Memori Rasa

Aditian Nugraha
Chapter #14

#14 — Mie Goreng Tek-Tek dan Telor Ceplok

Suara “tek… tek… tek…” terdengar lebih dekat dari biasanya, seperti sengaja berhenti di depan rumah.

Lampu teras menyala, memantulkan bayangan panjang ke halaman. Malam belum sepenuhnya sunyi, tapi cukup tenang untuk membuat suara kecil terasa jelas.

Adam duduk di lantai ruang tengah, bersandar ke sofa. Rey rebahan setengah, Arga duduk dengan punggung tegak, Ferly membuka buku tapi tidak benar-benar membaca, Indri sudah lebih dulu pulang.

“Pesan nggak?” tanya Rey.

Adam mengangguk.

“Boleh.”

Tidak lama, mie goreng datang.

Piring seng hangat, mie kecokelatan dengan aroma asap dari wajan besar, telur ceplok di atasnya—pinggirannya renyah, kuningnya masih setengah cair.

Mereka makan di lantai.

Tidak rapi. Tapi tidak ada yang mempermasalahkan.

“Wah, mie goreng tek-tek emang mantap,” kata Rey.

“Ya jelas,” jawab Arga.

Adam mencicipi.

Rasanya lebih sederhana. Lebih langsung.

Tidak seperti masakan ibunya yang berlapis.

Tapi justru itu yang terasa pas malam itu.

Setelah makan, piring dibiarkan sebentar di samping.

Tidak ada yang buru-buru.

“Jadi kita nginep?” tanya Rey.

Adam mengangguk kecil.

“Iya, boleh.”

Lihat selengkapnya