Panas yang tersisa dari siang belum sepenuhnya pergi, masih menempel di aspal dan dinding bangunan, membuat udara terasa berat meski angin sudah mulai bergerak pelan. Di depan gerbang sekolah, kerumunan siswa perlahan terurai—ada yang langsung pulang, ada yang berhenti sebentar, dan ada juga yang seperti sengaja menunda langkah, mencari alasan untuk tidak segera pergi.
Adam berdiri di sisi jalan, tasnya sudah tergantung di satu bahu. Ia tidak langsung berjalan. Matanya mengikuti gerobak kecil yang baru saja berhenti di dekat pohon rindang—gerobak gado-gado dengan kaca bening yang sedikit buram, memperlihatkan sayur-sayur yang tersusun rapi di dalamnya.
Rey sudah lebih dulu mendekat.
“Bang, empat ya,” katanya tanpa menoleh ke belakang.
“Pedas semua?” tanya penjual.
“Dua pedas, dua biasa,” jawab Ferly dari belakang.
Arga berdiri dengan tangan di saku, mengamati tanpa banyak bicara. Adam masih di tempatnya, tidak benar-benar menjauh, tapi juga belum mendekat.
“Adam,” panggil Rey sambil menoleh. “Sini.”
Adam berjalan pelan, berhenti di samping mereka.
“Lu makan kan?” tanya Rey.
Adam mengangguk.
“Iya.”
Penjual mulai meracik. Lontong dipotong cepat, sayur disusun, tahu dan tempe ditambahkan, lalu bumbu kacang dituangkan di atasnya. Suara ulekan kecil terdengar saat bumbu diaduk dengan sedikit air, menciptakan aroma khas yang langsung terasa—kacang, bawang, dan sedikit asam yang samar.
Adam memperhatikan, seperti biasa. Ia tidak banyak bertanya, tapi matanya menangkap detail—warna, tekstur, cara semua disatukan.
Mereka duduk di bangku panjang di bawah pohon. Cahaya matahari sudah tidak setajam tadi, tapi masih cukup terang untuk membuat bayangan daun bergerak di tanah.
Rey langsung makan tanpa banyak komentar.
“Ini enak sih,” katanya dengan mulut setengah penuh.
Arga mendengus pelan.
“Lu semua juga bilang enak.”
Ferly makan lebih pelan, seperti biasa.
“Lumayan,” katanya singkat.
Adam mengambil sendok, lalu mencicipi sedikit.
Rasanya langsung terasa kompleks dibanding yang biasa ia makan. Ada manis dari bumbu kacang, sedikit gurih dari tahu dan tempe, dan sayur yang memberikan tekstur berbeda. Tidak terlalu kuat di satu sisi, tapi semuanya terasa hadir.
Ia mengunyah pelan, mencoba memahami.
“Gimana?” tanya Rey.
Adam berpikir sebentar.
“Rasanya pas.”
Rey tertawa.
“Ya memang.”
Adam tidak tersenyum lebar, tapi ada sedikit perubahan di ekspresinya.
Di seberang mereka, beberapa siswa lain duduk di bangku berbeda. Suara tawa terdengar, lalu mereda. Ada yang memanggil nama seseorang, ada yang sekadar lewat sambil melirik.
Seseorang berjalan mendekat.
Indriana.
Ia membawa botol minum di tangannya, langkahnya tidak terburu. Ia berhenti tidak jauh dari mereka, lalu menatap meja.
“Kalian di sini,” katanya.
Rey langsung mengangkat tangan.
“Sini, Indri.”