Bau kapur tulis yang bercampur dengan udara hangat ruang kelas terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena panasnya berbeda, tapi karena hari itu berjalan seperti hari-hari lain—dan justru karena itu, tidak ada yang benar-benar disiapkan untuk sesuatu yang baru.
Adam duduk di kursinya, sedikit menyandar, buku terbuka tanpa benar-benar dibaca. Suara guru di depan masuk, tapi tidak sepenuhnya menetap. Di sampingnya, Rey masih sempat mencoret sesuatu di buku, bukan catatan, lebih seperti gambar tidak jelas yang ia buat sambil mendengarkan setengah.
Arga duduk sedikit ke belakang, posisi tubuhnya tegak, tapi matanya sesekali keluar jendela. Ferly di sisi lain, fokus dengan cara yang berbeda—mendengar, mencatat, memahami tanpa banyak gerakan.
Indri duduk tidak jauh dari Adam. Seperti biasa, tidak mencolok, tapi tidak pernah benar-benar hilang dari garis pandang.
Suasana berjalan normal.
Sampai pintu kelas diketuk.
Semua menoleh.
Guru berhenti bicara.
“Masuk,” katanya.
Pintu terbuka perlahan.
Seorang perempuan berdiri di ambang pintu. Rambutnya lurus, jatuh rapi melewati bahu, kulitnya pucat dengan ekspresi yang tidak menunjukkan banyak hal. Ia tidak terlihat gugup, tapi juga tidak terlihat percaya diri. Lebih tepatnya… datar.
Perempuan itu melangkah masuk. Tasnya tidak besar, gerakannya tidak terburu, tapi juga tidak lambat.
“Perkenalkan diri kamu,” lanjut guru.
Ia berdiri di depan kelas.
“Nama saya Hanna.”
Suaranya pelan.
Tidak gemetar.
Tidak juga berusaha terdengar jelas.
Hanya… cukup.
“Pindahan dari mana?” tanya guru.
Hanna menyebutkan nama kota dengan singkat.
Tidak ada tambahan cerita.
Tidak ada usaha untuk membuat dirinya lebih menarik.
Beberapa siswa mulai berbisik pelan. Bukan mengejek, hanya refleks. Orang baru selalu menarik perhatian—setidaknya untuk beberapa saat.
Adam melihat.
Bukan hanya melihat wajahnya.
Tapi cara ia berdiri.
Cara ia tidak berusaha menjelaskan lebih dari yang perlu.
Dan cara matanya… tidak benar-benar mencari siapa pun.
“Silakan duduk,” kata guru.
Hanna mengangguk sedikit, lalu berjalan ke kursi kosong di sudut kelas.
Sudut yang tidak terlalu terlihat.
Tapi cukup untuk melihat semua.
Ia duduk, membuka tas, mengeluarkan buku tanpa suara berlebih.
Kelas kembali berjalan.
Seolah tidak ada yang berubah.
Tapi ada sesuatu yang bergeser.
Tidak besar.
Tapi terasa.
Jam pelajaran berakhir.
Suara kursi bergeser, buku ditutup, percakapan mulai muncul dari berbagai arah. Rey langsung berdiri, meregangkan badan.