Asap tipis dari pembakaran arang naik perlahan, membawa aroma daging yang dipanggang tanpa banyak bumbu—hanya garam, sedikit jeruk nipis, dan cabai yang diulek kasar di sampingnya. Tidak semewah barbeque di rumah Ferly, tidak juga sehangat dapur rumah Adam. Tapi justru karena itu, tempat ini terasa jujur.
Trotoar sempit, bangku plastik seadanya, dan lampu kuning yang menggantung miring di atas gerobak.
Rey sudah duduk duluan, kakinya selonjor, satu tangan menopang dagu.
“Empat porsi, Bang! Pedes semua!” teriaknya.
“Lima,” sahut Indri dari belakang.
Rey menoleh.
“Lah kapan datengnya?”
Indri mengangkat bahu kecil.
“Dari tadi.”
Adam berdiri di samping, melihat tusukan sate yang mulai dibakar. Api kecil menyentuh permukaan daging, membuatnya sedikit menghitam di beberapa sisi. Bau asapnya tidak terlalu tebal, tapi cukup untuk melekat.
Arga datang paling terakhir.
Langkahnya tidak cepat, tapi juga tidak lambat. Ia duduk tanpa banyak suara, mengambil posisi di ujung bangku.
“Lama,” kata Rey.
“Macet,” jawab Arga singkat.
Tidak ada yang memperpanjang.
Ferly duduk di tengah, seperti biasa—cukup dekat untuk mendengar semua, cukup netral untuk tidak menarik perhatian.
Mereka menunggu tanpa benar-benar menunggu.
Percakapan sudah jalan sebelum makanan datang.
Tentang sekolah.
Tentang guru yang mulai memberi tekanan lebih.
Tentang rencana yang belum tentu terjadi.
Dan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting, tapi terasa penting karena dibicarakan bersama.
Sate datang.
Piring kertas, tusukan yang masih panas, dengan sambal merah terang di sampingnya. Cabai yang diulek kasar, dicampur jeruk nipis, sedikit minyak, dan garam—sederhana, tapi tajam.
Rey langsung mengambil.
“Gas.”
Ia mencelupkan sate ke sambal, lalu menggigit.
Beberapa detik.
“Pedes banget,” katanya sambil tertawa.
Arga ikut mengambil, tanpa komentar.
Ferly makan lebih pelan.
Indri mencicipi sedikit, lalu menambahkan sambal lagi.
Adam melihat sejenak sebelum akhirnya mengambil satu tusuk.
Ia mencelupkan sedikit saja.
Gigitan pertama langsung terasa—pedas yang naik cepat, asam dari jeruk nipis yang menyusul, dan gurih dari daging yang tidak terlalu berbumbu.
Sederhana.
Tapi hidup.
“Lu kuat nggak?” tanya Rey.
Adam mengangguk.