Bunyi sendok beradu dengan mangkuk terdengar lebih keras dari biasanya, bukan karena suaranya berubah, tapi karena ruang di sekitarnya penuh oleh percakapan yang saling tumpang tindih. Kantin sekolah SMA Permata Harapan Bangsa yang disingkat PERHABA tidak pernah benar-benar sepi—selalu ada yang datang, duduk, tertawa, atau sekadar lewat tanpa tujuan jelas. Bau kuah bakso yang panas bercampur dengan gorengan dan minuman manis menciptakan suasana yang sulit dijelaskan: ramai, tapi akrab bagi yang terbiasa.
Adam berdiri beberapa langkah dari meja tengah, membawa mangkuk bakso yang uapnya masih terlihat jelas. Tangannya sedikit kaku, bukan karena berat, tapi karena ia belum yakin ke mana harus duduk.
Ia sudah beberapa kali makan di kantin itu, tapi hampir selalu di tempat yang sama—pojok dekat jendela, sendirian, dengan punggung sedikit membungkuk, seperti ingin menghilang dari keramaian.
Hari ini berbeda.
“Adam!”
Suara itu datang dari tengah kantin. Rey melambaikan tangan dengan gerakan besar, hampir terlalu mencolok. Di sampingnya, Ferly duduk dengan posisi tegak, sementara Arga bersandar sedikit ke belakang, ekspresinya datar tapi matanya memperhatikan.
Adam berhenti sebentar. Ia menatap mereka, lalu meja di sekitarnya, lalu kembali ke mereka.
Ada jeda kecil—tidak terlihat oleh orang lain, tapi cukup terasa bagi dirinya.
“Ke sini!” teriak Rey lagi.
Adam menarik napas pendek, lalu berjalan mendekat.
“Lama banget, lu.” kata Rey begitu Adam sampai.
Adam duduk pelan, meletakkan mangkuknya.
“Antri,” jawabnya singkat.
Rey tertawa.
“Alasan aja.”
Adam tidak menanggapi. Ia hanya mengambil sendok, meniup kuah baksonya, lalu mencicipi.
Hangatnya langsung terasa. Kuahnya gurih, sederhana, tidak terlalu kuat, tapi cukup untuk membuatnya nyaman. Ia mengambil satu bakso, menggigit perlahan.
Di seberangnya, Ferly memperhatikan tanpa banyak bicara.
“Lu biasa makan sendiri?” tanyanya tiba-tiba.
Adam berhenti sejenak, lalu mengangguk kecil.
“Iya.”
“Kenapa?”
Adam mengangkat bahu.
“Ya nggak apa-apa.”
Rey menyela, masih dengan nada santainya.
“Sekarang nggak sendiri lagi, berarti.”
Adam tidak langsung menjawab. Ia hanya kembali makan.
Di sampingnya, Arga yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.
“Kalau nggak nyaman, bilang aja.”
Nada suaranya datar, tapi tidak kasar.
Adam melirik.
“Enggak.”