Langit belum sepenuhnya turun ke warna sore, tapi cahaya sudah tidak lagi seterang siang. Bayangan bangunan memanjang di jalan, dan suara kendaraan mulai lebih jarang, memberi ruang bagi percakapan yang tidak terburu.
Tiga motor keluar dari area parkir SMA PERHABA hampir bersamaan.
Rey yang paling depan, dengan Adam duduk di belakangnya. Adam tidak banyak bicara, tangannya hanya bertumpu ringan, tubuhnya sedikit condong mengikuti arah motor.
Di belakang, Ferly mengendarai dengan lebih stabil, Indri duduk di belakangnya, menjaga jarak tanpa terlihat kaku. Arga menyusul di belakang, sendiri, seperti biasa—tidak pernah benar-benar ikut berboncengan, seolah itu sudah jadi pilihannya sejak awal.
Perjalanan tidak jauh. Tapi cukup untuk membuat angin sore menyapu wajah, membawa sisa lelah dari sekolah.
Motor berhenti di depan rumah Adam.
Rey mematikan mesin.
“Turun,” katanya santai.
Adam turun pelan, melepas helm, lalu melihat ke arah rumahnya. Ada jeda sepersekian detik—bukan ragu, tapi seperti memastikan dirinya siap.
“Masuk aja,” katanya akhirnya.
Arga sudah lebih dulu memarkir motornya. Ferly membantu Indri turun dengan gerakan singkat, tidak berlebihan.
“Permisi,” kata Indri pelan saat melangkah masuk.
Pintu rumah terbuka setengah. Dari dalam, aroma masakan langsung keluar—hangat, tajam, dan akrab.
Bumbu ketumbar yang digoreng, bercampur dengan bau sambal yang baru diulek, menyebar ke ruang depan.
Adam masuk lebih dulu.
“Assalamualaikum,” panggilnya.
“Walaikumsalam,” jawab Artika dari dapur.
Milan muncul dari ruang tengah, matanya langsung menangkap lebih dari satu orang di belakang Adam.
“Itu siapa, Aa?”
“Temen sekolah,” jawab Adam singkat.
Rey tersenyum lebar.
“Halo.”
Milan membalas pelan, masih mengamati.
Ferly mengangguk sopan. Arga hanya berdiri di belakang, tidak banyak bicara. Indri masuk terakhir, langkahnya tetap tenang.
Dari dapur, Artika keluar sambil mengelap tangan.
“Oh, sudah datang,” katanya dengan nada hangat.