Keesokan harinya.
Suara minyak yang mendesis sering kali terdengar lebih hidup daripada percakapan di rumah itu—bukan karena mereka jarang bicara, tapi karena ada hal-hal yang tidak perlu diucapkan. Seperti sore itu, ketika hujan turun tanpa aba-aba, membasahi halaman depan dan memantul di genteng dengan ritme yang tidak pernah benar-benar sama, namun selalu terasa akrab.
Adam berdiri di dekat jendela, memperhatikan tetes air yang menempel di kaca. Tangannya memegang pensil, tapi tidak sedang menggambar. Ia hanya mengamati, seperti mencoba menangkap sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Pohon jambu air di depan rumah bergoyang pelan diterpa angin, daunnya basah, beberapa buah merahnya tampak lebih mengilap dari biasanya.
Di belakangnya, dapur kembali menjadi pusat dari semua yang terasa penting. Artika berdiri di depan kompor, menggoreng tempe yang sudah dipotong tipis-tipis. Minyak panas memeluk setiap potongan dengan suara khas yang tidak pernah berubah. Di sisi lain, wajan kedua berisi kangkung yang sedang ditumis cepat dengan bawang putih dan sedikit cabai.
Aroma keduanya bercampur, sederhana tapi penuh. Tidak ada yang berlebihan. Tidak ada yang mencoba menonjol. Tapi justru karena itu, semuanya terasa utuh.
“Adam, cuci tangan dulu,” suara Artika terdengar dari dapur.
Adam tidak langsung menjawab. Ia masih menatap hujan yang semakin deras, seperti sedang menunggu sesuatu yang tidak jelas. Setelah beberapa detik, ia akhirnya berbalik dan berjalan ke wastafel kecil di samping dapur.
Air dingin mengalir di tangannya. Ia mencuci dengan pelan, tidak terburu-buru. Di sampingnya, Milan berdiri dengan wajah sedikit cemberut, memandangi piring yang sudah disiapkan.
“Ada sayur lagi,” gumamnya.
Adam melirik, lalu tersenyum tipis.
“Memang kenapa?”
“Pahit,” jawab Milan cepat.
“Itu bukan pahit,” kata Adam santai. “Kamu aja yang belum biasa.”
Milan mendengus kecil, lalu menyilangkan tangan di dada. Ia tidak benar-benar marah, hanya… menolak dengan cara yang masih kekanak-kanakan.
Artika tidak langsung menanggapi. Ia mematikan api, lalu mengangkat tumis kangkung ke dalam piring. Uap hangat naik, membawa aroma bawang yang ringan tapi cukup menggoda. Tempe goreng disusun rapi di piring lain, warnanya keemasan, renyah di luar.
“Kalau nggak mau, dicoba dulu satu,” kata Artika akhirnya, suaranya tenang.
Milan menatap piringnya, ragu.
“Kalau nggak enak?”
“Nggak usah dimakan lagi ya, De.”