Cahaya dari jendela dapur jatuh terang dan lurus, memantul di lantai keramik yang sedikit kusam, menandakan hari sudah berjalan cukup jauh. Udara di dalam rumah terasa lebih hangat, tidak pengap, tapi cukup untuk membuat kipas angin di ruang tengah terus berputar tanpa henti. Suara aktivitas dari luar terdengar jelas—anak-anak berteriak, motor lewat, dan sesekali pedagang yang memanggil dagangannya.
Di dapur, aroma ikan asin sudah lebih dulu memenuhi ruang bahkan sebelum Adam benar-benar masuk. Tajam, asin, dan sulit diabaikan.
Milan berdiri di ambang pintu, menutup hidungnya.
“Aduh, baunya…”
Adam yang duduk di meja hanya melirik sekilas.
“Biasa aja,” katanya santai.
Milan menggeleng cepat.
“Enggak biasa.”
Artika tidak menanggapi. Ia fokus membalik ikan asin di wajan. Gerakannya cepat, memastikan tidak gosong. Di sampingnya, cabai hijau sudah siap ditumis.
“Kalau nggak suka, jangan dekat-dekat ya, De.” katanya tenang.
Milan mundur sedikit, tapi tetap tidak pergi.
“Itu nanti dimakan?”
“Iya.”
“Semua?”
“Iya. Semua.”
Jawaban itu membuat Milan terdiam. Ia menatap piring kosong di meja, lalu kembali ke dapur.
Di kompor lain, panci sayur asem mendidih pelan. Kuahnya bening dengan sedikit warna kecokelatan. Jagung, kacang panjang, dan potongan sayur lain terlihat bergerak pelan di dalamnya.
Adam berdiri, mendekat. Ia mengintip ke dalam panci.
“Baunya beda,” katanya.
“Itu sayur asem,” jawab Artika.
Adam mengangguk, meski belum sepenuhnya mengerti.