Bunyi spatula yang beradu dengan wajan kembali jadi suara pertama yang menyambut Adam sebelum ia benar-benar membuka mata. Tidak keras, tidak juga tergesa—lebih seperti ritme yang sudah ia kenal sejak lama. Dari balik pintu kamar yang belum sepenuhnya terbuka, aroma bawang putih yang ditumis lebih dulu masuk, diikuti bau tempe yang mulai berubah warna di atas api.
Adam duduk di tepi tempat tidur, rambutnya masih berantakan. Ia tidak langsung bangun. Ia hanya diam sebentar, mendengarkan. Ada suara sendok, suara piring, dan langkah kaki ringan di dapur. Di sela itu, suara Milan terdengar samar—mungkin sedang bicara sendiri, mungkin juga sedang bertanya sesuatu.
Adam berdiri, lalu membuka pintu. Cahaya pagi masuk dari jendela ruang tengah, tidak terlalu terang, tapi cukup untuk membuat bayangan di lantai terlihat lembut. Ia berjalan ke dapur tanpa alas kaki, seperti biasa.
Artika sudah berdiri di depan kompor. Di satu wajan, telur dadar sedang dimasak—mengembang perlahan, dengan potongan daun bawang yang terlihat menyebar di permukaannya. Di wajan lain, tempe orek diaduk pelan, warnanya kecokelatan dengan sedikit kilap dari kecap.
“Sudah bangun, Aa.” kata Artika tanpa menoleh.
Adam mengangguk kecil, meskipun ibunya tidak melihat.
“Iya.”
Ia berdiri di dekat meja, memperhatikan. Ada sesuatu dari kebiasaan itu yang tidak pernah terasa membosankan—melihat ibunya memasak, satu demi satu, dengan cara yang selalu sama tapi tidak pernah terasa berulang.
“Sekolah jam berapa?” tanya Artika.
“Seperti biasa,” jawab Adam.
Artika mengangguk. Ia membalik telur dadar dengan gerakan cepat, lalu mematikan api.
Milan muncul dari arah kamar dengan langkah yang lebih ringan, rambutnya masih kusut.
“Ada telur ya, Mah?” tanyanya langsung.
“Ada, De.” jawab Artika.
Milan tersenyum, lalu duduk di kursinya.
“Yang gede ya.”
Adam tertawa kecil.
“Sama aja, De.”
Milan tidak menanggapi. Ia hanya menatap wajan, menunggu.
Tumis kangkung dimasukkan terakhir. Suara “cesss” terdengar saat bawang bertemu minyak panas. Kangkung diaduk cepat, hanya sebentar, cukup sampai layu tapi masih hijau.
Adam mendekat sedikit.
“Ini pahit nggak?” tanyanya, meniru pertanyaan Milan beberapa hari lalu.
Artika tersenyum tipis.
“Enggak.”
Adam mengangguk, lalu kembali ke kursinya.
Meja makan terisi seperti biasa. Tidak banyak, tapi cukup. Nasi putih, telur dadar, tempe orek, dan tumis kangkung.
Agung datang dari kamar, membaca sesuatu di ponselnya. Ketika Adam duduk, ia mengangkat kepala sebentar.
“Pagi.”