Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, memantul di aspal yang masih menyimpan sisa panas hari itu. Di pinggir jalan, gerobak martabak berdiri dengan suara spatula yang beradu pelan dengan loyang panas, menciptakan ritme yang entah kenapa terasa menenangkan. Aroma adonan yang dimasak perlahan, berpadu dengan mentega dan gula, menyebar ke udara, mengundang siapa saja yang lewat untuk setidaknya menoleh.
Adam berdiri tidak jauh dari gerobak itu, tangan dimasukkan ke saku, memperhatikan tanpa banyak bicara. Di sampingnya, Rey sudah lebih dulu memesan dengan gaya khasnya yang terlalu santai untuk dianggap serius.
“Bang, satu cokelat keju. Yang tebal ya,” kata Rey.
“Semua juga tebal,” jawab penjual tanpa melihat.
Rey tertawa sendiri.
“Yaudah, yang paling tebal.”
Arga berdiri dengan tangan terlipat, ekspresinya datar.
“Semua juga sama,” gumamnya.
Ferly hanya berdiri sedikit di belakang, memperhatikan tanpa ikut campur.
Adam masih diam. Ia tidak terbiasa berada di luar rumah di waktu seperti ini tanpa alasan jelas. Tidak ada keperluan. Tidak ada kewajiban. Hanya… ikut.
“Lu diem aja dari tadi,” kata Rey sambil melirik.
Adam mengangkat bahu.
“Ngapain?”
“Ngapain ya ngobrol lah,” jawab Rey cepat.
Adam tidak langsung menjawab. Ia menatap gerobak itu lagi—adonan yang dituangkan ke loyang, gelembung kecil yang mulai muncul di permukaan, lalu taburan gula yang membuatnya sedikit mengkilap.
“Gue dengerin,” katanya akhirnya.
Arga mendengus pelan.
“Dia emang gitu.”
Rey menoleh.
“Lu udah kenal lama emangnya?”
“Kelihatan,” jawab Arga singkat.
Adam tidak tersinggung. Ia hanya sedikit tersenyum.
Martabak mulai diangkat dari loyang. Mentega dioleskan di atasnya, meleleh pelan, meresap ke dalam lapisan yang masih panas. Cokelat dan keju ditaburkan, lalu dilipat dan dipotong menjadi beberapa bagian.
Aroma manisnya langsung terasa lebih kuat.
Rey mengambil kotak martabak itu, lalu mereka berjalan sedikit menjauh, mencari tempat duduk. Mereka berhenti di bangku beton di pinggir jalan, di bawah lampu yang tidak terlalu terang.
Rey membuka kotaknya.
“Asli, ini enak sih,” katanya sebelum siapa pun mencicipi.
Adam duduk di ujung, mengambil satu potong kecil. Ia tidak langsung makan. Ia melihat teksturnya—lembut di dalam, sedikit garing di luar.
Ia menggigit perlahan.
Manisnya langsung terasa. Cokelatnya meleleh, kejunya sedikit asin, menciptakan rasa yang penuh dan hangat. Tidak rumit, tapi cukup untuk membuatnya berhenti sejenak.
“Gimana?” tanya Rey.
Adam mengunyah, lalu menjawab pelan.
“Enak.”
Rey mengangguk puas, seolah itu sudah cukup.
Arga mengambil potongan lebih besar, langsung makan tanpa banyak komentar.