan di ujung pencarian, tapi di dalam keselarasan diri."
Ilyas meletakkan bukunya. "Itu yang disebut para mistikus sebagai tahap sinkronisasi. Kau tidak akan bisa melihat warna jika matamu buta. Kau tidak akan bisa mendengar frekuensi Tuhan jika jiwamu penuh dengan kebisingan egomu sendiri."