Pagar rumah Ferly terbuka sebelum mereka benar-benar berhenti. Tidak perlu klakson, tidak perlu panggil nama—seolah kedatangan mereka sudah termasuk dalam ritme rumah itu, sesuatu yang tidak mengganggu, hanya menambah.
Motor masuk satu per satu. Rey paling dulu, dengan Adam di belakangnya. Diikuti Ferly sendiri yang sudah lebih dulu sampai dan membuka gerbang, lalu Arga yang datang terakhir dengan motornya sendiri, mesin dimatikan sedikit lebih keras dari yang lain—bukan sengaja, tapi seperti itu saja cara ia berhenti.
Halaman rumah Ferly lebih luas dari yang biasa mereka datangi. Rumputnya dipotong rapi, lampu taman menyala lembut, tidak terlalu terang tapi cukup untuk membuat segala sesuatu terlihat jelas tanpa terasa menyilaukan. Di tengah, sebuah panggangan sudah berdiri, arang di dalamnya mulai memerah pelan.
“Masuk,” kata Ferly singkat.
Tidak ada nada pamer. Tidak juga canggung. Hanya datar, seperti biasa.
Rey melangkah duluan, matanya bergerak cepat ke segala arah.
“Ini halaman doang?” katanya.
Ferly mengangguk.
“Iya.”
Rey tertawa kecil.
“Halaman lu lebih luas dari rumah gue.”
Arga mendengus pelan, tidak menanggapi. Ia berjalan ke arah panggangan, melihat arang yang mulai hidup.
Adam datang paling belakang. Langkahnya tidak lambat, tapi juga tidak terburu. Matanya menyapu sekitar—lampu, meja, kursi, pagar tinggi yang membatasi rumah dari jalan luar.
Rapi.
Terlalu rapi.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Di dalam rumah, pintu kaca besar memantulkan cahaya dari dalam—hangat, stabil, tanpa suara berisik. Berbeda dengan rumahnya yang hidup dengan suara kecil—piring, sendok, langkah kaki, dan percakapan yang mengalir tanpa dipikir.
Di sini… lebih tenang.
“Mulai aja,” kata Ferly.
Ia mengambil penjepit, membuka wadah berisi daging yang sudah dibumbui. Warnanya merah kecokelatan, sedikit mengilap oleh minyak dan bumbu yang meresap. Ada sosis, potongan ayam, dan beberapa sayuran yang sudah ditusuk.
Adam mendekat.
“Apa yang harus gue lakuin?” tanyanya.
“Balik kalau udah kecokelatan,” jawab Ferly.
Rey sudah duduk di kursi, tapi tidak lama.
“Gue bantu juga deh,” katanya, bangkit lagi.
Arga mengambil posisi di sisi lain panggangan. Ia tidak banyak bicara, tapi tangannya langsung bekerja—menata tusukan, menggeser sedikit posisi arang, memastikan panasnya tidak terlalu tinggi.
Api menyentuh daging.
Suara kecil terdengar—desis yang halus tapi konstan. Lemak mulai meleleh, jatuh ke arang, memicu asap tipis yang naik perlahan.
Aroma langsung berubah.
Lebih dalam.
Lebih berat.
Lebih “malam”.
Adam memperhatikan cara Ferly membalik daging. Tidak tergesa. Tidak juga ragu. Seperti sudah sering dilakukan.
“Lu sering kayak gini?” tanya Adam.
“Kadang-kadang, sih. Nggak sering-sering banget.” jawab Ferly.
Rey menyela.
“Kadang versi dia tuh… bukan kadang biasa.”
Ferly tidak menanggapi. Ia hanya memindahkan satu tusuk ke sisi yang panasnya lebih kecil.
Adam mengambil satu tusuk, mencoba membalik. Gerakannya tidak sehalus Ferly, tapi cukup.
Ia fokus.
Lebih fokus dari biasanya.