Memori Rasa

Aditian Nugraha
Chapter #2

#2 — Sup Ayam Hangat

Siang itu rumah terasa lebih sunyi dari biasanya, padahal semua masih ada di tempatnya. Jam dinding tetap berdetak, kipas angin berputar pelan di ruang tengah, dan suara kendaraan dari jalan depan masih sesekali masuk melalui jendela yang terbuka setengah. Tapi ada sesuatu yang berubah—bukan pada benda-benda, melainkan pada ritme yang biasanya menghidupkan rumah itu.

Adam duduk di lantai ruang tengah dengan buku gambar terbuka di depannya. Pensilnya bergerak pelan, menggambar sesuatu yang belum sepenuhnya jelas bentuknya. Sesekali ia berhenti, menatap kosong, lalu kembali menggoreskan garis. Di sampingnya, Milan sibuk dengan boneka kainnya, berbicara sendiri dengan suara lirih seolah sedang bernegosiasi dengan dunia kecil yang ia ciptakan.

Dari dapur, aroma sup ayam mulai menyebar. Tidak tajam, tidak mendominasi, tapi cukup untuk mengisi ruang-ruang kosong dengan kehangatan yang familiar. Bau kaldu yang direbus lama, berpadu dengan wortel, kentang, dan sedikit seledri. Adam menoleh sedikit ke arah dapur, lalu kembali ke gambarnya. Ia tidak perlu melihat untuk tahu ibunya ada di sana.

Beberapa hari terakhir, Artika lebih sering di rumah. Tidak lagi terburu-buru di pagi hari, tidak lagi mengenakan pakaian kerja dengan langkah cepat menuju pintu. Ia lebih banyak diam di dapur, atau duduk menemani Milan bermain, atau sekadar memperhatikan Adam menggambar tanpa banyak bicara.

Adam sebenarnya menyadari perubahan itu, tapi belum sepenuhnya mengerti artinya.

“Mamah sekarang nggak kerja lagi?” tanya Adam tiba-tiba, tanpa mengalihkan pandangan dari kertas gambarnya.

Dari dapur, suara sendok yang mengaduk sup berhenti sejenak.

“Iya, Aa.” jawab Artika pelan.

Adam mengangkat kepala, menoleh ke arah dapur. Ia tidak berdiri, hanya memastikan bahwa jawaban itu benar-benar ditujukan padanya.

“Kenapa?”

Artika tidak langsung menjawab. Ia mematikan api kecil di bawah panci, lalu menuangkan sup ke dalam mangkuk satu per satu. Gerakannya tenang, tapi ada jeda yang sedikit lebih lama dari biasanya, seolah ia sedang memilih kata.

“Karena Ibu mau di rumah,” katanya akhirnya.

Adam mengerutkan kening. Jawaban itu terdengar sederhana, tapi tidak cukup baginya.

“Emangnya di kantor nggak enak?”

Artika tersenyum kecil. Ia membawa dua mangkuk sup ke meja makan, lalu kembali mengambil satu lagi untuk Milan.

“Enak juga. Tapi di sini lebih penting.”

Adam tidak langsung menanggapi. Ia menutup buku gambarnya, lalu berdiri dan berjalan ke meja makan. Ia duduk di kursinya, menatap mangkuk sup di depannya. Uap tipis naik perlahan, membawa aroma yang membuat perutnya mulai terasa lapar.

Agung pulang lebih awal hari itu. Ia masuk tanpa banyak suara, seperti biasa, hanya melepas sepatu di depan pintu lalu meletakkan tasnya di kursi. Matanya langsung mencari ke arah dapur, lalu berhenti sejenak saat melihat Artika sedang menyusun sendok di meja.

“Mamah masak apa?” tanyanya.

Artika mengangguk. “Sup ayam, Yah.”

Agung menarik kursi, duduk tanpa banyak komentar. Ia menatap mangkuk di depannya, lalu mengambil sendok. Adam memperhatikan ayahnya diam-diam, seperti sedang menunggu sesuatu.

Lihat selengkapnya