Suara sendok membentur mangkuk terdengar lebih dulu sebelum pintu benar-benar terbuka. Bukan suara yang rapi, lebih seperti terburu—cepat, acak, bercampur dengan tawa yang tidak ditahan. Rumah Rey tidak pernah benar-benar sunyi, bahkan saat tidak ada orang yang bicara sekalipun.
Adam masuk bersama yang lain tanpa perlu diarahkan. Tidak ada formalitas. Tidak ada jeda untuk menyesuaikan diri. Semua terasa langsung berjalan.
“Masuk aja!” suara Rey terdengar dari dalam, meskipun mereka sudah di ambang pintu.
Arga melangkah duluan, diikuti Ferly yang sedikit memperlambat langkahnya, memperhatikan sekitar. Adam masuk tanpa banyak melihat—bukan karena tidak peduli, tapi karena ia sudah tahu apa yang akan ia temui.
Berbeda.
Rumah Rey tidak besar. Tidak juga sempit. Tapi penuh. Bukan penuh barang, melainkan penuh suara, penuh gerakan, penuh hal-hal kecil yang tidak pernah benar-benar diam.
Televisi menyala tanpa ada yang benar-benar menonton. Kipas angin berputar dengan bunyi halus. Dari dapur, suara air mendidih terdengar, bercampur dengan aroma pedas yang langsung menusuk hidung.
“Seblak!” kata Rey sambil keluar membawa dua mangkuk.
Uap panas naik dari permukaannya. Kuah merah dengan minyak yang sedikit mengilap di atas, potongan kerupuk yang sudah mengembang, mie, dan telur yang tercampur di dalamnya. Bau kencur terasa kuat, khas, sedikit tajam tapi mengundang.
“Pedes?” tanya Arga.
Rey tersenyum.
“Ya.”
“Lu nggak pernah bikin yang nggak pedes?” tanya Arga lagi.
“Ngapain?” jawab Rey cepat.
Ferly duduk lebih dulu, mengambil mangkuk dengan hati-hati.
“Jangan langsung banyak,” katanya.
Rey tertawa.
“Lu mah kayak dokter aja.”
Adam duduk di lantai, punggungnya bersandar ke sofa. Ia mengambil mangkuk terakhir. Panasnya terasa sampai ke telapak tangan.
Ia meniup pelan sebelum mencoba.
Rasa pertama langsung kuat—pedas, gurih, dengan kencur yang mendominasi. Tidak halus, tidak berlapis, tapi terasa hidup.
“Gimana?” tanya Rey.
Adam mengangguk.
“Pedes.”
Rey tertawa.
“Ya emang.”
Mereka makan dengan ritme yang tidak sama. Rey cepat, Arga sedikit lebih lambat tapi tetap besar suapannya, Ferly hati-hati, Indri yang baru datang duduk di samping dengan tenang, makan tanpa banyak suara.