Memori Rasa

Aditian Nugraha
Chapter #22

#22 — Soto Ayam Hari Paling Ramai

Uap tipis dari kuah panas naik perlahan, membawa aroma kunyit, serai, dan bawang goreng yang baru ditaburkan di atasnya. Tidak menyengat, tapi cukup untuk membuat perut bereaksi bahkan sebelum sendok menyentuh mangkuk.

Meja panjang di warung itu hampir penuh. Bangku plastik ditarik sedikit berisik, suara mangkuk bertemu meja terdengar berulang, dan percakapan dari berbagai arah saling bertumpuk tanpa benar-benar saling mengganggu.

Rey sudah duduk duluan, seperti biasa.

“Di sini, di sini!” teriaknya sambil melambaikan tangan.

Arga datang dengan langkah lebih santai, menarik kursi tanpa banyak bicara. Ferly menyusul, matanya sekilas menyapu tempat itu seperti memastikan semuanya cukup layak. Indri duduk di samping, rapi seperti biasanya.

Adam datang terakhir.

Bukan karena terlambat.

Lebih karena ia berjalan sedikit lebih pelan.

Hanna ada di belakangnya.

Tidak banyak orang memperhatikan.

Tapi bagi Adam—kehadirannya tetap terasa.

“Lima soto, Bang!” kata Rey cepat.

“Enam,” tambah Indri.

Rey menoleh.

“Lu yakin dia makan?”

Hanna tidak menjawab.

Indri hanya tersenyum kecil.

“Pesen aja.”

Rey mengangkat bahu.

“Iya deh.”

Mangkuk-mangkuk itu datang satu per satu. Kuah kuning jernih, suwiran ayam yang lembut, bihun yang terendam setengah, potongan daun seledri, dan taburan bawang goreng di atasnya. Di samping, ada jeruk nipis, sambal, dan kecap yang bisa ditambahkan sesuai selera.

Adam memperhatikan sejenak sebelum mulai.

Ia memeras sedikit jeruk nipis.

Aroma segar langsung naik.

Ia mencampur perlahan.

Sendok pertama masuk.

Rasanya ringan.

Hangat.

Tidak berat, tapi cukup untuk memenuhi.

“Enak,” kata Rey dengan mulut setengah penuh.

Arga mengangguk tanpa bicara.

Ferly makan pelan.

Indri menambahkan sedikit sambal.

Hanna—mencicipi tanpa ekspresi.

Adam melirik.

“Gimana?” tanyanya.

Hanna menelan pelan.

“Ringan,” katanya.

Adam mengangguk.

Jawaban yang… sesuai.

Percakapan berjalan tanpa dipaksakan. Tidak ada topik besar. Tidak ada pembahasan serius. Hanya hal-hal kecil yang mengalir begitu saja.

Tentang guru yang hari ini tidak masuk.

Tentang tugas yang belum selesai.

Lihat selengkapnya