Memori Rasa

Aditian Nugraha
Chapter #6

#6 — Teh Hangat dan Roti Lapis

Ada jenis lelah yang tidak terlihat di wajah, tapi terasa dari cara seseorang duduk lebih lama dari biasanya. Di ruang tengah, Agung bersandar di kursi dengan kancing kemeja yang sudah terbuka dua, dasinya longgar, dan napas yang sedikit lebih berat dari biasanya. Televisi menyala, tapi suaranya kecil—lebih seperti pengisi ruang daripada sesuatu yang benar-benar ditonton.

Dari dapur, suara air yang dituangkan ke dalam teko terdengar pelan. Uap tipis mulai naik, membawa aroma teh yang ringan, tidak mencolok, tapi cukup untuk menenangkan. Artika berdiri di depan meja, memotong roti tawar dengan pisau kecil, lalu mengoleskan mentega tipis-tipis di permukaannya.

Adam masuk ke arah kamar dengan langkah yang tidak terburu. Tas sekolahnya masih tergantung di bahu, belum sempat ia letakkan. Ia berhenti di ambang ruang tengah, melihat ayahnya yang tampak lebih diam dari biasanya.

“Capek, Yah?” tanyanya pelan.

Agung melirik sebentar, lalu mengangguk kecil.

“Lumayan, Aa.”

Tidak ada keluhan panjang. Tidak ada cerita detail. Tapi dari cara ia menjawab, Adam bisa merasakan bahwa hari itu memang tidak ringan.

Adam meletakkan tasnya di kursi, lalu berjalan ke dapur. Ia melihat ibunya yang sedang menyusun roti lapis—dua lembar roti, sedikit telur orak-arik di tengah, dan irisan tipis mentimun.

“Mamah bikin apa?” tanyanya.

“Roti lapis sama teh hangat,” jawab Artika tanpa menoleh.

Adam mengangguk, lalu berdiri di samping meja. Ia memperhatikan setiap gerakan ibunya—cara mentega dioles tidak terlalu tebal, cara telur disusun rapi, cara roti ditekan sedikit agar tidak berantakan.

“Boleh bantu?” tanyanya.

Artika berhenti sebentar, lalu menyerahkan satu lembar roti.

“Pegang ini.”

Adam menerimanya dengan hati-hati, seperti takut salah. Ia mencoba meniru cara ibunya mengoles mentega, tapi gerakannya masih kaku.

“Tipis aja,” kata Artika.

Adam mengangguk, lalu mengulanginya lebih pelan.

Di luar, suara motor lewat sesekali. Tidak terlalu ramai, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa hari belum benar-benar selesai. Cahaya dari jendela mulai berubah—tidak lagi tajam, tapi belum sepenuhnya redup.

Milan muncul dari kamar dengan langkah cepat, rambutnya sedikit berantakan.

“Lagi pada ngapain?” tanyanya sambil melihat meja dapur.

“Bikin roti lapis.” jawab Adam.

Milan langsung mendekat, matanya berbinar.

“Pakai cokelat?”

“Enggak,” jawab Adam. “Telur.”

Milan sedikit kecewa, tapi tetap duduk di kursi.

Lihat selengkapnya