Memori Rasa

Aditian Nugraha
Chapter #4

#4 — Sambal Terasi dan Ayam Goreng Ketumbar Pertama

Cahaya yang masuk dari jendela dapur tidak lagi seterang siang; warnanya mulai menghangat, jatuh miring ke lantai, membentuk bayangan panjang dari meja dan kursi kecil di sudut ruangan. Di luar, suara anak-anak yang bermain mulai berkurang satu per satu, tergantikan oleh langkah pulang dan pintu yang ditutup pelan. Waktu seperti sedang melambat, memberi ruang untuk hal-hal kecil terjadi tanpa tergesa.

Di dapur, Artika sudah berdiri lebih dulu. Kompor menyala dengan api kecil, dan beberapa bahan sudah disusun rapi di meja—cabai merah, cabai rawit, bawang putih, sedikit garam, gula, dan potongan kecil terasi. Adam berdiri di dekatnya, tidak sejauh biasanya, tapi juga belum benar-benar nyaman.

Ia mencium aroma terasi itu lebih dulu—tajam, sedikit menusuk, membuatnya refleks mengernyit.

“Baunya aneh, Mah.” gumamnya.

“Memang, Aa,” jawab Artika tanpa menoleh. “Tapi nanti rasanya beda.”

Adam tidak langsung percaya, tapi ia tidak mundur. Ia hanya memperhatikan, seperti biasa—merekam setiap gerakan ibunya tanpa sadar.

“Coba kamu yang ulek,” kata Artika sambil mendorong cobek dan ulekan ke arahnya.

Adam mengangkat alis. “Aku?”

“Iya.”

Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada instruksi detail. Hanya kepercayaan sederhana yang justru terasa lebih besar.

Adam duduk di kursi kecil. Tangannya menyentuh ulekan—dingin, berat, dan sedikit kasar. Ia memasukkan cabai ke dalam cobek, lalu mulai menekan pelan.

Suara gesekan batu terdengar tidak rata. Cabai hanya sedikit hancur, tidak seperti yang ia lihat saat ibunya melakukannya.

“Lebih ditekan,” kata Artika.

Adam mencoba lagi, kali ini lebih kuat. Cabai mulai pecah, warnanya menyebar. Ia menambahkan bawang putih, lalu melanjutkan dengan gerakan yang masih kaku.

Di sisi lain, minyak di wajan mulai panas. Artika memasukkan ayam yang sudah dibumbui ketumbar. Suara desis langsung memenuhi dapur—keras, hidup, seolah mengisi ruang yang tadi sempat sunyi.

Aroma ayam goreng perlahan mengalahkan bau terasi. Lebih hangat, lebih menggoda.

Adam menoleh, matanya sedikit berbinar.

“Itu baunya enak.”

Artika tersenyum kecil. “Karena kamu suka ayam.”

Lihat selengkapnya