Memori Rasa

Aditian Nugraha
Chapter #7

#7 — Roti Bakar dan Mie Goreng Pinggir Jalan

Enam tahun berlalu tanpa terasa. Adam sudah berusia 16 tahun. Kelas 2 SMA. 

Lampu-lampu kecil yang menggantung di atas gerobak itu tidak benar-benar terang, tapi cukup untuk membuat bayangan orang-orang di sekitarnya terlihat bergerak pelan. Asap tipis dari wajan naik ke udara malam yang mulai dingin, membawa aroma minyak panas, bawang, dan kecap yang dimasak cepat di atas api besar. Di sisi jalan, suara kendaraan masih lewat, tapi tidak sepadat sebelumnya—ritmenya lebih renggang, seperti memberi ruang untuk orang-orang yang berhenti sejenak.

Adam berdiri sedikit di belakang ayahnya, memperhatikan dengan diam. Ini bukan tempat yang sering mereka datangi bersama. Bahkan bisa dihitung dengan jari. Tapi malam itu terasa berbeda—tidak direncanakan, tidak juga istimewa, hanya… terjadi.

“Dua mie goreng, satu nggak pedas,” kata Agung pada penjual.

“Siap, Pak.”

Adam tidak langsung duduk. Ia masih melihat wajan besar itu—bagaimana mie dilempar, dibolak-balik, dicampur dengan telur, sayur, dan bumbu dengan gerakan cepat yang hampir seperti kebiasaan yang tidak perlu dipikirkan lagi.

“Kenapa di sini, Yah?” tanyanya pelan.

Agung tidak langsung menjawab. Ia menarik kursi plastik, lalu duduk.

“Pengen aja.”

Jawaban itu sederhana, tapi tidak terasa asal.

Adam duduk di seberangnya. Kursinya sedikit goyang, tapi ia tidak mempermasalahkan. Ia melihat sekeliling—beberapa orang makan sendiri, beberapa berdua, sebagian besar diam, hanya sesekali berbicara.

Tidak ada yang saling mengenal, tapi semuanya seperti berada di ruang yang sama.

“Kamu pernah ke sini?” tanya Agung.

Adam menggeleng.

“Belum pernah, Pah.”

Agung mengangguk kecil, lalu menatap ke arah gerobak.

“Dulu waktu masih muda, sering makan di tempat kayak gini.”

Adam tidak langsung merespons. Ia mencoba membayangkan ayahnya di masa itu—berdiri di tempat seperti ini, mungkin dengan teman, mungkin sendirian.

Sulit dibayangkan.

Mie goreng datang lebih dulu. Piringnya sederhana, dengan sedikit irisan tomat dan kerupuk di samping. Uap panas masih terlihat jelas, membawa aroma yang langsung terasa lebih kuat dibanding masakan rumah.

Adam mengambil sendok, meniup sedikit, lalu mencicipi.

Lihat selengkapnya