Langkah kaki yang tadi seirama mulai terpecah satu per satu. Tidak ada perpisahan yang benar-benar dramatis—hanya anggukan singkat, lambaian tangan, dan kalimat ringan yang seolah cukup untuk menutup hari.
“Besok ya!” teriak Rey sambil menyalakan motornya.
Arga sudah lebih dulu melaju, tidak banyak bicara seperti biasa. Ferly menyusul setelah memastikan Indri sudah naik dengan aman di belakangnya.
Adam berdiri sebentar di pinggir jalan.
Hanna masih di sana.
Sedikit terpisah.
Seperti biasanya—tidak benar-benar ikut, tapi tidak juga pergi.
“Lu belum pulang?” tanya Adam.
Hanna menoleh pelan.
“Sebentar lagi.”
Adam mengangguk.
Ia tidak bertanya lagi.
Rey berhenti di depannya.
“Ayo,” katanya.
Adam naik di belakang.
Motor berjalan.
Suara mesin bercampur dengan riuh jalan yang mulai hidup. Lampu kendaraan menyala, memantul di aspal yang perlahan menggelap. Angin menyapu wajah, membawa sisa aroma kota yang tidak pernah benar-benar hilang.
Rey masih sempat bicara di tengah jalan.
“Besok jangan telat!” teriaknya.
Adam hanya mengangguk kecil.
Di satu lampu merah, mereka berhenti. Gerobak-gerobak kecil mulai ramai, lampu kuning temaram menerangi gorengan yang disusun rapi—tempe, tahu, bakwan, pisang goreng. Uap tipis masih naik dari beberapa yang baru diangkat.
“Mau?” tanya Rey.
Adam menggeleng.
“Enggak.”
Rey tetap turun sebentar.
“Bang, lima ribu.”
Ia kembali dengan satu bungkus kecil, memasukkannya ke kantong depan motornya.
Lampu berubah hijau.
Mereka lanjut.
Tidak lama kemudian, Rey menepi.
“Gue balik ya,” katanya.
Adam turun.
“Oke. Makasih.”
Rey mengangguk.
“Santai.”
Motor itu pergi.
Adam berdiri sendiri sekarang.
Jalan di depannya tidak terlalu ramai, tapi tidak sepi. Suara kendaraan lewat sesekali, tidak menetap. Lampu jalan menyala dengan jarak yang teratur, meninggalkan sela-sela gelap di antaranya.
Ia berjalan.
Langkahnya tidak cepat.
Tidak juga lambat.
Di tangannya, bungkus gorengan yang tadi dibawa Rey.
Ia membukanya pelan.
Uapnya sudah hilang.