Memori Rasa

Aditian Nugraha
Chapter #21

#21 — Kalimat di Balik Rendang

Sisa aroma rendang masih menggantung di ruang tengah, meskipun piring sudah lama dipindahkan dan meja kembali dipenuhi buku. Bau santan yang mengering bercampur rempah seperti tidak mau benar-benar pergi—menempel di udara, samar tapi cukup untuk diingat setiap kali menarik napas lebih dalam.

Suara kertas dibalik terdengar lebih sering sekarang. Pensil yang tadinya hanya digerakkan tanpa arah, mulai mengikuti garis-garis yang lebih jelas. Bahkan Rey, yang biasanya paling cepat kehilangan fokus, terlihat bertahan lebih lama dari biasanya—meskipun tetap dengan posisi duduk yang setengah malas.

“Ini kenapa bisa jadi minus sih?” gumamnya.

Ferly melirik.

“Karena dari awal salah.”

Rey menghela napas panjang.

“Ya… makanya gue nanya.”

Arga mendengus kecil, tapi tidak menambahkan apa-apa. Indri menjelaskan dengan suara yang tidak terlalu keras, cukup untuk didengar tanpa mengganggu yang lain. Adam mencatat, sesekali berhenti untuk memastikan ia tidak tertinggal.

Di ujung meja, Hanna tidak menulis.

Tangannya bergerak, tapi bukan di atas catatan.

Ia menggambar lagi.

Garisnya lebih lambat dari sebelumnya. Lebih hati-hati. Seolah setiap tarikan punya tujuan, meskipun belum jelas bentuk akhirnya.

Adam melirik sekilas.

Tidak lama.

Tapi cukup untuk melihat bahwa gambar itu… bukan sembarang.

Ada bentuk wajah.

Tidak lengkap.

Tapi mulai terbaca.

“Lu nggak capek?” tanya Adam pelan.

Hanna tidak langsung menjawab.

“Capek apa?” baliknya.

“Gambar terus.”

Hanna mengangkat bahu sedikit.

“Lebih capek kalau nggak gambar.”

Adam tidak melanjutkan.

Jawaban itu sederhana.

Tapi cukup.

Di luar, suara dari halaman mulai berkurang. Langkah kaki siswa lain terdengar menjauh, satu per satu. Cahaya yang masuk dari jendela berubah—tidak lagi tajam, lebih miring, lebih lembut.

Waktu berjalan tanpa harus disebut.

Rey akhirnya menyerah.

“Udah, gue nggak kuat,” katanya sambil menjatuhkan pensil.

Arga langsung menoleh.

“Baru juga segini.”

“Ya emang gue nggak kuat,” balas Rey.

Ferly menutup bukunya.

“Break lagi aja bentar.”

Indri mengangguk.

Adam meregangkan tangannya.

Hanna menutup bukunya tanpa suara.

Mereka tidak langsung berdiri. Tidak juga langsung berpindah tempat. Hanya duduk dengan posisi yang sedikit berubah, memberi ruang pada tubuh yang mulai lelah.

Rey melihat ke arah dapur.

“Masih ada nggak ya?” tanyanya.

“Lu pikir warung?” jawab Arga.

Rey tertawa kecil.

Adam berdiri.

“Gue lihat dulu ya,” katanya.

Ia berjalan ke dapur.

Lihat selengkapnya