Membunuh Belikatmu

Yusefania
Chapter #1

01. Pindah

Di usianya yang baru saja tiga belas tahun, Lintang harus menerima pengalaman buruk karena keterpurukan ekonomi keluarganya yang ambruk saat dunia juga tengah digemparkan oleh sebuah virus. Corona. Tidak ada kuasa yang mengakar di semua punggung anggota keluarganya. Tidak ada uang yang yang bisa menyelamat keluarga kecilnya, bahkan perihal tempat tinggal sekalipun. Dan bersama adik laki-lakinya yang baru berusia delapan tahun itu ... Lintang menghela napas pasrah saat semua perabotan keluarganya benar-benar dipindahkan ke gubuk tua yang merupakan rumah pasangan lansia.

Bahri, Bapak dari Lintang, adalah pedagang bakso yang baru-baru ini kehilangan modal karena pangkalannya digusur sebab akan diubah menjadi perumahan. Dan pedagang kaki lima macam Bahri itu tidak patut lagi ada di sana. Semenjak hari itu benar-benar tiba, Bahri meninggalkan Jakarta dengan hati sisa daging. Kota yang selama ini menjadi tempat ia mencari nafkah itu harus ia dilupakan pelan-pelan karena sejak pangkalannya digusur mau tidak mau ia harus kembali ke kampung halamannya; Bogor. Di sana dia akan bertemu dengan istri dan dua anaknya yang masih "numpang" di rumah mertuanya. Orang tua dari istrinya itu sudah menampung nyaris semua anak-anaknya—yang salah satu di antaranya adalah istrinya sendiri—untuk tinggal di rumahnya yang jauh dari megah. Terhitung empat keluarga kecil harus berbagi kehidupan di satu rumah itu entah sampai kapan. Dapat diamati bahwa setiap bulan pun akan selalu terjadi percekcokan di antara keempat keluarga itu. Mulai dari perdebatan kecil, hingga pertikaian besar. Meski begitu, dari keempat keluarga tersebut belum ada yang pindah kemana pun. Maklum, miskin. Perlu banyak pertimbangan untuk bisa meninggalkan tempat tinggal yang tidak mewajibkan mereka untuk membayar sewa setiap bulannya. Tapi apa boleh buat, barangkali memang sudah begitulah nasibnya. Walau di antara mereka juga sama-sama mengetahui bahwa rumah itu tidak seharusnya benar-benar diisi oleh empat keluarga, karena kenyataannya kamar yang tersedia hanyalah tiga petak.

Maka, Bahri dengan segala ketahudiriannya mencoba berpikir jernih. Tidak mungkin dirinya yang tidak lagi mencari nafkah di Jakarta itu benar-benar harus bergabung juga di rumah mertuanya yang sudah sesak diisi lebih dari tujuh orang. Bayangkan saja, Yuna, istrinya itu, adalah anak kedua dari lima bersaudara. Anak ketiga dan kelima berhasil satu atap di rumah itu. Anak ketiga—Harri—memiliki tiga anak yang masih kecil-kecil, sedangkan anak kelima—Tifah—memiliki dua anak yang masih sama kecilnya. Sementara itu, belum lagi istrinya dan dua anaknya itu, ditambah lagi ibu mertuanya yang sudah kehilangan suaminya lebih dari lima tahun lalu. Dapat dihitung dengan cermat, bahwa empat keluarga yang tinggal di rumah mertuanya itu sangat amat kompleks; Yuna dengan dua anaknya, Harri dengan istri dan tiga anaknya, Tifah dengan suami dan dua anaknya, serta satu keluarga lagi; yakni ibu mertuanya sendiri. Bahri keliru sebenarnya untuk bisa menganggap ibu mertuanya sebagai satu kesatuan sebuah keluarga, tapi yang jelas ada empat privasi yang mengambang di rumah pas-pasan itu. Dan Bahri dengan sadar tidak mau menambah sesak di antara mereka. Lebih-lebih lagi, dirinya juga malas jika harus ikut berseteru dalam percekcokan setiap bulannya. Dia juga tidak mau privasinya harus berpeluang ricuh dan diketahui oleh banyak orang. Apalagi ia juga sudah sangat paham bahwa keluarga istrinya cenderung merupakan biang gosip. Maka untuk ketenangan hidupnya, sisa keuntungan terakhirnya dalam berjualan bakso ia pakai untuk menyewa kontrakan. Dengan begitu, Yuna dan kedua anaknya juga bisa keluar dari rumah mertuanya. Dan hal itu juga akan menjadi kabar baik untuk sisa keluarga yang masih harus menumpang di rumah mertuanya tersebut. Setidak-tidaknya, Yuna dan kedua anaknya bisa mengurangi sesak dan membuat sisa tiga keluarga yang ada memiliki tambahan keleluasaan.

Selanjutnya, untuk pencarian nafkah yang mau tidak mau harus dilaksanakan di Bogor, Bahri mencoba untuk berjualan bubur saja; di kampung yang penduduknya tidak lebih dari tiga ratus orang. Ia pun berhasil menyewa kontrakan seharga seratus lima puluh ribu per bulan. Nyaris satu tahun Bahri, Yuna (istinya), Lintang (anak pertama perempuannya), dan Fandi (anak kedua laki-lakinya) tinggal di kontrakan yang ruangannya sangat pas-pasan itu dengan ingar bingar yang tak pasti. Hanya berputar pada prinsip mau tidak mau. Namun kabar baiknya, tidak ada masalah yang melanda selama beberapa bulan lamanya mereka harus tinggal di kontrakan itu. Semua nampak baik-baik saja dengan perputaran hari yang diisi dengan Bahri yang akan selalu bersiap-siap dagang setiap pagi, Yuna yang akan mengurus rumah sepenuh hati, dan Lintang serta Fandi yang akan sibuk dengan pelajaran jarak jauhnya selama virus Corona masih saja merajalela. Sampai keadaan kembali memburuk karena hasil jualan bubur Bahri ternyata tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarganya dengan leluasa. Sewa kontrakan yang harganya kurang dari dua ratus ribu pun harus beberapa kali ditunggak karena orang-orang kampung lebih suka sarapan gorengan dari pada bubur. Orang-orang kampung lebih suka membuat nasi goreng sendiri dari pada membeli bubur. Orang-orang kampung sekalinya berkeinginan sarapan bubur, mereka hanya akan rela mengeluarkan uang tiga ribu rupiah, sebab bagi mereka bubur seharga lima ribu adalah mahal dan lebih baik tidak usah sarapan; langsung makan siang saja.

Tapi alih-alih Bahri mengecap dagangannya tidak laku, ia juga mengerti bahwa di zaman Corona orang-orang tengah berbondong-bondong untuk berhemat karena para suami di setiap keluarga banyak yang terkena PHK. Terlebih lagi orang kampung, kesampingkan dulu perihal PHK karena tidak banyak dari orang-orang kampung bekerja sebagai karyawan di perusahaan. Mentok-mentok sebagiannya adalah pedagang sayur di pasar atau paling sialnya sama-sama saja; pedagang kaki lima layaknya Bahri. Maka karena kesulitan ekonominya di masa-masa Corona itu, Bibi dari istri Bahri berinisiatif memberikan bantuan. Dena, Bibi dari Yuna yang merupakan adik bungsu bapaknya menawari Yuna sekeluarga untuk bisa tinggal di rumah Arta; kakek dari Yuna yang usianya nyaris seratus tahun.

Arta adalah kakek Yuna dari pihak bapaknya yang sudah kehilangan anak-anaknya lebih dulu. Dengan kata lain, anaknya hanya sisa Dena saja; si bungsu yang tinggal cukup jauh dari keberadaan Arta sekarang. Walau sebenarnya hanya beda kecamatan, Dena tetap susah untuk mengunjungi Arta sesering yang Arta mau, karena yang namanya sudah berkeluarga, semua orang secara umum telah paham bahwa setiap orang yang telah menikah pasti akan lebih fokus pada keluarganya sendiri. Maka di sela-sela keadaan yang nampaknya bisa dimanfaatkan, Dena merayu Yuna untuk bisa tinggal bersama Arta. Dengan cara seperti itu keluarga Yuna tidak usah mengontrak lagi dan Bahri akan kehilangan satu bebannya untuk memikirkan bayaran sewa. Yuna dan kedua anaknya bisa tinggal di rumah Arta dengan bebas biaya, dengan setiap orang berpeluang untuk punya kamar sendiri dan pastinya memiliki tempat tinggal yang lebih luas. Dan sebagai bonus, Yuna sekeluarga juga bisa menemani Arta dan istrinya (Nun), agar kedua renta itu setidak-tidaknya punya atensi lebih dan hiburan nyata jikalau Yuna, Bahri, Lintang, dan Fandi bisa tinggal satu atap dengan mereka berdua. Sebuah mutualisme yang manis. Dena akan kehilangan beban untuk tidak terlalu sering menjengguk dan mendatangi orang tuanya karena rumahnya cukup jauh dan Yuna sekeluarga tidak perlu membayar biaya sewa kontrakan lagi karena mereka bisa tinggal gratis bersama Arta dan juga Nun. Yuna dan keluarganya juga mendapat bonus lebih untuk bisa merawat Arta dan Nun. Dengan begitu, peluang pahala dalam mengurusi dua manusia tua akan terbuka lebar. Syukur-syukur Yuna sekeluarga bisa masuk Surga lewat jalur merawat lansia. Sungguh ide yang mulia, bukan? Sampai akhirnya semua itu benar-benar terjadi.

Lihat selengkapnya