Membunuh Belikatmu

Yusefania
Chapter #2

02. Dua puluh tujuh derajat

Lintang mengusap lobang hidungnya beberapa kali karena debu sudah mencumbunya dengan rusuh dalam beberapa menit lamanya. Ia melihat ruangan yang besarnya kurang lebih hanya 3×3m itu dengan rasa heran yang tinggi. Hari ini dia punya kamar sendiri. Dengan ranjang besi beserta kasur busa berukuran 180×200cm yang didempetkan dengan tembok serta lemari jati yang bertengger penuh di samping kanan kasur tersebut. Matanya berkedip beberapa kali saat ia berhasil menangkap kaki lemari itu berhasil dipotong dengan paksa; karena tingginya terlalu mentok dengan tinggi rumah ‘baru’nya yang jika dikira-kira bahkan tidak mencapai tiga meter. Dan yang dia rasakan pertama kali saat masuk ke kamar barunya itu adalah … sesak. Sesuatu yang usang dan berdebu seolah siap jadi tempat tidur yang dibayang-bayang pasti bisa membuatnya terlelap nyenyak; selamanya itu mau. Tapi untuk anak tiga belas tahun seperti Lintang, mencoba menerima keputusan orang tua barangkali adalah hal paling aman. Lagi pula apa yang bisa dilakukannya? Jika dia bersuara sekalipun, siapa yang akan mendengar? Hidup di ranah keluarga yang berpegang teguh pada prinsip orang tua harus selalu dihormati dan lupa anak muda juga harus dihargai adalah sepercik unsur hidup yang malang. Dan bagi Lintang, menerima kemalangan untuk beberapa tahun ke depan bukanlah sebuah masalah besar, walau jika orang-orang kaya melihat semua ini, mungkin orang tua Lintang akan dianggap sebagai orang tua yang gagal. Tapi tak apa, setidaknya sekarang dia punya kamar sendiri, walau harus berkenalan dengan banyak debu entah sampai kapan.

Perlahan Lintang akhirnya duduk di sisi ranjang dan pelan-pelan mencoba melihat tampilan wajahnya di cermin yang bertengger di lemari jatinya. Pikirannya cukup bergolak mendapati suara kakek dan nenek tua serta suara Yuna dan Bahri yang nampaknya saling bercekcok sedikit. Ini bahkan baru hari kedua sejak keluarganya benar-benar pindah ke rumah Arta si kakek buyutnya yang ternyata cukup agamis itu. Telinga Lintang dipasang baik-baik untuk mendengar sebuah percakapan.

“Bahri! Bahri!” Suara serak layaknya kakek-kakek pada umumnya terdengar dari mulut Arta yang memanggil Bahri cukup arogan. Pria yang merupakan Bapaknya Lintang itu menyaut dengan slengean walau ia juga sadar dirinya baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuhnya dibiarkan telanjang dada karena handuk hanya bisa menutupi pinggang sampai lututnya. Dan dengan kostum demikian khas laki-laki selesai mandi, Bahri menghampiri Arta untuk bisa mengetahui maksud kakek peot itu memanggilnya.

“Eh, baru mandi, kamu,” ucap Arta saat Bahri ada di hadapannya sekarang. “Iya nih, Kek, ada apa, ya?” tanya Bahri dengan santai. Sesaat Arta melirik Bahri dari ujung rambut hingga kaki. Entah apa yang ada di pikirannya, mungkin Arta juga agak kaget Bahri menghampirinya dengan keadaan baru selesai mandi. Sampai beberapa detik setelahnya, akhirnya kakek-kakek yang sudah menghabiskan banyak waktunya untuk mengkhatamkan Al-Quran berkali-kali itu, bersuara, “Ini, bentar lagi kan Magrib ya, dan kamu tahu lah, rumah kita dekat Masjid. Kakek sendiri gak pernah absen untuk shalat di Masjid, kamu juga siap-siap ya, untuk shalat. Shalat berjamaah di Masjid tuh mulia sekali, Bahri, beda derajatnya sama yang shalat di rumah. Kalau di Masjid derajatnya dua puluh tujuh, sementara kalau di rumah cuma satu derajat kan kalau tidak salah. Ayo ya, siap-siap ke Masjid. Ajak Fandi juga tuh, dia harus diajar dari kecil. Pakai baju koko kamu, nanti Kakek tunggu di Masjid, ya.” Begitu “nasihat” Arta pada Bahri. Sementara pria empat puluh dua tahun itu hanya tercengir seraya iya-iya saja menanggapi ocehan si tua bangka. “Iya, siap, Kek.” Tidak lupa kekehan di akhir yang membuatnya semakin konyol. Lantas, tanpa kekonyolan tambahan lagi, Bahri kemudian segera masuk kamar dan memakai baju.

Lintang yang mendengar ceramah singkat dari Arta itu keheranan cukup tinggi karena bisa-bisanya Arta berkata demikian. Kakek tua itu memanggil Bahri dengan nada suara layaknya akan memarahi anak kecil dan saat Bahri benar-benar menghadapnya tak disangka penyampaian Arta adalah tentang ajakan shalat dan ceramah tentang berapa derajat yang didapat jika seseorang berhasil melaksanakan shalat di Masjid. Bukan sesuatu yang buruk, sebenarnya, melainkan sesuatu yang janggal. Lintang yang masih kelas dua SMP saja tahu betul perihal itu, apalagi Bahri. Lintang rasa bapak-bapak usia 40-an tidak usah diberi tahu sebegitunya perihal shalat, walau jika harus membahas latar belakang Bapaknya, Bahri memang seseorang yang cukup kritis terkait agama. Entah memang karena Bahri tidak percaya Tuhan atau hanya krisis iman, tapi yang jelas Lintang sangat amat tahu bahwa Bapaknya itu, bukanlah seseorang yang menjadikan agama sebagai prinsip hidupnya. Bahri tidak pernah percaya terkait hal-hal ghaib selayaknya Yuna yang cukup penakut tentang mitos-mitos penunggu atau demit yang tersebar di telinga orang-orang tolol. Bahri jauh mengedepankan kerealistisannya karena selama hidupnya yang memang sudah cukup liar sejak kecil, Bahri hanya mengandalkan logikanya. Sampai kemudian Lintang mendengar bisik-bisik Bahri yang memberi tahu Yuna perihal apa yang disampaikan Arta, Yuna hanya mengatakan “oh” saja pertanda ia juga bingung harus menanggapi hal yang terlalu konyol di saat-saat azan Magrib mulai berkumandang itu. Dan seperti sepengetahuan Lintang, Bahri yang cukup kritis bahkan sensi soal agama berakhir tidak pergi ke Masjid. Atau setelah ini, mungkin tidak akan. Apalagi setelah diceramahi oleh Arta.

Setelahnya, Lintang mencoba mengambil air wudhu untuk setidaknya menghapus sejenak adegan konyol yang baru saja terjadi antara Bapak dan Kakek buyutnya itu. Lintang pergi ke kamar mandi untuk membersihkan hadas kecilnya sebelum akhirnya dia terkejut karena kedatangan Nun yang muncul tiba-tiba di ambang pintu kamar mandi yang kebetulan tidak berpintu— hanya ditutup oleh sehelai kain tipis. Nun menatap Lintang dengan tatapan heran dan asing. Jelas, wanita tua yang mengalami demensia di usia senjanya itu sudah pasti tidak mengenali Lintang. Gadis tiga belas tahun yang baru saja sampai pada urutan wudhu keempat—membasuh muka—itu sempat menghentikan wudhunya dan menoleh drastis ke hadapan Nun sepenuhnya.

Lihat selengkapnya