Aroma daun pisang yang dipanaskan di atas api selalu punya cara sendiri untuk menarik perhatian, bahkan sebelum seseorang benar-benar melihat apa yang ada di dalamnya. Di dapur, uap tipis naik dari kukusan yang tutupnya sedikit terbuka, membawa wangi tahu yang sudah dibumbui, bercampur dengan kemangi dan cabai rawit yang samar tapi menggoda.
Adam berdiri di ambang pintu, tasnya masih tergantung di bahu. Ia belum benar-benar masuk, hanya mengamati seperti biasa—diam, tapi tidak benar-benar jauh.
Artika sedang membuka satu per satu pepes dari kukusan. Daun pisang yang sebelumnya hijau cerah kini berubah lebih gelap, lembap, dan mengkilap karena uap panas. Saat dibuka, aroma di dalamnya langsung keluar—hangat, gurih, dan sedikit pedas.
“Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam. Sudah pulang, a.” kata Artika tanpa menoleh.
Adam mengangguk kecil.
“Iya.”
Ia melangkah masuk, meletakkan tas di kursi, lalu mendekat ke meja.
“Itu apa, Mah?” tanyanya, meskipun ia sudah tahu.
“Pepes tahu,” jawab Artika. “Sama sayur lodeh.”
Di kompor sebelah, panci sayur lodeh masih menyala kecil. Kuah santannya berwarna putih kekuningan, dengan potongan labu siam, kacang panjang, dan tempe yang terlihat setengah tenggelam. Uapnya naik perlahan, membawa aroma santan yang lembut, bercampur dengan daun salam dan lengkuas.
Adam menatap panci itu beberapa detik lebih lama dari biasanya.
“Boleh lihat?” tanyanya.
Artika mengangguk.
Adam mendekat, sedikit mencondongkan badan. Ia tidak menyentuh, hanya melihat.
“Ini dimasaknya lama?” tanyanya lagi.
“Lumayan,” jawab Artika. “Bumbunya harus meresap dulu.”
Adam mengangguk pelan.
Milan berlari kecil dari ruang tengah, seragam SD-nya masih dipakai, dasinya sudah longgar.
“Assalamualaikum, dede pulang!” katanya cepat.
Adam melirik.
“Walaikumsalam.” Jawab serentak.
Milan langsung mendekat ke meja.
“Mamah masak apa?”
“Pepes tahu sama Sayur Lodeh,” jawab Adam.
Milan langsung mengernyit.
“Pedas?”
“Sedikit,” jawab Artika.
Milan menarik kursi, duduk dengan ekspresi setengah ragu.
Agung masuk beberapa menit kemudian, melepas jam tangannya sambil berjalan ke arah meja makan.
“Masak apa hari ini, Mah?” tanyanya.
“Pepes tahu sama lodeh, Pah.” jawab Artika.
Agung mengangguk.