Memori Rasa

Aditian Nugraha
Chapter #1

#1 — Nasi Goreng Tanpa Kecap

Pagi itu belum benar-benar terang ketika suara wajan pertama kali beradu dengan spatula dari dapur. Bunyi logam tipis yang berulang—ringan, tapi cukup untuk membangunkan Adam Wirandika dari tidurnya. Ia tidak langsung membuka mata. Ada sesuatu yang lebih dulu ia tunggu: aroma. Hangat, gurih, sedikit berasap. Bukan sekadar bau masakan, tapi sesuatu yang terasa seperti dipanggil pulang.

Adam—laki-laki berusia 10 tahun itu—menarik selimutnya sedikit lebih rapat, lalu menghirup napas dalam-dalam. Aroma bawang putih yang ditumis, bercampur nasi yang mulai kering di atas api, masuk perlahan ke hidungnya. Ia tersenyum tanpa sadar. Itu nasi goreng. Tapi bukan nasi goreng biasa.

Adam membuka mata, menatap langit-langit kamar yang sederhana. Catnya sudah mulai kusam di beberapa bagian, tapi ia hafal setiap retaknya. Dari luar, suara sendok beradu dengan piring terdengar pelan. Ia duduk, mengusap wajahnya yang masih mengantuk, lalu turun dari tempat tidur tanpa alas kaki.

Lantai rumah masih dingin. Setiap langkah kecilnya menuju dapur terasa seperti ritual yang sudah ia lakukan berkali-kali, tapi tidak pernah membosankan. Dari lorong sempit menuju dapur, cahaya kuning lampu menyambutnya. Dan di sana, seperti biasa, ibunya berdiri.

Artika Sari—wanita berusia 42 tahun itu tidak menoleh saat Adam muncul di ambang pintu. Rambut hitamnya dipotong pendek seleher, rapi tapi tidak dibuat berlebihan. Wajahnya lembut, dengan mata yang selalu terlihat tenang—seperti tidak pernah benar-benar marah, tapi juga tidak pernah benar-benar lepas dari perhatian. Tangannya masih bergerak cepat—mengaduk nasi di dalam wajan besar. Uap tipis naik, membawa aroma yang semakin kuat.

“Sudah bangun, Aa.” katanya tanpa melihat, seolah tahu Adam ada di sana bahkan sebelum ia datang.

Adam tidak menjawab. Ia hanya berjalan mendekat, lalu berdiri di samping meja dapur, memperhatikan setiap gerakan ibunya. Cara ibunya menahan gagang wajan, cara ia mengangkat sedikit nasi lalu membiarkannya jatuh kembali, cara ia menyesuaikan api tanpa melihat kompor. Semuanya terlihat mudah. Terlalu mudah untuk sesuatu yang terasa begitu penting.

“Mah…” Adam akhirnya bersuara pelan.

“Iya?”

“Kenapa nasi gorengnya beda ya sama yang di luar?”

Artika berhenti sebentar. Ia mematikan api, lalu menoleh. Wajahnya tenang, dengan senyum tipis yang tidak pernah berlebihan.

“Bedanya di mana, a?”

Adam mengernyit, berpikir. Ia sebenarnya tidak tahu cara menjelaskannya. Hanya saja, setiap kali ia makan nasi goreng di luar rumah—di warung, di acara keluarga, bahkan di rumah teman—rasanya tidak pernah sama.

“Di sini lebih enak,” jawabnya akhirnya, jujur tanpa ragu.

Artika terkekeh kecil. Ia mengambil piring, lalu menyendok nasi goreng ke dalamnya. Tidak ada kecap. Tidak ada warna cokelat gelap seperti yang sering Adam lihat di warung. Nasi itu berwarna lebih terang, dengan potongan kecil telur dan sedikit daun bawang.

“Mamah nggak pakai kecap,” kata Artika, seperti membaca pikiran Adam.

“Kenapa?”

“Karena Aa nggak suka terlalu manis.”

Adam mengangguk pelan. Ia bahkan tidak ingat kapan pernah bilang begitu. Mungkin ia tidak pernah mengatakannya dengan jelas. Tapi ibunya tahu.

Artika meletakkan piring itu di meja makan kecil di sudut dapur. Adam langsung duduk, kakinya belum menyentuh lantai sepenuhnya. Ia mengambil sendok, meniup sedikit nasi yang masih panas, lalu memasukkannya ke mulut.

Dan di situlah semuanya terasa berhenti.

Rasanya sederhana. Tidak rumit. Tidak berlebihan. Tapi justru itu yang membuatnya berbeda. Gurihnya pas. Hangatnya menyebar pelan. Ada rasa bawang yang tidak terlalu kuat, tapi cukup untuk membuatnya ingin suapan berikutnya. Tidak ada yang menonjol, tapi semuanya terasa utuh.

Lihat selengkapnya