Garis pertama tidak pernah benar-benar lurus, tapi Adam tetap menariknya pelan, seolah ketidaksempurnaan itu memang bagian dari yang ia cari. Pensilnya bergerak tanpa suara, hanya sesekali berhenti untuk menyesuaikan tekanan, lalu kembali berjalan dengan ritme yang sudah ia kenal sejak lama.
Di luar kelas, cahaya jatuh dari sisi jendela dengan sudut yang tidak lagi tegak. Meja kayu memantulkan warna hangat, dan suara dari koridor mulai berkurang—bukan sepi, tapi cukup jauh untuk tidak mengganggu.
Adam duduk sendiri.
Buku pelajaran terbuka, tapi halaman di atasnya sudah dipenuhi garis. Sketsa wajah, potongan tangan, dan beberapa bentuk yang tidak selesai. Ia tidak sedang membuat sesuatu yang spesifik. Hanya… membiarkan tangannya bekerja.
Suara langkah pelan mendekat.
Tidak tergesa.
Tidak juga ragu.
Adam tidak langsung menoleh.
Sampai bayangan jatuh di atas kertasnya.
Ia berhenti.
Menoleh.
Hanna berdiri di samping meja, memegang sesuatu di tangannya.
Tidak ada pembuka.
Tidak ada sapaan.
Ia hanya melihat ke arah gambar Adam.
Beberapa detik.
“Lu gambar tiap hari?” tanyanya.
Suaranya tetap datar.
Adam mengangguk.
“Iya.”
Hanna tidak langsung merespons. Ia menarik kursi di depan Adam tanpa suara berlebih, lalu duduk.
Jarak mereka tidak dekat.
Tapi cukup.
“Boleh lihat?” tanyanya.
Adam mendorong buku itu sedikit ke depan.
Hanna melihat.
Tidak hanya melihat sekilas.
Ia memperhatikan.
Cara garis ditarik.
Cara bayangan dibentuk.
Cara beberapa bagian sengaja dibiarkan tidak selesai.
“Lu nggak pernah rapihin semuanya,” katanya.
Adam sedikit mengernyit.
“Maksudnya?”
Hanna menunjuk satu bagian.
“Di sini,” katanya. “Lu berhenti sebelum selesai.”
Adam melihat.
“Iya.”
“Kenapa?”
Adam tidak langsung menjawab.
Ia memutar pensil di tangannya.
“Kalau selesai… kadang malah jadi nggak enak dilihat,” katanya.
Hanna mengangguk pelan.
“Karena terlalu pasti.”
Adam menatapnya sebentar.
“Iya.”