Memori Rasa

Aditian Nugraha
Chapter #20

#20 — Rendang di Meja Belajar

Aroma santan yang dimasak lama selalu punya cara sendiri untuk memenuhi ruang—tidak menyerbu, tapi meresap perlahan ke dinding, ke kain gorden, ke udara yang diam di antara suara-suara kecil rumah. Dari dapur, bunyi sendok kayu menggesek dasar wajan terdengar ritmis, seolah seseorang sedang menjaga sesuatu agar tidak hangus.

Adam baru saja membuka pintu ketika bau itu menyambutnya lebih dulu.

Ia berhenti sejenak di ambang.

Bukan karena ragu.

Lebih karena… mengenali.

“Masak apa, Mah?” tanyanya tanpa perlu masuk lebih jauh.

Dari dapur, Artika menoleh sedikit, tangannya tetap bergerak.

“Rendang,” jawabnya.

Adam mengangguk kecil.

“Lama?”

“Dari siang,” katanya ringan. “Biar empuk.”

Suara langkah lain masuk dari belakang.

Rey langsung mendahului, melewati Adam tanpa permisi.

“Wah, enak nih!” katanya.

Arga masuk setelahnya, tidak banyak komentar, hanya mengangguk ke arah dalam. Ferly lebih pelan, memperhatikan sekitar seperti biasa. Indri datang terakhir, menutup pintu dengan hati-hati.

Dan di belakang Indri—Hanna.

Langkahnya tidak berbeda dari biasanya. Tidak terburu, tidak juga ragu. Ia masuk tanpa menarik perhatian, tapi tetap terasa kehadirannya.

Adam melirik.

Bukan kaget.

Lebih seperti… mencatat.

“Masuk aja,” kata Adam pelan.

Hanna mengangguk sedikit.

Mereka menuju ruang tengah. Buku-buku mulai dikeluarkan, tas dibuka, meja disiapkan tanpa banyak instruksi. Ini bukan pertama kali mereka belajar bersama di rumah Adam. Tapi hari itu terasa sedikit berbeda.

Bukan karena jumlahnya.

Tapi karena ada yang baru di dalamnya.

Rey sudah duduk dengan posisi setengah rebahan.

“Gue nggak janji fokus ya,” katanya.

Arga langsung menyikut.

“Lu dari awal juga nggak pernah fokus.”

Ferly duduk di tengah, membuka buku dengan rapi.

“Minimal pura-pura,” katanya.

Indri tersenyum kecil, membuka catatannya.

Adam duduk di sisi meja, mengambil pensilnya.

Hanna mengambil posisi di ujung.

Tidak terlalu dekat.

Tidak juga menjauh.

Belajar dimulai.

Atau setidaknya… terlihat seperti belajar.

Rey tetap banyak bicara.

Arga beberapa kali menyela dengan nada setengah kesal.

Ferly menjelaskan ketika ada yang tidak paham.

Indri menambahkan, meluruskan, kadang memberi cara yang lebih sederhana.

Adam mendengarkan.

Sesekali mencatat.

Lihat selengkapnya